Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dedy Sufriadi, homo ludens dan teks bertebaran

Dedy Sufriadi, homo ludens dan teks bertebaran

Tahun 2008, adalah tahun yang bahagia bagi pasar seni rupa. Perupa merayakannya dan menyebutnya sebagai booming.

Bagi Dedy Sufriadi, ini adalah perayaan yang penuh berkah baginya, tetapi bukan semata soal booming. Saat itu, 20 Mei 2008, sepuluh tahun setelah jatuhnya Presiden Soeharto, Dedy merayakan dengan gairah penghargaan karya terbaik seni visual dari kompetisi yang diberikan Jogja Gallery. Moment penghargaan itu pula yang menuntun 'Naga Tidar' Oey Hong Djien dan lain-lain pada karya-karyanya.

Mungkin, bagi Dedy yang bergaul dengan filsafat eksitensialisme pada awalnya, seperti yang ia kisahkan, membukakan ruang eksplorasi karya yang tak terbatas. Ia menjadi demikian memahami eksistensialisme tidak saja pada konsep entitas humanisme yang memperkarakan kerumitan manusia berhadapan dengan lingkungannya yang kelam. Eksistensi Dedi  menjadi lebih menempatkan semangat Homo Ludens sebagai penggerak berkarya.

Homo Ludens menjadi kredo dan konsep mendasar bagi karya-karya Dedy Sufriadi. Ia memainkan teks-teks dalam kanvas sebagai permainan hidup yang menyenangkan dan artifisial. Itu tujuannya. Setidaknya itu yang bisa ditangkap dari pengakuannya.

"Semula aku bermain realis dan abstrak figuratif yang simbolis dan juga abstrak murni. Tetapi itu telah menjadi usang menurutku. Bagiku, teks sudah merupakan bentuk yang mewakili gambar. Mungkin ia tak bicara sesuatu yang tendensius, tetapi ia menjadi bentuk visual yang memberikan makna pada rasa."

Kredo panting texts, adalah upaya bermain seperti halnya konsep homo ludens yang ceria. Manusia yang bermain dalam permainan, seperti halnya tuhan menggelar panggung bermain. Ini seperti bahasa yang berat tapi mengalir ringan dalam hidup anak-anak yang bermain dan eksplorasi tanpa beban.

"Lukisan dalam bentuk dan konsep apapun tak akan menjadi berguna ketika hanya berakhir di gudang."

Itu adalah kesadaran tetapi sekaligus juga harapan. Laku Dedy menjadi begitu sederhana, -bahkan tampak pragmatis bagi kaum idealis yang tegang. Namun, sikap itu adalah kesadaran tersendiri yang menyelamatkannya dari kesunyian pasar seni rupa.

Karya-karyanya tak pernah sepi dari kolektor di seluruh dunia hingga saat ini. Singapura, Malaysia, Hongkong dan beberapa negara Eropa adalah ruang dimana karya-karyanya tersimpan dalam galeri atau rumah-rumah kolektor lukisan. Setidaknya ada 200 karya setiap tahun yag dihasilkan Dedi Sufriyadi dan 80% terjual. Karyanya seri Letter Text #3 terjual di Singapura dengan harga Rp 180 juta; sementara di pasar Internasional harga lukisannya berkisar 30-60 juta rupiah.

Melimpahnya karya Dedi sempat menjadi kritikan beberapa kolektor di Indonesia. Dedi dianggap terlalu produktif sebagai seniman. Tetapi, bagi Dedi Sufriyadi, seniman memang bertugas berkarya.


Biografi pendek:

Dedy Sufriadi, lahir di Palembang 20 Mei 1976. Anak ke dua dari lima bersaudara. Ia pria satu-satunya. Kakek dan ayahnya adalah seorang montir yang berharap Dedy menjadi insinyur yang meneruskan tradisi profesi keluarganya. Namun, takdir menuntunnya untuk menjadi perupa. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Seni Rupa di Palembang, ia meneruskan kuliah di ISI Jurusan Seni Rupa Murni( 1995-2004) dan mengambil program master penciptaan di Pasca Sarjana ISI (2009-2013). Pelbagai penghargaan diperoleh sejak semester awal di ISI dan setelahnya seperti finalis Phillip Morris (2001), Nokia Award dll.

back to top