Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Budaya [Tidak] Membaca

Budaya [Tidak] Membaca

Oleh: Aquarini Priyatna


Kritik Autobiografis: Suatu Pengantar

Kami mengenalnya sebagai salah satu penulis, pemikir, sahabat diskusi, feminis, sekaligus ahli dalam metode narasi autobiografis. Dialah sosok manusia pembelajar dengan identitas yang unik dan jarang ditemukan dalam jagat tulis-menulis di media dan belantara akademik di Indonesia belakangan ini. Dalam bukunya, “Kajian Budaya Feminis” (terbitan Jalasutra, 2006) dia mengatakan di prolognya bahwa menulis adalah suatu bentuk kemarahan terhadap budaya dominan, terutama budaya patriarkhis. Beberapa orang terdekatnya, yang mengenalnya, menganggapnya sebagai seorang feminis yang penuh semangat perlawanan melalui essai-essainya. Baginya, teks-teks bukanlah sekedar tumpukan informasi, melainkan bernilai transformatif yang menggugah, membongkar, menjelajah, serta berdialog dengan pembacanya. Termasuk, mengajak pembacanya untuk terus “curiga” dengan situasi sosial, politik, dan budaya di sekitarnya.

Jaleswari Pramodhawardani (peneliti di LIPI) menganggapnya sebagai perempuan yang tidak punya “nama”. Dia sosok perempuan yang ingin membongkar kultur sarat kekerasan simbolik melalui narasi kehidupan pribadinya, bukan melalui jalan analisis sosial-makro yang cenderung berbasiskan kebijakan publik. Sebagian masyarakat akademik dan media massa kita yang bergaya “serius” selama ini telah terlalu lama memuja struktur sosial sebagai bahan kajian. Tapi, perempuan dan pemikir yang satu ini tampak tergolong individualisme (bukan individualistik). Karena, mengangkat dirinya sebagai objek sekaligus subjek dalam hampir semua tulisan dialektiknya. Setidaknya, begitulah yang dikatakan Jaleswari di dalam pengantar buku Aquarini Priyatna, PhD.  

Mbak Atwin (begitu kami akrab menyapanya) cenderung tidak terlalu memikirkan persoalan batasan formal tulisan. Ia jarang menulis di media massa yang ruangnya sangatlah terbatas dan penuh persyaratan formal. Dalam bukunya, “Becoming White” (terbitan Jalasutra, 2003) memang tergolong tipis dari sisi halaman. Tapi, substansi idenya dan kekayaan bahan bacaannya justru lebih memperkaya tulisan analitiknya. Baginya, menulis adalah praktik membaca dunia. Menulis sebagai alat pembebasan tidak mungkin memberdayakan apabila bahan bacaan terbatas dan fakir pengetahuan. Salah satu tim litbang koran opini.com, pernah bertemu dengannya di Bandung untuk mendiskusikan buku “Sosiologi Tubuh” (terbitan Kuakaba Press, 2014) karya Ardhie Raditya.Bukannya mendapat ide bernasnya, Mbak Atwin malah menyodorkan banyak bahan bacaan untuk memperkaya teks-teks analisis untuk menerbitkan buku kajian budaya lainnya yang serupa.

Hampir sama dengan kebanyakan dosen pada umumnya, Mbak Atwin juga punya kegelisahan yang sama tentang budaya membaca para mahasiswa yang tragis dan krisis belakangan ini. Kepungan modernisme dan pembangunan ruang publik yang bernilai konsumtif di sekitar kampus (dengan alasan keindahan tata ruang kota) adalah salah satu sumber malapetaka yang kerap dikemukakan. Karenanya, dia secara sukarela mendonasikan teks autobiografis tentang krisis kultur membaca sebagai bagian dari Antitesis budaya massa. Secara sederhana,Autobiografis bukanlah perkara membicarakan pengalaman pribadi seseorang yang dianggap populer dan menjadi panutan. Melainkan, suatu praktik fenomenologi eksistensial yang tak hanya mengembalikan pengetahuan pada dunianya sendiri, sekaligus menjadikan dunia manusia yang penuh distorsi mewahyukan dirinya sendiri kepada sang penafsir teks. Selamat membaca kritik dari pemikir autobiografis !

