Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

Difabel dan diskriminasi seleksi Aparat Sipil Negara

Difabel dan diskriminasi seleksi Aparat Sipil Negara

Siaran Pers


Yogyakarta-KoPi- Tahun 2014 pemerintah membuka pendaftaran seleksi aparat sipil Negara (ASN) untuk 100,000 rakyat Indonesia di berbagai bidang. Pemerintah juga melengkapi seleksi ASN ini dengan memberikan kuota khusus bagi difabel. Sejumlah 300 difabel akan diterima menjadi ASN dan akan ditempatkan sesuai dengan formasi yang mereka pilih.

Namun, hal ini tidak serta-merta diterima oleh kaum difabel. Berbagai reaksi pun muncul mewarnai bergulirnya kuota khusus ini. Para difabel menilai bahwa dalam penyelenggaraan kuota khusus ini masih banyak sekali terdapat diskriminasi dan pelanggaran terhadap undang-undang yang berlaku.

UU No 4 tahun 1997 menyatakan bahwa tiap instansi atau prusahaan yang mempekerjakan 100 orang, maka 1 orang di antaranya harus difabel. Ini berarti bahwa pemerintah harus menyediakan kuota khusus untuk difabel sejumlah 1,000.

Selain itu, berdasarkan pengamatan para difabel terhadap table kuota khusus ASN 2014 juga ditemukan hal-hal yang sangat diskriminatif.
Pengadaan kuota khusus seleksi ASN 2014 saat ini hanya terbatas untuk difabel daksa, rungu-wicara, dan netra. Sedangkan jenis-jenis difabilitas lain seperti celebral palcy, difabel psiko social, mental retardasi, dan sebagainya masih belum terkofer. Hal ini sangat bertentangan dengan UNCRPD yang telah diratifikasi oleh Indonesia pada 2011.

Selain itu, para difabel juga menyoroti buruknya kerja pemerintah dalam menangani difabel yang mengikuti tes seleksi CPNS. Banyak hal yang tidak menguntungkan difabel sering terjadi saat pelaksanaan seleksi CPNS (sekarang ASN). Lokasi tes ujian yang tidak aksesibel, keterlambatan pendamping, perangkat yang belum aksesibel bagi difabel, dan sebagainya. Hal ini diungkapkan oleh para difabel yang pernah mengikuti ujian seleksi CPNS pada tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan paparan di atas, maka Aliansi Pejuang Hak-Hak Difabel (ALPHADI) akan menyelenggarakan aksi damai untuk menyuarakan hak-hak difabel dalam kuota khusus seleksi ASN 2014. Aksi tersebut akan dilaksanakan pada hari Jum’at, 17 Oktober 2014, dengan rentetan aksi sebagai berikut:

1.    Pukul 08:00 WIB para difabel akan melaksanakan aksi di halaman gedung Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Yogyakarta, Jl. Magelang KM 7,5.

2.    Pukul 10:00 difabel akan melanjutkan aksi damai di perempatan kantor pos pusat Yogyakarta.

Aksi damai ini akan menyuarakan tuntutan sebagai berikut:

1.    Hilangkan kategori jenis difabilitas pada tiap-tiap formasi kuota khusus ASN 2014.
2.    Penuhi kouta untuk difabel menjadi 1% atau 1000 difabel menjadi ASN.
3.    Sediakan sarana yang layak dalam penyelenggaraan kuota khusus seleksi ASN 2014 yang meliputi lokasi yang aksesibel, pendamping yang professional, dan perangkat tes yang aksesibel.

back to top