Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi
Surabaya – KoPi | Advokat Sudiman Sidabukke menyatakan seharusnya di depan hukum semua orang memiliki kedudukan yang sama. Namun, karena seseorang punya jaringan dan kenalan, ia bisa menjadi istimewa di sebuah persidangan. Hal itulah yang terjadi pada kasus nenek Asiyani.
 

Berbicara dalam Seminar Nasional Konsolidasi dan Prospek Penegakan Hukum Pasca Konflik Kelembagaan di Universitas Surabaya (26/3), Sudiman mengatakan tidak salah jika publik melihat kasus Asiyani sebagai hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Mereka bertanya-tanya mengapa penangkapan hanya dilakukan pada mereka masyarakat miskin?

“Sebenarnya alasan hukum dari tindak penangkapan adalah adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Pada orang-orang kaya kekhawatiran itu jarang terjadi, karena bisnis mereka diketahui publik. Mau lari ya asetnya bisa disita. Tapi pada orang miskin, mereka kan tidak punya apa-apa, jadi penegak hukum khawatir mereka melarikan diri,” jelas Sudiman.

Karena itulah penegak hukum perlu memiliki kepekaan hati nurani. Jika tidak demikian, masyarakat akan semakin kehilangan rasa kepercayaan pada hukum. Mereka telah lama melihat para penegak hukum di berbagai tingkat justru melakukan pelanggaran hukum. 

“Fenomena ini memperlihatkan bahwa prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho sudah dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

 

back to top