Mengalamiahkan Budaya Membaca

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan pertama kuliah semester ini saya bertanya pada para mahasiswa: siapakah diantara mereka yang sedang dalam proses membaca ?. Dari rata-rata 30-40 orang per kelas (saya mengajar 7 kelas semester ini), hanya 2 atau 3 orang yang mengatakan sedang dalam proses membaca suatu buku. Ada sekitar jumlah yang sama yang mengatakan menyelesaikan membaca satu buku di bulan lalu. Sisanya, hanya tersenyum-senyum untuk mengatakan bahwa mereka tidak pernah membaca apapun, kecuali sesekali koran. Bahkan, sepanjang masa liburan panjang Juni-September. Ini sangat menyedihkan.

Pertanyaan yang diajukan atas kenyataan ini adalah seberapa besar kita dapat mengharapkan perubahan sikap terhadap kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa, yang notabene dapat disebut kalangan terdidik ? Apakah dengan kenyataan itu asumsi bahwa mahasiswa adalah kalangan terdidik masih dapat kita pertahankan ? Pertanyaan yang sama juga layak dipertanyakan kepada para guru dan dosen yang sudah terlalu sibuk hingga tak sempat mengupdate ilmunya.

Kebiasaan membaca bukan merupakan suatu hal yang alamiah. Keinginan atau kebutuhan membaca tidak lahir secara alamiah, tetapi kita dapat “mengalamiahkan” keinginan membaca. Kita dapat membuat keinginan membaca menjadi “rasa lapar” dan “rasa haus” yang membutuhkan pemuasan segera seperti rasa lapar dan haus pada umumnya. Mengalamiahkan kultur membaca berarti melakukan perombakan total terhadap apa-apa yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang lazim dalam masyarakat kita, termasuk terhadap cara kita menghabiskan waktu dan uang. Mengalamiahkan budaya membaca berarti menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian kita, seperti makan dan minum. Oleh karena itu, saya cenderung berpendapat bahwa kebiasaan membaca seharusnya lahir dari budaya keluarga, yang ditumbuhkan sejak sangat dini. Bahkan, ketika anak-anak masih berupa janin, dipupuk dan kemudian dipelihara. Sayangnya, membaca tampaknya masih bukan bagian dari budaya kebanyakan dari kita.

Banyak rumah mentereng yang saya perhatikan tidak mempunyai rak buku, apalagi buku berjajar dengan jejak bekas dibaca. Banyak orang yang sanggup menghabiskan beratus ribu untuk pesta ulang tahun anaknya, tetapi tidak membiarkan anaknya menghabiskan puluhan ribu untuk membeli buku. Banyak juga diantara kita yang alih-alih ditegur karena tidak pernah membaca, malah ditegur karena “menghabiskan waktu” terlalu banyak untuk membaca, atau “menghambur-hamburkan uang” untuk buku. Banyak mahasiswa yang berdandan sangat trendi tetapi “tidak mempunyai uang” untuk memfotokopi sejumlah bahan kuliah. Setelah itu, mereka juga masih tidak mempunyai waktu untuk membaca bahan-bahan tersebut. Parah !

Saya merasa beruntung mempunyai ayah yang membiasakan saya membaca sejak kecil. Ia menjejali saya dengan berbagai buku, menjadikan buku sebagai hadiah, dan mengajak saya dan kedua adik saya menikmati perburuan buku bekas di sisi sungai Cikapundung dulu. Meski tidak terlalu sering tampak membaca, ibu saya selalu membawa bahan bacaan dalam tasnya kemanapun ia pergi. Ketika ia kehabisan bahan bacaan, ia akan meminta saya untuk menyuplainya dengan novel atau buku-buku ringan untuk dibacanya disela-sela kegiatannya.

