Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Memulai usaha dari menjual telor, Didit bertemu sampah plastik yang membuatnya menjadi cukup sukses di dunia usaha. Saat ini, tiap bulan ia mampu meraup utung bersih sekitar 100 juta per bulan.

KoPi- Didit Nugroho (41) tengah bekerja membersihkan mesin pemotong ketika KoranOpini.com datang ke gudangnya. Beberapa karyawan terlihat duduk santai dan menikmati makan siang. Gudang itu berukuran sekitar seribu meter persegi yang dipenuhi tumpukan karung plastik besar dan sampah-sampah plastik berserakkan.

Wajah Didit terlihat sumringah ketika melihat tamu yang datang. Beberapa saat ia tampak terburu turun dari atas mesin perajah plastik raksasa miliknya.

“Hai, bentar ya, saya matikan dulu mesinnnya. Saya Cuma mencuci mesinnya biar bersih,” teriaknya dari jarak sepuluh meter. Setelah mempersilakan duduk, Didit minta ijin untuk mandi dan sholat dhuhur.

Pak Dit, para karyawannya yang berjumlah lebih dari 100 orang memanggilnya seperti itu. Para karyawan ini kebanyakan adalah penduduk di sekitar Desa Blondo, Magelang. Mereka bekerja sebagai penyortir sampah-sampah plastik . Memilah menjadi beberapa jenis yang kemudian dirajang dalam mesin besar. Dari hasil rajangan itu kemudian disetorkan pada pabrik-pabrik pengolah plastik atau dieksport ke beberapa negara. Para karyawan itu menerima upah dengan sistem borongan dan bulanan. Rata-rata mereka mendapatkan upah sekitar  Rp. 200.000; per minggu. Sementara karyawan di pengolahan mesin menerima upah bulanan sekitar Rp. 2. 200.000;

Pengolahan rajang sampah plastik Didit saat ini baru berusia tiga tahun terhitung sejak tahun 2011. Usia yang termasuk muda dalam sebuah angkatan usaha.

“Saya memutuskan beralih ke usaha ini setelah mempertimbangkan prosppeknya bagus.” Katanya.

Menurut Didit, usaha sampah plastik ini memiliki banyak kelebihan dibanding denngan usaha lainnya, termasuk berdagang telor yang sempat ia tekuni puluhan tahu lalu.

“Banyak orang tidak menganggap usaha ini karena dianggap kotor. Itu kelebihan pertama. Karena tidak banyak dilirik orang, usaha sampah plastik ini menjadi usaha yang relatif tak memiliki persaingan. Kedua, kita tidak kesulitan mendapatkan sumber bahannya karena tiap hari sampah plastik ada. Dan ketiga, usaha ini menjadi kita ikut membantu menjaga lingkungan hidup kita terjaga. Bayangkan kalau sampah plastik tidak diolah lagi, pasti bumi kita bisa mandul karena plastik tidak bisa diurai tanah bumi.”

Dalam ukuran usaha kecil menengah, usaha sampah plastik Didit termasuk sukses dengan produksi rata-rata perhari mencapai 2 hingga 3 ton per hari. Dalam sebulan ia mampu mengirim total sekitar 60 hingga 70 Ton ke beberapa pabrik pengolah biji plastik atau untuk kebutuhan ekspor. Dari jumlah itu, ia mampu meraup untung hingga Rp. 100.000.000;

“Alhamdulillah,” katanya, “ tapi semua itu bukan semata-mata usaha saya, semua atas izin Tuhan. Bersedekah itu tidak membuat kita menjadi miskin. Itu saya imani bersama keluarga saya. Itu semua membuat mudah usaha saya.

Meskipun mengaku tidak ingin memperkaya diri sendiri, Didit sudah berencana mengembangkan usahanya di beberapa daerah di luar Jawa.

back to top