Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

‘Blatter menang karena negara kecil’

Sekjen KNVB, Bert Oostveen Sekjen KNVB, Bert Oostveen
KoPi | Sepp Blatter kembali terpilih menjadi presiden FIFA untuk kelima kalinya lewat hasil kongres pada Jumat (29/5). Setelah Michel Platini—presiden UEFA—menyatakan keberatan bila Blatter kembali menjadi presiden FIFA, kini ‘anak buah’ Platini yang angkat bicara.

Bert Oostveen selaku sekjen Asosiasi Sepak bola Belanda (KNVB) mengatakan bahwa terpilihnya kembali Sepp Blatter menjadi presiden FIFA kelima kalinya karena mendapat dukungan dari 'negara-negara kecil’.

Blatter selaku orang Eropa justru tidak mendapat dukungan dari negara-negara besar dunia sepak bola dari Eropa dan Amerika. Namun ia sukses untuk mengunci suara dari mayoritas negara Afrika dan Asia. Hal tersebut jelas membuat dirinya memiliki banyak pendudukung dan sukses mempertahankan rezim kepresidenanannya di FIFA.

“Ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Dengan penuh rasa hormat kepada seluruh yang hadir, saya bisa menyimpulkan apa yang terjadi,” ucap van Oostveen sebagaimana dilansri Goal.

“Negara kecil selalu mampu jadi mayoritas padahal negara seperti Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda dan yang lainnya adalah negara yang membuat sepak bola bisa terkenal di dunia ini,” ucapnya menambahkan.

Pemilihan Presiden FIFA dilakukan seperti layaknya pemilu biasa. Sistemnya adalah setiap negara punya kekuatan suara yang sama, mau itu negara hebat sepak bola ataupun hanya peringkat paling dasar di FIFA. Jadi, Blatter memang tak perlu susah payah meyakinkan negara Eropa yang memang sudah menentang dirinya sejak awal. Pria asal Swiss itu cukup memastikan bahwa suara-suara yang mendukungnya dari 'negara kecil' tidak berpaling darinya.

“Sistem yang ada saat ini seperti racun dan kita harus terus lanjutkan protes ini. Kami sepertinya harus mengambil sebuah kertas kosong dan membuat organisasi FIFA baru. Saya tahu, di luar Eropa, di Amerika, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Asia ada orang-orang yang berpikiran sama dengan kami,” lanjut Oostveen.

'Pemberontakan' terhadap rezim Blatter nampaknya akan semakin seru mengingat UEFA sudah memberi ancaman untuk boikot Piala Dunia 2018, dan sekjen KNVB Van Oostveen pun mendukung rencana tersebut, dan ingin semua negara Eropa kompak.

“Saya hanya bisa menegaskan bahwa pemboikotan baru bisa memiliki dampak ketika aksi ini diambil secara kolektif. Di situlah kita semua bisa memberikan sebuah penegasan. Ide tentang turnamen independen yang terpisah dari Piala Dunia juga menarik untuk dibicarakan,” pungkas pria 44 tahun ini. | Goal | Aditya Wicaksana WP

back to top