Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Cita-cita Kartini apakah sekedar mengekspor TKW?

Cita-cita Kartini apakah sekedar mengekspor TKW?

Peringatan Hari Kartini saat ini mari kita pertunjukkan sebuah data. Baiklah, kita sebut para perempuan yang bekerja di luar negaranya sebagai Kartini TKW. Data Badan Pusat Statistik 2015 memperlihatkan data sebagai berikut:

Pekerja laki-laki (2013) mencapai 235. 170 sementara pekerja perempuan 276 998. Pada tahun 2014, pekerja laki-laki berjumlah 186 243 dan pekerja perempuan mencapai 243 629. Sementara catatan BNP2TKI jumlah TKI 275.736 (2015).

Dari para pekerja itu, Pusat Penelitian dan Informasi (Puslitfo) BNP2TKI menunjukkan, remitansi (arus uang TKI ke dalam negeri) TKI mencapai 8,6 USD juta atau setara dengan Rp. 119 triliun. Hebat ya.

Pada sisi lain, data itu menunjukkan fakta bahwa perempuan lebih survival ketimbang laki-laki. itu pertama. Kedua, ada fakta pembalikkan peran dalam masyarakat di kelas bawah, bahwa perempuan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Bahkan ada seloroh, perempuan banting tulang jadi babu, laki-laki di rumah ongkang-ongkang (duduk saja) merokok sembari tunggu setoran.

"Rumangsamu penak, yo penak (Kamu kira enak, ya enaklah)," kata Prista Apria Risty TKW yang mengunggah videonya curhatnya di tahun 2015 lalu. Prista mengungkapkan dengan lucu betapa ia banting tulang bersihin toilet majikan, sementara laki-lakinya hanya duduk dan jika uang habis tinggal ambil uang yang ia kirimkan di ATM.

Fenomena semacam ini, bisa diterjemahkan sebagai pembalikan peran dan fungsi perempuan dalam posisi sosialnya yang selama ini berada dalam posisi subordinat laki-laki. Meskipun pada faktanya dalam masyarakat bawah, fungsi itu bisa juga berarti sebagai eksploitasi terhadap perempuan sesungguhnya.

Kartini, tentu hanya menginginkan persamaan dalam peran bukan eksploitasi. Tenaga Kerja Wanita (TKW) sementara itu, sebenarnya memiliki persoalan yang kompleks. Tidak saja berkaitan dengan posisi dan persamaan hak perempuan, tetapi juga menunjukkan kewibawaan bangsa dan negara.

Para TKW bila kita simak dengan seksama adalah hasil dari keterpaksaan mereka dalam upaya mencari jalan keluar ekonomi yang tak bisa mereka dapatkan di negaranya sendiri.

Remintasi yang luar biasa besar hingga mencapai ratusan trilyun rupiah dari para pekerja perempuan Indonesia yang dinikmati pemerintah, dengan demikian, bisa berarti menjual harga diri bangsa dan perempuan Indonesia. Lalu, apakah cita-cita Kartini semacam ini?

back to top