Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Di samping seng penampungan pedagang pasar....

Di samping seng penampungan pedagang pasar....

Jogjakarta-KoPi| Suasana menjelang sore itu sinar matahari memancar begitu terik. Aktivitas pasar pukul 14.00 WIB itu sudah semakin lesu. Bahkan Pedagang-pedagang yang terdapat di lokasi penampungan revitalisasi pasar Kranggan pun sudah menutup jualannya.

Namun berbeda dengan nenek berbaju ungu dengan jarit batiknya dia masih setia menunggu pembeli sembari duduk di dingklik. Nenek kelahiran 1944 itu duduk bersandar di seng penampungan sementara pedagang.

Dalam kesetiannya menunggu pembeli, nenek yang biasa disapa Mbah Dal ditemani dengan dua keranjang berisi salak yang penuh, satu keranjang timun dan timbangan. Suasana yang sepi itu memang tidak memungkinkan membuka obrolan dengan pedagang lain.

Suara riuhnya pasar sudah semakin lirih, hanya ada canda antara bapak-bapak tukang ojek di seberang jalan sana. Koranopini.com membuka obrolan dengan nenek usia 71 tahun ini. Mbah Dal ramah menawari jualannya.

“Salak yang ini sekilo Rp 10.000 , yang ini sekilonya Rp 9.000. Ini salaknya manis bisa dicicipin”, kata Mbah Dal.

Mbah Dal mengaku menjual salak sisa panen Desember tahun 2014 lalu yang belum laku. Dia mengeluhkan keadaan sepi pembeli membuat salak jualannya masih menumpuk hingga saat ini.

“Jualan salak sepi pembeli, paling banyak sehari 10 Kg, paling kalau ada yang beli 2 atau 3 Kg,” keluhnya.

Walaupun untung jualannya sedikit Mbah Dal masih semangat bekerja. Di usinya yang semakin senja Mbah Dal melakoni hidup sendiri dengan bergantung pada jualannya.

Setiap hari Mbah Dal menempuh jarak seperempat jam naik bus ke pasar sendirian. Anak-anaknya sudah hidup berkeluarga di tempat yang berbeda. Bahkan salah satu cucunya sekolah di UGM.

“Saya ke pasar berangkat jam setengah delapan, pulangnya nanti jam empat sore naik bis, rumah saya di Sleman dekat pengadilan negeri, anak-anak saya sudah keluarga rumahnya beda desa”, papar Mbah Dal.

Di tengah proses revitalisasi Pasar Kranggan, Mbah Dal berjualan di samping tempat penampungan pedagang. Revitalisasi pasar secara langsung maupun tidak langsung tidak berkepentingan dengan tempat jualan Mbah Dal. Pasalnya Mbah Dal bukan termasuk pedagang resmi pasar.

Mbah Dal juga menyadari statusnya, sehingga dia hanya bereinginan sangat sederhana salak jualannya laku sehingga banyak pembeli.

|Winda Efanur FS|

back to top