Kesadaran saya akan rasa lapar membaca serta membaca sebagai suatu budaya lebih kuat lagi ketika saya mengikuti pertukaran pelajar di Jerman sewaktu SMA dulu. Kesadaraan itu juga diikuti kesadaran yang semakin kuat bahwa budaya membaca seharusnya pertama-tama ditanamkan di dalam keluarga, dan ibu berpotensi menjadi pilar utamanya. Jika saya akan pergi kemanapun, Muti (“Ibu” dalam bahasa Jerman) selalu menanyakan apakah saya membawa bahan rajutan – saya sempat juga diajari merajut sweater selama masa itu - atau bahan bacaan dalam tas saya.  Jika tidak, ia akan menyuruh saya untuk mengambil salah satu dari kedua hal itu. Atau, jika saya akan pergi untuk waktu yang cukup lama, ia akan meminta saya membawa bahan rajutan dan buku. Ia akan menegur saya, jika saya tidak melakukan apa-apa selama menunggu bus di shelter. Bahkan, di rumah jika ia melihat saya menganggur ia akan mengatakan dengan aksen Jermannya yang lucu, “knit, knit” (merajut, merajut) atau “read, read”. Setiap saat, ketika ia tidak sedang mengerjakan pekerjaan rumah, selalu saya dapati ia sedang membaca. Membaca menjadi tampak sangat seksi dan menarik. Kadang, ia mengajak saya membaca di ruang tengah ketika cuaca dingin, dan di halaman ketika sinar matahari bersinar. Ia membuat kegiatan membaca menjadi suatu hal yang menyenangkan. Pengalaman itu membuat saya merasa perlu untuk selalu berada dalam proses membaca. Jika saya lupa membawa bahan bacaan, saya merasa dikejar-kejar perasaan bersalah karena telah membuang-buang waktu percuma.

Saya tidak mempunyai jawaban atas kebingungan saya akan ketidakbiasaan membaca banyak mahasiswa itu. Tapi, mungkin kita masih sangat bergantung pada budaya lisan. Seringkali, mahasiswa juga “tidak mampu” membaca pengumuman yang disampaikan jurusan secara tertulis. Bahkan, pengumuman sederhana seperti “skripsi harus diserahkan satu minggu sebelum sidang” juga tidak dapat diases dan dimengerti oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengatakan tidak mengetahui hal tersebut, meskipun pengumuman itu jelas-jelas terpampang di papan pengumuman jurusan atau di media (sosial). Seringkali, mahasiswa harus secara personal diberi tahu perkara ini. Begitu juga, dengan tugas-tugas lain. Meski sudah ditulis dengan jelas dalam instruksi, selalu saja ada mahasiswa yang meminta waktu khusus untuk “dijelaskan” mengenai hal-hal yang sudah ditulis. Saya tidak mengatakan bahwa budaya lisan itu buruk. Tetapi, dalam ruang akademik seperti di perguruan tinggi, mahasiswa harus mampu mencari dan mengakses informasi tertulis dengan layak. 

Lucu sekaligus menyedihkan adalah beberapa kali saya terpaksa menendang diri keluar dari ruang beberapa forum diskusi karena asap rokok yang dikeluarkan para peserta diskusi. Mereka yang tampaknya banyak membaca dan paham akan bacaannya rupanya gagal juga membaca dan memahami pengumuman besar di depan pintu ruangan, “DILARANG MEROKOK”. Jika mereka yang tampaknya terlatih membaca bahan-bahan bacaan yang begitu rumit dan sulit saja tidak dapat memahami kalimat sederhana itu, apa yang dapat kita harapkan dari mereka yang tidak terlatih membaca?

Sepertinya, sangat dibutuhkan hal lain diluar kemampuan membaca rangkaian kalimat. Yakni, kerendahan hati untuk berdialog dengan apa yang kita baca, untuk menjaga pikiran agar terbuka pada apa yang kita baca. Tentunya bukan sekedar menerima, tetapi memahami dan melakukan refleksi atas pemikiran-pemikiran yang ditawarkan. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mematuhi jika yang dibaca adalah sebuah larangan. Sederhananya: DILARANG MEROKOK artinya dilarang merokok, artinya jangan menyalakan rokok. Membaca, sekali lagi, harus dibangun dan dikembangkan sebagai budaya dan praktik budaya sehari-hari. Harus diusahakan oleh berbagai lapisan dalam struktur masyarakat kita, terutama dalam keluarga dan pendidikan dasar kita. Budaya harus dibangun sejak dini, sehingga, bisa menubuh dan menempel (embodied dan embedded) dalam keseharian kita. 


-Dosen di Departemen Susastra dan Kajian Budaya, FIB-Universitas Padjajaran, alumnus Monash University, Australia




 

 

back to top