Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Demokrasi diantara kita

Demokrasi diantara kita

DS Priyadi


Hajat besar bangsa Indonesia dalam memilih pemimpinnya telah ditunaikan. Kita semua di ambang lega dan bersiap menunggu sang pemimpin baru. Pada taraf penghitungan sementara, dua kandidat yang sengit bersaing beroleh suara yang hampir-menghampiri dalam jumlah. Dan rakyat siap berbaris pada sisi yang arif dan gembira. Siapapun yang terpilih, tak akan mempermasalahkannya.

Tapi persoalan lain muncul. Selisih tipis suara kedua pasangan itu tiba-tiba berubah menjadi lemparan dadu yang kita tunggu dengan was-was. Kita hanya bisa terpekur menduga-duga dari mana itu datangnya. Ada gaduh yang belum rampung, yang memprodusir syak wasangka dalam diri kita. Dan di titik ini kita mulai menyadari, bahwa kilau kemilau pesta demokrasi selama ini rupanya bukan hajat mulia rakyat semata. Kegaduhan itu menginsyafkan, betapa rakyat yang selama ini ditimang-timang dengan wewangian pujian dan kesetiaan, bukanlah satu-satunya alamat segala rayuan.

Demokrasi yang kita kukuhi, yang barangkali secara diam-diam telah lama kita ragukan, menjadi ajang jabat tangan siluman yang sarat dengan aneka warna kepentingan. Rakyat dalam hal ini tidak menjadi kiblat pengabdian yang dihormati dan didewasakan, sebaliknya justru diarahkan dan diseragamkan sebagai sekedar penggemar. Konvoi-konvoi, seremonial-seremonial, ritual-ritual politik, dan segala macam bentuk unjuk massa hampir-hampir kesemuanya penuh sesak dengan retorika-retorika mulia namun melenceng dari koridor pengabdian dan proses pendewasaan.

Dan inilah wajah sejarah yang berulang-ulang mewarnai lanskap demokrasi kita. Bahwa rakyat selalu dimentahkan oleh elit penguasanya dengan mobilisasi massa yang mengekalkan kita bertaklid buta pada hal-ihwal yang bombas dan menyilaukan. Adakah kita akan terus-menerus merestui pengdangkalan ini? Sementara kita tahu bahwa hiruk-pikuk palsu yang sedemikian itu hanya mampu melahirkan masyarakat yang kontra produktif, ringkih dalam daulat, mandul kedewasaan dan ujung-ujungnya hanyut dalam polarisasi selera yang gampang mencibir, mencaci, serta membakar apa saja yang dianggap berseberangan.

Kita perlu nyali yang memadai guna membangun diri menjadi masyarakat yang dewasa dalam peradabannya. Kita harus bahu-membahu memupuk persatuan dan peseduluran agar tak gampang diceraiberaikan. Siapapun pemimpin terpilih yang syah, musti ditaati dan dihormati sejauh ia berada dalam koridor memperjuangkan kepentingan kemaslahatan. Kita toh tahu semuanya itu. Tapi persoalannya memang menjengkelkan, karena kita senantiasa mengendus aroma perselingkuhan yang menyesakkan. Dalam kabut yang jauh kini kita bagai menatap wajah melas demokrasi Indonesia Raya yang tersandera.

Lagi-lagi kita dipaksa tabah kendati tanpa berbenah. Demokrasi yang kita junjung, yang konon menghormati sakralitas rakyat sebagai penguasa tertinggi mulai menunjukkan wajah asli. Banyak paradoks di sana-sini. Di satu sisi rakyat adalah pewaris syah kemakmuran dan kesejahteraan, namun pada faktanya selalu mengidap fobia untuk turut ambil bagian atas apa yang menjadi haknya. Seperti yang sudah-sudah, akankah kita hanya dibius dengan perayaan-perayaan yang diam-diam meninggalkan kita sendirian berkeleleran?

