Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Sleman-KoPi| Tak ada yang lebih membahagiakan yang dirasakan oleh Teguh Tuparman. Sebagai kepala keluarga dan juga sebagai seorang satpam di UGM ia menyaksikan putri sulungnya diwisuda  dan menyandang gelar doktor di instansi tempat ia bekerja.
 
Putrinya, Retnaningtyas Susanti lahir pada tahun 1985. Disaat yang sama, Teguh mulai bekerja di UGM. Saat itu, ia bergabung dengan satuan keamanan UGM yang saat ini bernama, Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L). Dua momen tersebut menurutnya yang paling berkesan dalam hidupnya.
 
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah ada yang mengatur,” ucapnya disela-sela proses wisuda di GSP UGM, Kamis (19/4).
 
Ia pun menceritakan perjalanan anaknya hingga berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan yang tertinggi di kampus UGM. Saat Tyas masih kecil ,ia sering dibawa berpatroli mengitari fakultas-fakultas UGM di akhir pekan. Saat itulah ia memiliki keinginan untuk melihat anak-anaknya berkuliah di salah satu gedung tersebut.
 
Dengan mimpi dan keinginan yang besar tersebut,  Teguh mendukung anaknya yang berkeinginan melanjutkan studi di Prodi Antropologi UGM selepas menyelesaikan pendidikan di SMA. Kendala pun muncul saat itu. Pasalnya, ia harus menghutang kesana sini mengumpulkan biaya kuliah dan biaya kehidupan sehari-hari.
 
“Dulu ya harus korban moril dan materiil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya. Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tuturnya.
 
Hal itupula lah yang menyentil semangat Tyas untuk menyelesaikan jenjang S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Selepas lulus sarjana, ia sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Tak berhenti, Tyas pun berkeinginan untuk menjadi Dosen dan melanjutkan S2 nya di UGM. 
 
Meski demikian, pada saat melanjutkan studinya S2 nya , ia bertekad untuk membiayai sendiri  kuliahnya. Biaya studi tersebut ia kumpulkan dari bekerja di warung kopi hingga berjualan di pinggir jalan UGM.
 
“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya.
 
Pada tahun 2011,  ia pun berhasil membawa pulang gelar master di bidang pariwisata dan membuka jalan baginya untuk memulai profesi sebagai dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti.
 
Bagi sang Ayah , usai melihat Tyas wisuda untuk ketiga kalinya, tidak ada lagi hal yang Teguh harapkan dari putrinya ini. Namun bagi Tyas, keberhasilannya meraih gelar doktor justru menambah satu impiannya bagi orang tua tercinta.
 
“Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” pungkas Tyas. 
back to top