Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Sleman-KoPi| Tak ada yang lebih membahagiakan yang dirasakan oleh Teguh Tuparman. Sebagai kepala keluarga dan juga sebagai seorang satpam di UGM ia menyaksikan putri sulungnya diwisuda  dan menyandang gelar doktor di instansi tempat ia bekerja.
 
Putrinya, Retnaningtyas Susanti lahir pada tahun 1985. Disaat yang sama, Teguh mulai bekerja di UGM. Saat itu, ia bergabung dengan satuan keamanan UGM yang saat ini bernama, Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L). Dua momen tersebut menurutnya yang paling berkesan dalam hidupnya.
 
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah ada yang mengatur,” ucapnya disela-sela proses wisuda di GSP UGM, Kamis (19/4).
 
Ia pun menceritakan perjalanan anaknya hingga berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan yang tertinggi di kampus UGM. Saat Tyas masih kecil ,ia sering dibawa berpatroli mengitari fakultas-fakultas UGM di akhir pekan. Saat itulah ia memiliki keinginan untuk melihat anak-anaknya berkuliah di salah satu gedung tersebut.
 
Dengan mimpi dan keinginan yang besar tersebut,  Teguh mendukung anaknya yang berkeinginan melanjutkan studi di Prodi Antropologi UGM selepas menyelesaikan pendidikan di SMA. Kendala pun muncul saat itu. Pasalnya, ia harus menghutang kesana sini mengumpulkan biaya kuliah dan biaya kehidupan sehari-hari.
 
“Dulu ya harus korban moril dan materiil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya. Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tuturnya.
 
Hal itupula lah yang menyentil semangat Tyas untuk menyelesaikan jenjang S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Selepas lulus sarjana, ia sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Tak berhenti, Tyas pun berkeinginan untuk menjadi Dosen dan melanjutkan S2 nya di UGM. 
 
Meski demikian, pada saat melanjutkan studinya S2 nya , ia bertekad untuk membiayai sendiri  kuliahnya. Biaya studi tersebut ia kumpulkan dari bekerja di warung kopi hingga berjualan di pinggir jalan UGM.
 
“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya.
 
Pada tahun 2011,  ia pun berhasil membawa pulang gelar master di bidang pariwisata dan membuka jalan baginya untuk memulai profesi sebagai dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti.
 
Bagi sang Ayah , usai melihat Tyas wisuda untuk ketiga kalinya, tidak ada lagi hal yang Teguh harapkan dari putrinya ini. Namun bagi Tyas, keberhasilannya meraih gelar doktor justru menambah satu impiannya bagi orang tua tercinta.
 
“Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” pungkas Tyas. 
back to top