Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dilema Dunia Guru

Dilema Dunia Guru

Lukman Ajis Syalendra*

Guru hari ini--dalam kategori sekolah formal—peran, nasib dan urgensi serta eksistensinya sudah jauh berbeda dengan aktivitas “menjadi” guru di jaman lampau, katakanlah jaman Orde Lama dan Orde Baru dalam konteks Indonesia. Dan, ukuran eksistensi guru hari ini tak bisa ditakar dengan pemaknaan nilai-nilai lama, baik tingkat bagaimana moralitasnya maupun bagaimana penghasilannya. Ada pergeseran peran guru hari ini seiring perkembangan jaman, modernitas, teknologi dan tuntutan hidup. Hak-hak guru hari ini berbeda dengan hak-hak guru di jaman lampau. Kewajiban-kewajibannya pun berbeda. Ini khusus menyangkut guru dalam pengertian pendidik di sekolah-sekolah formal.

Guru dalam pemaknaan umum yang konteksnya lebih luas yang tidak direduksi sebatas guru sekolah, secara semiotik kebudayaan menarik untuk dikaji sebenarnya dan bisa diselaraskan dengan peran guru secara formal dalam konteks kekinian. Socrates adalah seorang guru di abad ebelum Masehi. Ia menjadi guru filsafat kehidupan dan sanggup melahirkan murid bernama Plato. Dan Plato sendiri melahirkan Aristoteles. Relasi guru-murid yang dibangun antar mereka cukup menarik dalam konteks mengintensifikasi kehidupan. Nabi Isa dalam catatan sejarah baik terminologi islam maupun kristiani memiliki dua belas murid. Ke duabelas murid Isa itu kemudian membawakan pesan-pesan kerosulan Isa secara berbeda-beda. Begitu pun nabi Muhammad S.A.W yang tak terjebak pada pengajaran relasi istilah murid dengan guru ketika beliau mengajarkan pesan Islam. Muhammad justru cenderung membangun komunikasi pembelajaran dalam terminonogi “sahabat” bukan relasi guru-murid. Sebagaimana yang kita ketahui bersama ada nama-nama sahabat nabi seperti Umar, Usman, Ali, Abu Bakar, dll. Mereka senantiasa disebut “sahabat” dalam sejarah Islam dan tidak sekalipun menggunakan istilah guru-murid.

 

Suatu pengistilahan yang kontekstual sebenarnya dalam konteks kurikulum formal sekarang ini dimana yang dikuatkan adalah bangunan hubungan yang dialektis partisipatif. Pengajaran diganti dengan pembelajaran. Secara semantik pembelajaran berarti sama-sama bergiat belajar baik guru dan murid. kegiatan pembelajaran terasa hakekatnya sebuah hubungan persahabatan. 

 

Soekarno lain lagi memberikan pemaknaan terhadap guru seperti dia kemukakan gagasannya dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” di mana Soekarno benar-benar ingin menempatkan guru pada kemulian karakter dalam membina bangsa dan kelangsungan kemanusiaan secara bermoral. Di masa kebangunan, maka seharusnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin, menjadi guru. Pahlawan politik menjadi gurunya massa yang mendengarkan pidato-pidatonya dan mengikut pimpinan taktik perjuangannya, jurnalis menjadi gurunya pembaca-pembaca surat kabarnya, bedrifsleider menjadi gurunya pegawai-pegawai yang di bawahnya, mas Lurah menjadi gurunya masyarakat desa yang di bawah pengawasannya, tukang kopi menjadi gurunya anak istri yang membantu pekerjaannya – semua orang menjadi gurunya semua orang. ..

 

Pemimpin! Guru! Alangkah haibatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam sekolah, menjadi guru dalam arti yang spesial, yakni pembentuk akal dan jiwa anak-anak! Terutama sekali di zaman kebangunan! Hari kemudiannya manusia adalah di dalam tangan si guru itu, -menjadi Manusia Kebangunan atau bukan Manusia kebangunan...

 

Sementara itu, guru formal hari ini adalah guru yang “profesional”. Coba saja kita baca dalam amanat Undang Undang Guru dan Dosen 14 tahun 2005 pasal satu ayat satu: guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sementara itu maksud dari profesional itu sendiri dijelaskan dalam pasal yang sama ayat empat: profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. 

 

Dengan gamblang dijelaskan dalam penjelasan Undang-Undang Guru dan Dosen itu bahwa kehendak menjadikan guru secara profesional semata-mata adalah niat pemerintah untuk meningkatkan kualitas manusia. Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. 

 

Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional mempunyai misi untuk melaksanakan tujuan Undang-Undang ini sebagai berikut: 

 

1) mengangkat martabat guru; 2) menjamin hak dan kewajiban guru; 3) meningkatkan kompetensi guru; 4) memajukan profesi serta karier guru; 5) meningkatkan mutu pembelajaran; 6) meningkatkan mutu pendidikan nasional; 7) mengurangi kesenjangan ketersediaan guru antardaerah dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik, dan kompetensi; 8) mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah; dan 9) meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. 

 

Berdasarkan visi dan misi tersebut, jelaslah kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sebuah tugas yang berat diletakan di pundak guru untuk mengukuhkan sebuah nilai dan karakter bangsa.

 

Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. 

 

Untuk meningkatkan penghargaan terhadap tugas guru, kedudukan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat pendidik. Sertifikat tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru sebagai tenaga profesional. Dalam melaksanakan tugasnya, guru harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.