Dan kita kini disuguhi drama keren kalah-menang kontestasi kepemimpinan yang demikian mendebarkan. Kita dibuat pekewuh buat mencurigai segala yang terjadi. Kita dibikin gagap karena di sana-sini hanya menemui sumber rujukan yang miskin kesalehan. Kita dihalau buat memberhalakan media-media yang tak lebih dari beo kelangenan yang pintar menirukan kata sang tuan.

Kita memang tak punya pilihan. Tapi kita harus berusaha menatap segalanya dengan hati terbuka. Kita harus hijrah dari fatamorgana curhat-curhat murahan menuju realita yang sesungguhnya. Kita tak ingin berakhir tragis menjadi gadis manja putus cinta yang sesenggukan memeluk bantal dalam kamar. Menjadi bocah cilik yang merengeki balon warna-warni. Menjadi si bawel yang tak putusnya berbicara atas segala yang terkurbankan. Ya. Kita kini menjadi hakim-hakim yang belajar memutus dengan adil. Kita akan bersabar menyaksikan sejarah perkelahian kepemimpinan yang serba heroik ini. Kita akan menjadi saksi atas segala yang terjadi.

Sedang para bijak bestari mengatakan, bahwa tiap-tiap pemimpin akan memikul salib pengurbanan yang menggetarkan. Bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang tak terperikan. Dan tak ada tanggung-jawab yang gampang nilainya, apalagi memimpin Indonesia Raya yang saat ini tertimbun oleh akumulasi persoalan rezim demi rezim. Akumulasi itu demikian menjulang sehingga tak akan mempan digertak dengan jargon-jargon kampanye yang selalu wangi dan baik hati. Sementara kampanye telah berlalu. Rakyat sebagai sang pemberi mandat mesti menyadari betapa kita semua menghadapi jalan panjang yang menuntut berlapis-lapis kerja keras dan kesabaran untuk mewujudkan setiap jengkal harapan yang dicita-citakan.

Kita mungkin kuatir, tapi tak bisa mangkir. Adakah mandat kita akan terdampar pada bumi cita-cita yang semestinya? Kita tak tahu persisnya. Tapi di manapun mandat itu berada, di situlah ladang-ladang subur harapan yang bersahaja kembali terbuka. Di situlah medan pengabdian beroleh ruangnya. Di situlah anak-anak kita bermain dan belajar mengeja. Di situlah buruh-buruh harus kembali tekun bekerja. Di situlah para fakir kembali merisaukan hari-harinya. Di situlah para petani akan kembali membenahi sistim irigasinya. Di situlah para cendekia menghaturkan sepenuh dedikasinya. Di situlah kita semua akan menerjemahkan lagi dan lagi hakikat kemerdekaan kita.

Karena kita telah terbiasa menerima segala ihwal yang tak sempurna. Di tanah manapun kita siap patuh dan menghormati tiap-tiap yang syah. Tapi bukan berarti lantas kita mandul dalam cemburu. Bukan berarti kita mengikhlaskan diri sekedar menjadi statistika angka-angka yang abstrak. Bukan berarti kita buta terhadap sepak terjang segala bentuk pembohongan. Bukan berarti kita memuja mistifikasi penderitaan dan kemiskinan. Justru dalam itu kita akan teliti dan jaga hak-hak kita dengan sebenar-benarnya. Kita tak cukup hanya canggih melampaui segala hal yang terjal namun juga harus berdaya merumuskan dan memetik hikmah sejarah.

Mungkin kita berada di garis kekalahan yang mengharukan. Tak mengapa. Toh kekalahan bukanlah suatu kutukan yang harus diratapi dan disesalkan berpanjang-panjang. Toh jalan pengabdian senantiasa terbuka bagi siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Setidaknya kita mulai menyadari, kita memang gemar menolak lupa, tapi kita juga gemar jatuh cinta. Itulah masalahnya.

-DS Priyadi, pegiat Kamar Budaya Yogyakarta

back to top