Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Dari dunia gelap, saya bisa meraih mimpi

Dari dunia gelap, saya bisa meraih mimpi

Jogjakarta-KoPi| "Kakak saya berpendapat asal saya bisa makan saja sudah cukup, tapi saya berpikir ketika orang tua sudah tidak mampu, masa saya harus mengemis."

Penggalan kalimat itu seolah menjadi cambuk bagi Siti Sa'adah menjadi mandiri. Meski terasa berat namun Siti meyakini perjuangannya kelak akan berbuah manis.

Siti Sa'adah yang menderita tuna netra harus berbesar hati diremehkan keluarga sendiri. Siti setulus hati menerima kenyataan sebagai tuna netra. Meskipun sejatinya itu termasuk malpraktek tenaga medis setempat.

"Saya tuna netra tidak sejak lahir, dari umur tiga tahun. Awalnya kena gabagen (gatal kulit) disuntik sama mantrinya, padahal gabagen kan tidak boleh disuntik. Lalu badan saya panas dan jadi seperti ini," kata Siti.

Siti sadar nasi sudah menjadi bubur. Semua telah menjadi ketetapan yang kuasa. Bagi Siti yang terpenting berjuang mandiri membuktikan tuna netra bisa layaknya orang pada umumnya.

Awal perjuangan

Tekad keras untuk mandiri mendorong Siti untuk sekolah. Siti kecil biasa mengikuti kakak perempuannya sekolah SD. Hal itu mendorong Siti untuk turut sekolah. Namun keluarganya menolak lantaran tuna netra.

Siti yang merupakan anak kesembilan dari sembilan saudara merasa iri dengan perlakuan orang tuanya. Pasalnya kedelapan kakaknya sekolah semua. Bahkan kakak perempuan kedelapan sekolah hingga universitas.

Akhirnya atas bantuan kakaknya pula Siti mulai bersekolah di SLB Yaketunis. Siti menekuni pelajaran sekolah dengan lancar hingga jenjang SMP kesulitan menghampirinya. Siti yang nekad melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah umum, merasa terpukul dengan culture shock.
Selama satu bulan Siti kesulitan menjalin komunikasi dan sosialisasi dengan temannya, justru temannya menjauhinya.

"Saya memang terkenal ngeyel, nekad sekolah di SMP umum tidak di SLB, karena saya ingin tantangan baru melihat dunia yang berbeda. Selama sebulan saya tidak punya teman,”papar wanita kelahiran Purworejo ini.

Siti sempat ingin keluar dari SMP dan pindah ke sekolah MTS di Yaketunis. Tetapi dia mengurungkan niatnya, karena tidak mau menjilat ludahnya sendiri.

Alhasil, Siti bertahan dan setelah sebulan berselang Siti mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun kendala baru muncul ketika lulus dari SMA.

Lagi, tekad kuat untuk kuliah terhalang oleh keluarga. Siti sempat mengganggur setahun di rumah. Akhirnya nekad lari ke Yogyakarta, mendaftar kuliah di PGRI, Sonosewu.

Melihat aksi nekadnya, orang tua tidak ada pilihan lain selain merestuinya. Menjalani status mahasiswa menjadi tantangan tersendiri. "Dosen ya itu, paling sulit pelajaran matematika ini dikali ini hasilnya ini, itu bagi yang biasa gak papa tapi, yang kita susah."

Proses memang tak pernah mengkhianati hasil, begitulah ringkasan perjuangan Siti Sa’adah tuna netra yang berhasil. Mimpi sederhana menjadi sosok mandiri telah menjadikannya sosok luar biasa.

Kini Siti telah menjadi guru yang mendedikasikan dirinya untuk mengajar murid tuna netra di Yaketunis.

"Yang saya pilih kuliah PGRI, dan ambil jurusan BK, karena saya ingin dekat dengan anak dan menjaga perkembangan anak bisa mencapai cita-cita. Saya memotivasi anak untuk berhasil," tegas Siti. |Winda Efanur FS|Frenda Yentin|

back to top