Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Didit, pengusaha sampah terbesar di Magelang

Memulai usaha dari menjual telor, Didit bertemu sampah plastik yang membuatnya menjadi cukup sukses di dunia usaha. Saat ini, tiap bulan ia mampu meraup utung bersih sekitar 100 juta per bulan.

KoPi- Didit Nugroho (41) tengah bekerja membersihkan mesin pemotong ketika KoranOpini.com datang ke gudangnya. Beberapa karyawan terlihat duduk santai dan menikmati makan siang. Gudang itu berukuran sekitar seribu meter persegi yang dipenuhi tumpukan karung plastik besar dan sampah-sampah plastik berserakkan.

Wajah Didit terlihat sumringah ketika melihat tamu yang datang. Beberapa saat ia tampak terburu turun dari atas mesin perajah plastik raksasa miliknya.

“Hai, bentar ya, saya matikan dulu mesinnnya. Saya Cuma mencuci mesinnya biar bersih,” teriaknya dari jarak sepuluh meter. Setelah mempersilakan duduk, Didit minta ijin untuk mandi dan sholat dhuhur.

Pak Dit, para karyawannya yang berjumlah lebih dari 100 orang memanggilnya seperti itu. Para karyawan ini kebanyakan adalah penduduk di sekitar Desa Blondo, Magelang. Mereka bekerja sebagai penyortir sampah-sampah plastik . Memilah menjadi beberapa jenis yang kemudian dirajang dalam mesin besar. Dari hasil rajangan itu kemudian disetorkan pada pabrik-pabrik pengolah plastik atau dieksport ke beberapa negara. Para karyawan itu menerima upah dengan sistem borongan dan bulanan. Rata-rata mereka mendapatkan upah sekitar  Rp. 200.000; per minggu. Sementara karyawan di pengolahan mesin menerima upah bulanan sekitar Rp. 2. 200.000;

Pengolahan rajang sampah plastik Didit saat ini baru berusia tiga tahun terhitung sejak tahun 2011. Usia yang termasuk muda dalam sebuah angkatan usaha.

“Saya memutuskan beralih ke usaha ini setelah mempertimbangkan prosppeknya bagus.” Katanya.

Menurut Didit, usaha sampah plastik ini memiliki banyak kelebihan dibanding denngan usaha lainnya, termasuk berdagang telor yang sempat ia tekuni puluhan tahu lalu.

“Banyak orang tidak menganggap usaha ini karena dianggap kotor. Itu kelebihan pertama. Karena tidak banyak dilirik orang, usaha sampah plastik ini menjadi usaha yang relatif tak memiliki persaingan. Kedua, kita tidak kesulitan mendapatkan sumber bahannya karena tiap hari sampah plastik ada. Dan ketiga, usaha ini menjadi kita ikut membantu menjaga lingkungan hidup kita terjaga. Bayangkan kalau sampah plastik tidak diolah lagi, pasti bumi kita bisa mandul karena plastik tidak bisa diurai tanah bumi.”

Dalam ukuran usaha kecil menengah, usaha sampah plastik Didit termasuk sukses dengan produksi rata-rata perhari mencapai 2 hingga 3 ton per hari. Dalam sebulan ia mampu mengirim total sekitar 60 hingga 70 Ton ke beberapa pabrik pengolah biji plastik atau untuk kebutuhan ekspor. Dari jumlah itu, ia mampu meraup untung hingga Rp. 100.000.000;

“Alhamdulillah,” katanya, “ tapi semua itu bukan semata-mata usaha saya, semua atas izin Tuhan. Bersedekah itu tidak membuat kita menjadi miskin. Itu saya imani bersama keluarga saya. Itu semua membuat mudah usaha saya.

Meskipun mengaku tidak ingin memperkaya diri sendiri, Didit sudah berencana mengembangkan usahanya di beberapa daerah di luar Jawa.

back to top