Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Buruh perempuan masih tersisih

Buruh perempuan masih tersisih
Surabaya – KoPi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pabrik lebih menyukai pekerja perempuan dibanding laki-laki. Sebagian besar buruh yang bekerja di pabrik adalah pekerja perempuan. Mereka dianggap lebih murah, tidak rewel, dan lebih produktif. Hal itu tercermin dari bagaimana buruh perempuan tidak banyak menuntut setiap kali ada demo kenaikan upah. Mereka hanya mengikuti apa yang menjadi tuntutan serikat buruh yang didominasi kaum laki-laki.
 

Namun di sisi lain, tuntuan serikat buruh dianggap masih terlalu maskulin dan umum, dan mengabaikan hak-hak pekerja perempuan. Jumlah buruh perempuan yang jauh lebih besar daripada buruh laki-laki seakan tidak memberi efek apa-apa pada tuntutan serikat buruh dan kebijakan perusahaan. Padahal, buruh perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan buruh laki-laki. 

Sekretaris Komisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Jawa Timur Wiwik Afifah menyatakan selama ini buruh perempuan memang kurang aktif terlibat dalam organisasi serikat buruh. Padahal masuk ke dalam serikat buruh adalah hak setiap buruh. 

“Separo waktu buruh perempuan dipakai untuk bekerja. Mereka juga masih harus mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sehingga semua waktu yang bisa digunakan untuk berorganisasi jadi hilang,” ujar Wiwik. 

Masyarakat masih berasumsi bahwa laki-laki yang harus bekerja dan mencari nafkah, sedangkan perempuan hanya dianggap membantu. Hal itu memicu pandangan bahwa pekerja perempuan menjadi kelompok kelas dua. Keberadaan mereka tidak dianggap. Dalam serikat buruh, tuntutan mereka tidak pernah terdengar atau disuarakan. Akibatnya banyak hak-hak mereka yang terabaikan.

“Tuntutan buruh selama ini masih sangat maskulin dan umum. Naikkan UMR, tolak BPJS, dan sebagainya. Tapi yang spesifik perempuan, seperti angkutan antar jemput khusus perempuan di malam hari, tempat penitipan anak yang ada di dekat pabrik, tempat penyimpanan ASI, itu kan tidak ada,” tutur Wiwik.

Hal ini sangat merugikan pekerja perempuan. Beberapa daerah bahkan ditengarai memberi buruh perempuan upah yang lebih kecil dibandingkan buruh laki-laki.

“Sangat penting bagi buruh perempuan untuk membela haknya. Mereka perlu diberi pemahaman untuk menyuarakan kepentingan mereka. Memang banyak yang tidak berani, tapi bukan berarti mereka tidak bisa,” kata Wiwik lagi.

Wiwik mencontohkan ada Marsinah yang getol memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Meskipun perjuangan Marsinah juga masih terlalu umum, seperti kenaikan upah, namun seharusnya ia menjadi inspirasi bagi buruh perempuan.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top