Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

‘Blatter menang karena negara kecil’

Sekjen KNVB, Bert Oostveen Sekjen KNVB, Bert Oostveen
KoPi | Sepp Blatter kembali terpilih menjadi presiden FIFA untuk kelima kalinya lewat hasil kongres pada Jumat (29/5). Setelah Michel Platini—presiden UEFA—menyatakan keberatan bila Blatter kembali menjadi presiden FIFA, kini ‘anak buah’ Platini yang angkat bicara.

Bert Oostveen selaku sekjen Asosiasi Sepak bola Belanda (KNVB) mengatakan bahwa terpilihnya kembali Sepp Blatter menjadi presiden FIFA kelima kalinya karena mendapat dukungan dari 'negara-negara kecil’.

Blatter selaku orang Eropa justru tidak mendapat dukungan dari negara-negara besar dunia sepak bola dari Eropa dan Amerika. Namun ia sukses untuk mengunci suara dari mayoritas negara Afrika dan Asia. Hal tersebut jelas membuat dirinya memiliki banyak pendudukung dan sukses mempertahankan rezim kepresidenanannya di FIFA.

“Ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Dengan penuh rasa hormat kepada seluruh yang hadir, saya bisa menyimpulkan apa yang terjadi,” ucap van Oostveen sebagaimana dilansri Goal.

“Negara kecil selalu mampu jadi mayoritas padahal negara seperti Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda dan yang lainnya adalah negara yang membuat sepak bola bisa terkenal di dunia ini,” ucapnya menambahkan.

Pemilihan Presiden FIFA dilakukan seperti layaknya pemilu biasa. Sistemnya adalah setiap negara punya kekuatan suara yang sama, mau itu negara hebat sepak bola ataupun hanya peringkat paling dasar di FIFA. Jadi, Blatter memang tak perlu susah payah meyakinkan negara Eropa yang memang sudah menentang dirinya sejak awal. Pria asal Swiss itu cukup memastikan bahwa suara-suara yang mendukungnya dari 'negara kecil' tidak berpaling darinya.

“Sistem yang ada saat ini seperti racun dan kita harus terus lanjutkan protes ini. Kami sepertinya harus mengambil sebuah kertas kosong dan membuat organisasi FIFA baru. Saya tahu, di luar Eropa, di Amerika, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Asia ada orang-orang yang berpikiran sama dengan kami,” lanjut Oostveen.

'Pemberontakan' terhadap rezim Blatter nampaknya akan semakin seru mengingat UEFA sudah memberi ancaman untuk boikot Piala Dunia 2018, dan sekjen KNVB Van Oostveen pun mendukung rencana tersebut, dan ingin semua negara Eropa kompak.

“Saya hanya bisa menegaskan bahwa pemboikotan baru bisa memiliki dampak ketika aksi ini diambil secara kolektif. Di situlah kita semua bisa memberikan sebuah penegasan. Ide tentang turnamen independen yang terpisah dari Piala Dunia juga menarik untuk dibicarakan,” pungkas pria 44 tahun ini. | Goal | Aditya Wicaksana WP

back to top