Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Sleman-KoPi| Tak ada yang lebih membahagiakan yang dirasakan oleh Teguh Tuparman. Sebagai kepala keluarga dan juga sebagai seorang satpam di UGM ia menyaksikan putri sulungnya diwisuda  dan menyandang gelar doktor di instansi tempat ia bekerja.
 
Putrinya, Retnaningtyas Susanti lahir pada tahun 1985. Disaat yang sama, Teguh mulai bekerja di UGM. Saat itu, ia bergabung dengan satuan keamanan UGM yang saat ini bernama, Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L). Dua momen tersebut menurutnya yang paling berkesan dalam hidupnya.
 
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah ada yang mengatur,” ucapnya disela-sela proses wisuda di GSP UGM, Kamis (19/4).
 
Ia pun menceritakan perjalanan anaknya hingga berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan yang tertinggi di kampus UGM. Saat Tyas masih kecil ,ia sering dibawa berpatroli mengitari fakultas-fakultas UGM di akhir pekan. Saat itulah ia memiliki keinginan untuk melihat anak-anaknya berkuliah di salah satu gedung tersebut.
 
Dengan mimpi dan keinginan yang besar tersebut,  Teguh mendukung anaknya yang berkeinginan melanjutkan studi di Prodi Antropologi UGM selepas menyelesaikan pendidikan di SMA. Kendala pun muncul saat itu. Pasalnya, ia harus menghutang kesana sini mengumpulkan biaya kuliah dan biaya kehidupan sehari-hari.
 
“Dulu ya harus korban moril dan materiil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya. Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tuturnya.
 
Hal itupula lah yang menyentil semangat Tyas untuk menyelesaikan jenjang S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Selepas lulus sarjana, ia sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Tak berhenti, Tyas pun berkeinginan untuk menjadi Dosen dan melanjutkan S2 nya di UGM. 
 
Meski demikian, pada saat melanjutkan studinya S2 nya , ia bertekad untuk membiayai sendiri  kuliahnya. Biaya studi tersebut ia kumpulkan dari bekerja di warung kopi hingga berjualan di pinggir jalan UGM.
 
“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya.
 
Pada tahun 2011,  ia pun berhasil membawa pulang gelar master di bidang pariwisata dan membuka jalan baginya untuk memulai profesi sebagai dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti.
 
Bagi sang Ayah , usai melihat Tyas wisuda untuk ketiga kalinya, tidak ada lagi hal yang Teguh harapkan dari putrinya ini. Namun bagi Tyas, keberhasilannya meraih gelar doktor justru menambah satu impiannya bagi orang tua tercinta.
 
“Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” pungkas Tyas. 
back to top