Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Demi ibu, Mintardjo lepaskan kewarganegaraan Indonesia

Mintardjo (batik merah) ketika menjadi pembicara dalam Deklarasi Asosiasi Prodi Sejarah Indonesia Mintardjo (batik merah) ketika menjadi pembicara dalam Deklarasi Asosiasi Prodi Sejarah Indonesia
Surabaya – KoPi. Huru-hara politik pada tahun 1965 tidak hanya menyebabkan ribuan nyawa melayang. Lebih dari sekedar nyawa, ratusan orang kehilangan hak mereka sebagai warga negara. Sebagian diasingkan, sebagian dipenjara tanpa sebab, sebagian lagi tercabut hak politik dan kewarganegaraannya. Di antara mereka yang tercabut haknya sebagai warga negara, ada para pemuda dan mahasiswa yang mendapat beasiswa untuk belajar di negara-negara sosialis.
 

Salah satunya adalah Mintardjo. Pemuda asal Purworejo ini kini terbuang di Belanda. Awalnya Mintardjo bersama beberapa pemuda Indonesia lainnya ditawari beasiswa untuk berkuliah di negara-negara sosialis. Ia mendapat beasiswa untuk berkuliah di Romania. Tiga tahun setelah ia meninggalkan Indonesia, terjadi ketidakstabilan politik lantaran peristiwa G30S. Presiden Soekarno dilengserkan, Partai Komunis Indonesia dibubarkan dan dilarang. Mintardjo muda dan rekan-rekannya pun terkena imbasnya, mereka dilarang kembali ke Indonesia. Kewarganegaraan mereka dicabut begitu saja tanpa sepengetahuan mereka.

Kehilangan kewarganegaraan, Mintardjo terpaksa harus tetap tinggal di Romania. Ia sempat bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pariwisata Romania, dan menikah dengan perempuan setempat, Liliana Gabriella. 

Kini, Mintardjo tercatat sebagai warga negara Belanda. Meskipun demikian, hati Mintardjo tetap berada di Indonesia. Sosoknya sangat terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Leiden University. Ia memberikan waktunya untuk membantu mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Belanda. Rumahnya yang berada di dekat Leiden University kerap menjadi tempat singgah bagi mahasiswa asal Indonesia. Di sana mereka bisa berdiskusi, mengerjakan tugas, maupun merancang kegiatan budaya. 

Setelah 69 tahun Indonesia merdeka, Mintardjo masih sesekali pulang ke Indonesia. Seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu, ketika ia menjadi pembicara dalam Deklarasi Asosiasi Prodi Sejarah Indonesia. Koran Opini sempat memintanya bercerita mengenai pembuangannya di Belanda.

 

KoPi: Mengapa meskipun kewarganegaraan Anda dicabut pemerintah Indonesia waktu itu Anda tetap mempertahankan Indonesia di hati Anda?

Mintardjo: Waktu saya pergi ke luar negeri pada jaman dulu itu adalah demi Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Jadi mau tidak mau saya harus memperjuangkan kebahagiaan rakyat. Makanya sekalipun saya sudah bukan lagi warga negara Indonesia, saya masih ingin membantu Indonesia, setidaknya para mahasiswa Indonesia di Belanda.

Itu semua berawal dari ketika saya mengadakan pembicaraan dengan salah seorang profesor di Belanda. Dia bilang pada saya, “Wah Pak Min, orang Indonesia yang baru lulus dari sini itu masih goblok-goblok”. Saya sakit hati waktu itu, namun tetap saya diamkan. Lalu saya tanya balik ke dia, “Kalau mereka memang masih goblok, kenapa kamu memberi mereka ijazah? Kamu masih punya kepentingan terhadap mereka, tugas kamu belum selesai”. Jawaban saya membuat profesor itu terdiam.

Karena itu saya membentuk organisasi yang bertujuan untuk memberikan pelajaran pada mahasiswa Belanda asal Indonesia untuk memberikan pengetahuan yang informatif untuk kepentingan Indonesia. Saya ingin agar mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda bisa mengembangkan imu mereka untuk kemajuan Indonesia.

KoPi: Kalau memang masih cinta Indonesia, mengapa mau menerima status kewarganegaraan dari Belanda? 

Mintardjo: Awalnya saya tidak mau. Sebetulnya saya tidak ingin jadi warga negara asing. Saya masih ingin menjadi warga negara Indonesia. Waktu itu kewarganegaraan Indonesia saya masih bisa diperjuangkan, namun perlu proses yang lama. Ketika saya mencari suaka politik dari pemerintah Belanda, saya mendapat telepon dari ibu saya di Indonesia. Saya diminta menjenguk beliau. Katanya, jenguk sekarang, jangan sampai jenguk ketika (ibu) sudah di kuburan. (Di sini Mintardjo berhenti. Bibirnya gemetaran, dan matanya berkca-kaca. Sepertinya ia teringat kembali pada ibunya). Lalu supaya bisa menengok ibu saya, saya masuk ke Indonesia sebagai warga negara Belanda. Saya terima kewarganegaraan Belanda supaya saya bisa pulang kembali ke Indonesia dan menengok ibu.

KoPi: Apakah tidak pernah ada tawaran dari pemerintah Indonesia agar Anda bisa kembali mendapat status warga negara Indonesia?

Mintardjo: Mereka (pemerintah Indonesia) pernah menawarkan kembali kewarganegaraan Indonesia. Tapi saya tolak karena mereka masih tidak mau memberikan penjelasan mengenai mengapa paspor saya waktu itu dicabut oleh pemerintah. Saya ingin kejelasan, apakah saya yang salah, atau proses pencabutan paspor itu yang salah? Bila saya dapat kejelasan soal itu, saya mungkin mempertimbangkan menerima kembali status kewarganegaraan tersebut. Bagi saya penjelasan mengenai alasan pencabutan paspor saya sudah cukup (sebagai permintaan maaf). Saya tidak meminta lebih dari itu, seperti permintaan maaf resmi atau yang lain, karena saya tahu bahwa korban dari perjuangan Indonesia adalah rakyat Indonesia sendiri, sehingga menjadi seperti saya ini.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

back to top