Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dhimas hampir gagal ke Amerika karena tidak ada anggaran

Dhimas hampir gagal ke Amerika karena tidak ada anggaran

Jogjakarta-KoPi| Prestasi Dhimas Prasetyo menjuarai special olympics (olimpiade spesial) internasional di Los Angeles, Amerika membanggakan bagi Indonesia.

Namun di balik kebanggaan tersebut justru Assessor Sekolah Luar Biasa, Dr. Wiji Suparno merasa prihatin. Wiji menjelaskan keprihatinan disebabkan karena Pemda DIY belum memberikan dukungan penuh terhadap keolahragaan atlet khusus.

"Waktu Dhimas tiba di bandara Indonesia disambut sekolah, herbal life, keluarga dan teman-temannya. Pihak Pemda tidak ada," terang Wiji.

Tidak hanya dukungan moril saja, secara nyata Wiji mengharapkan dukungan anggaran dari Pemda DIY. Pasalnya keempat atlet Jogja yang berkesempatan bertanding di Amerika terancam gagal. Mereka terkendala mekanisme anggaran di wilayah Pemda.

Menurut Wiji kendala yang terjadi Pemda DIY selama ini belum mengalokasikan olimpiade spesial hingga tingkat dunia. Anggaran atlet olimpiade hanya sampai tingkat daerah.

"Kendala biasanya diselenggarakan di daerah. Special olympics ini sampai tingkat dunia. Biasanya baru difasilitasi tingkat nasional. Pemda belum ada anggaran, anggaran untuk lomba harus direncanakan setahun sebelumnya," jelas Wiji.

Hal senada juga diungkapkan ayah Muntadim (57) yang  mendorong pihak Pemda untuk serius memajukan olahraga atlet khusus.
"Semoga dinas terkait dan Pemda lebih memperhatikan atlet SLB," tutur Muntadim.

Untuk menutupi anggaran, pihak sekolah SLB Pembina aktif mencari sponsor. Atas dukungan salah satu sponsor makanan nutrisi dan kesehatan, keempat atlet berhasil terbang ke Los Angeles.

Alhasil jerih payah merela terbayar lunas ketika Dhimas menyabet tiga emas dari olimpiade spesial di Los Angeles. |Winda Efanur FS|

back to top