Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Candi Plaosan Mati Suri

Candi Plaosan Mati Suri

Klaten-KoPi - Di Indonesia sebuah situs sejarah seringkali kurang mendapat perhatian masyarakat. Padahal dibalik keklasikan situs menyimpan khazanah yang menajubkan. Nilai historisitas di dalamnya tidak hanya sekedar “berkisah”, lebih dari itu sisi historis memberikan pesan bagi kita untuk memaknai hidup.

Salah satu situs yang hidup itu, Candi Plaosan yang terletakdi areal pesawahan warga Dusun Plaosan, Bugisan, Prambanan, Klaten. Situs bisa ditempuh 1,5 Km ke timur dari jalan raya Jogja-Solo.

Penemuan Candi Plaosan pada zaman pemerintahan Belanda. Selama Belanda menjajah perawatan juga pemeliharaan dilakukan pada candi. Komplek Candi dikelilingi oleh parit dengan menempati tanah seluas 250 m x 350 m.

Parit ditemukan sesudah penemuan candi. Awalnya ada seorang pencari batu bata. Saat penggalian menemukan batu. Penemuan itu diteruskan oleh seorang Arkeolog dari UGM (Universitas Gajah Mada). Melalui instruksi dari Arkeolog penggalian dilakukan pada areal candi. Satu hingga berpuluh penggalian belum menemukan gambaran batu-batu yang ditemukan. Hingga sedikit terlihat di sisi timur bentuk batu halus lurus miring ke arah timur sedangkan arah yang berlawanan kasar. Lalu penggalian dialihkan kea arah lain juga konstruksi batu sama. Kesimpulan akhir konstruksi batu tersebut adalah parit yang mengelilingi komplek candi.

Candi Plaosan, Dulu dan Kini

Memelihara situs sejarah bukanlah hal mudah. Seperti diungkap di atas “Candi kembar” ini terabaikan dari perhatian masyarakat. Padahal filosofi di dalamnya juga tidak kalah bagus dibanding filosofi Candi Prambanan dan candi lainnya.

Hal itu diamini oleh koordinator lapangan, Aris Sunendo. Dia mengatakan ada tiga bentuk pemeliharaan yang dilakukan pada candi. Pertama, pemugaran yang dilakukan berkala minimal setahun sekali. Kedua, pemeliharaan yang dilakukan per hari.

Diakui oleh Aris kendala yang ditemui di lapangan masih soal anggaran. Pasalnya bangunan klasik seperti candi rawan rusak baik kerusakan alami maupun teknis. Pasca gempa Jogja 2006 lalu situs candi banyak roboh dan hingga kini pemugaran belum terjamah 70 %.

“Kalau satu tahun hanya satu perwara yang dipugar, berarti butuh waktu 326 tahun candi bisa bener semua”, kritik Aris.

Pasalnya pemerintah daerah setempat sudah absen empat tahun kurang memberikan dukungan dana untuk Candi Plaosan. Pemda saat ini justru memungut retribusi dari candi. Kalau dahulu, pemda ikut turun tangan membantu separuhnya.

Terlepas dari kendala itu, pihak candi membumbungkan harapan yang besar situs candi bisa bagus dan utuh. Suatu saat nanti, pemerintah bisa menggali parit seutuhnya.

“Mestinya kalau kita mau membuka utuh situs candi, pemerintah bisa membebaskan tanah warga untuk menemukan parit. Didalamnya mungkin bisa dilacak bangunan selain candi seperti prasasti, taman, atau kolam”, pungkas Aris.

Dari hal ini kita bisa melihat, seringkali dukungan materi menjadi kendala utama tetapi bukan berarti kita membiarkan sejarah kita terkikis masa.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top