Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

(Di) hati setetes

(Di) hati setetes

Terkurung oleh batas. Aku menahan harap tercambuk cemas. Berdiri di pinggirannya menahan isak. Ribuan sayap cinta memburai diantara hirup rindu yang menyesak.


 Ay


Aku terpejam ketika menuliskan setiap detik perjalanan. Ketika suaramu menyembuhkan keterasinganku pada dunia. Atau, ketika secubit biru membekas di kulit yang menghamba karenamu. Namun aku kini, seutas mimpi tak terbangun lagi.

Karena pada kalimat terakhir adalah akhir yang tidak memiliki dasar. Tidak memiliki jarak. Tidak bisa dipijak. Aku memaksa bungkam, bukan sebab hati menyerah. Yang kutahu, begitulah cara mengasihi. Lalu, tidak ada lagi yang tersisa. Kecuali rintih membaca rintih, sedu tersedu keluh. Kemudian kulalui perjalanan sedetik seusia seribu tahun. Pada setiap pergantiannya adalah kegelisahan yang runcing. 

Aku pernah berkata kepadamu, di sampingmu saat senja, betapa jantungku mendetak bersama detak jantungmu. Aku tidak pernah merencanakan demikian. Tidak pernah menghitungnya dalam pikiran. Aku merasakannya, hidup terus hidup terus hidup berdetak. Detakmu adalah detakku.  

Dini hari ini, saat menuliskan betapa aku merindukanmu, aku berperjuang menjadi hampa yang  tenang. Namun tetap saja, aku bersolek dengan apapun darimu. Aku berdandan agar kulekat baju dan lingkaran waktu darimu. Itu serasa, jemariku menggenggam jemarimu. 

Aku ingin sekali mendengar suaramu. Ingin sekali berbincang dan menggodaimu. Atau juga, mengingatkamu bahwa waktu makan siang sudah datang. Jangan terlambat, jangan melewatinya. Lalu, seperti kerlip kunang-kunang. Kamu memamerkan coklat dan es krim. Jika begitu, betapa gemasnya kepadamu. Jewer saja kupingmu. Jika begitu lagi, kugigit hidungmu, pipimu dan bibirmu.

Kini, hati ini tinggal setetes. Tidak akan memahami keadaan ini. Sebab seujung sunyiku, adalah seribu pekik memanggilmu. Sebab seujung sunyiku adalah seribu degup kehilanganmu. Seujung sunyi ini seujung tanpa ujung. Di hati. 

back to top