 

Kedudukan guru sekarang ini telah dinaungi sebuah undang-undang yang bisa memperkokoh kedudukan guru itu sendiri. Guru hari ini sudah tak pantas lagi disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sebab pada kenyataannya berbagai kesejahteraan terus diupayakan pemerintah dengan dalih demi peningkatan kualitas pendidikan. Logika materialisme yang begitu kuat sebenarnya menjadikan posisi guru itu sendiri berada dalam kondisi sebuah dunia dilema. Alih-alih profesionalitas, kesejahteraan terus ditingkatkan. Tapi di sisi lain muncul permasalahan sosial di mana dunia guru dipandang sebagai dunia yang menjanjikan secara materi. maka banyak masyarakat yang kemudian berbondong-bondong meminati dunia guru dengan niatan yang bisa dipertanyakan antara keikhlasan membangun sebuah bangsa lewat pembelajaran atau demi kesejahteraan semata di tengah kepungan ekonomi global yang kian krisdis. Guru berada dalam fokus wacana yang penting. Guru PNS hari ini bahkan belum PNS pun difasilitasi oleh negara secara materi dengan istilah ada GBPNS, guru bukan PNS yang sama-sama dibiayai uang negara alih-alih mereka bekerja secara profesional dan bertanggungjawab dalam mendidik anak bangsa.

 

Tapi ibarat perut yang kelewat kenyang. Rasa berkecukupan pun mulai menyerang. Penyakit kerja ele-elean datang. Jelas, dengan kesejahteraan yang meningkat tidak serta-merta kualitas pembelajaran pun meningkat. Justru berbeda dengan lampau ketika eksistensi guru dimaknai sebagai pembawa pesan moral yang ikhlas dalam bekerja, eksistensinya banyak melahirkan generasi-generasi pemikir bangsa. contohnya HOS Cokroaminoto yang melahirkan Soekarno. Guru-guru di jaman sekarang bisa jadi turut ambil bagian dalam melahirkan koruptor-koruptor muda.

 

Keteladanan guru pun layak dipertanyakan ketika ada guru yang dengan tanpa perasaan berdosa membuat data palsu demi lulus portofolio untuk sertifikasi. Mengapa demikian karena ada tuntutan materialisme yang menguat. Itu pulalah ekses dari profesionalitas di sisi lain bahwa kemudian guru menjadi orientasinya materi.. Sekarang profesi guru adalah hal yang diminati masyarakat kita karena dianggap menjanjikan kesejahteraan. Yang pada akhirnya membanjirlah kualitas-kualitas guru bermental materi bukan moral hati nurani.

 

Pemerintah dalam konteks membangun pencitraan eksistensi dan peran guru dalam memajukan bangsa telah menurunkan suatu regulasi yang menyangkut perlindungan berkeadilan kepada guru, sudah tepat. Tinggal bagaimana kuasa teks Undang-Undang itu sepenuh-penuhnya dijadikan arah tuju pendidikan. Pemerintah sudah cukup responsif memajukan dunia guru seiring kemajuan jaman dan teknologi yang menuntut dunia keguruan berubah. Dulu belum ada yang namanya sertifikasi guru sekarang coba dibakukan. persoalan berhasil dan tidaknya nanti pada peningkatan kualitas guru itu tergantung pada tingkat evaluasi yang tak bisa ditakar secepat mungkin perlu adanya suatu proses yang berkesinambungan.

 

Adapun ketika guru dalam tiga sisi antara mewujudkan profesionalitas, kemalasan akibat kesejahteraan meningkat (perut kenyang) dan tata laku moralitas yang hendaknya menjadi panutan seperti konsep guru di jaman lampau pada akhirnya berpulang pada individu masing-masing yang memutuskan untuk menerjuni dunia sebagai guru (pendidik). Jangan sampai salah niat, memasuki dunia guru targetannya hanya materi.  Dua puluh persen dana APBN untuk pendidikan sungguh akan membius wacana masyarakat seolah-olah kumpulan materi dan kesejahteraan ada pada sektor pendidikan. Maka tak heran masyarakat impian cenderung menganggap dunia guru hanya dilihat pada materinya saja, tidak pada peran dan pesan moral guru itu sendiri dalam mendidik generasi bangsa. Dapat kita saksikan, demi tujuan yang tak sehat itu banyak anggota masyarakat kita yang cepat-cepat mengambil kuliah asal-asalan yang penting sarjana tanpa memperhitungkan kualitas skill dan kapasitas keilmuan. Yang penting gelar yang kejarannya memasuki dunia guru dimana dipersyaratkan berpendidikan sarjana, lalu ikutan tes CPNS dan pakai uang 75 juta. Jika itu terjadi adalah hal yang naif dan bahkan akan merusak dunia keguruan itu sendiri. Lihatlah hari ini, jika banyak guru yang tak berkualitas tetapi ambisi materialistiknya kelewat batas akibat niat yang salah kaprah tanpa batas.Maka kalau demikian bahaya yang akan melanda dunia keguruan kita.

 

Ada satu nilai positif dengan jaman lampau dimana anggota masyarakat  yang memutuskan terjun ke dunia guru, jelas orientasinya bukan materi tetapi kesadaran dan keikhlasan dalam membangun dan mendidik suatu generasi bangsa. 

 

Marilah kita kembali meluruskan niat kita menjadi guru harus secara berkesadaran bertujuan mulia bukan karena iming-iming bahwa dunia keguruan hari ini adalah dunia yang menjanjikan secara gaji, tunjangan dan insentif-insentif lainnya yang tak terbayangkan di jaman lampau. Pentingnya meluruskan niat bukan berarti rela menerima apa adanya seperti lampau, melainkan mesti sanggup menyelaraskan antara hak dan kewajiban menjadi seorang guru. Guru profesional adalah guru yang menempati ranah semantik peradaban yang adiluhung. Batinnya kehidupan. Menarik!

 

Lukman Ajis Syalendra*)Penulis adalah sastrawan dan pemerhati pendidikan

 

 

 

 

back to top