Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Cakue Peneleh, kue tempo doeloe yang tetap ngangeni

Cakue Peneleh, kue tempo doeloe yang tetap ngangeni
Surabaya - KoPi | Cakue. Siapa pun pasti mengenal kue khas asal China ini. Di China, cakue umumnya dinikmati sebagai pengganti sarapan. Di Indonesia, cakue lebih dikenal sebagai cemilan atau pendamping bubur ayam.
 

Jika Anda mampir ke Surabaya, ada cakue yang sangat terkenal, bahkan disebut sudah menjadi legenda. Cakue Peneleh namanya. Cakue ini sudah ada sejak tahun 1988.

Apa yang istimewa dari cakue ini?

Tidak seperti cakue biasa yang disajikan polos, cakue ini diberi isian udang dan ayam. Cacahan daging ayam dan udang dimasukkan ke dalam belahan cakue, lalu cakue digoreng hingga kering dan renyah. Paling nikmat jika disajikan dengan saus pasangannya yang dibuat dari saus tomat, cuka, dan bawang putih.

Pemilik Cakue Peneleh, Tjio Ie Loe dan Kho Sioe Yan, awalnya hanya menjual cakue polos saja di pinggir Jl Peneleh, Surabaya. Pada tahun 1994, mereka mulai berinovasi dengan menambahkan cincangan udang dan ayam ke dalam cakue mereka. Ternyata, inovasi tersebut disukai pelanggannya. Cakue racikan mereka jadi semakin terkenal.

Kini Cakue Peneleh punya gerai sendiri di Pasar Atum Surabaya. Selain cakue, pembeli juga bisa membawa pulang berbagai makanan lain, seperti roti goreng, bika ambon, kompyang, onde-onde, ote-ote, angsle, dan ronde. Di bulan puasa, toko ini ramai oleh para pembeli yang ingin mempersiapkan kue-kue untuk buka puasa. Bagi mereka yang ingin menjadikan cakue ini oleh-oleh, bisa membeli yang setengah matang.

Fang Fang, putri bungsu Ie Loe mengatakan, ayahnya membuka toko di Pasar Atum sejak tahun 1990. Selain di Pasar Atum, mereka juga membuka cabang di Jl Pengampon, Surabaya. Di cabang Pengampon inilah cakue isi udang diracik. "Ayah membuat cakue di Pengampon, lalu dibawa ke Pasar Atum sini," ujarnya.

Cakue atau you tiao sendiri konon merepresentasikan protes masyarakat atas kekejaman Menteri Qin Hui pada masa Dinasti Song. Menteri tersebut memfitnah Jenderal Yue Fei yang menjadi tokoh patriotik pada masa itu. Masyarakat China mengatakan, orang jahat seperti Qin Hui dan istrinya seharusnya dipelintir lalu digoreng ke dalam minyak panas. Cakue menjadi lambang atas Qin Hui dan istrinya.

 

back to top