Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Birokrasi parasit dan nasib pembangunan

Foto:asiapacific.anu.edu.au Foto:asiapacific.anu.edu.au
Apa yang dibutuhkan dari kelancaran dan kesuksesan program pembangunan pro rakyat? Adalah birokrasi yang cepat bergerak, berkomitmen pengabdian pada rakyat, dan menegakkan hukum demi keadilan. Namun, jika birokrasi bermental parasit maka pembangunan akan membusuk, kering dan gabuk (kosong). 

Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) sampai saat ini, berdasar laporan Komisi Aparatur Sipil Negara, mencapai 4,3 juta orang. Sebagian besar menduduki posisi dalam birokrasi pemerintahan (birokrat). Para birokrat negara tersebut tersebar di departemen dan dinas dari pusat sampai level daerah.

Namun tenaga dalam birokrasi negara tersebut selama ini masih belum memperlihatkan kinerja yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Ciri umum dalam birokrasi Indonesia, merujuk pada penelitian ilmu politik, diantaranya lamban bekerja, memperumit pelayanan publik, boros pembiayaan, penyakit nepotisme dan korupsi, serta bersikap elitis atau feodalistik.

Ciri-ciri tersebut di atas menciptakan sebentuk mental umum: parasit. Pada dunia biologi, parasit merupakan unsur tumbuhan atau makhluk hidup yang lebih sering merugikan pihak atau tubuh yang ditempatinya. Sebab parasit tidak pernah memberi namun menghisap dan menghisap unsur-unsur nutrisi tanpa memberi timbal balik baik.

Menganalogikan birokrasi seperti parasit mungkin terlalu berlebihan. Sebab banyak birokrat yang telah bekerja keras dan berhasil menciptakan prestasi-prestasi luar biasa. Namun demikian kondisi umum birokrasi saat ini seolah membenarkan analogi tersebut.

Sampai-sampai Menteri Susi Pudjiastuti membuat pernyataan resmi bahwa dirinya akan mundur apabila birokrasi bekerja lamban dan tidak bersih. Menteri Susi tampaknya, paska dilantik sebagai menteri, berhadapan dengan birokrasi yang serupa parasit.

Birokrasi Indonesia, apakah akan selalu serupa parasit bagi tubuh pemerintahan? Jawaban ini cukup pelik dan sulit. Namun seluruh rakyat Indonesia berharap bahwa birokrasi Indonesia bisa berkinerja baik, menggunakan prinsip keterbukaan dan anti korupsi, serta mampu bekerja cepat melaksanakan pembangunan.

Tanpa birokrasi yang bekinerja baik, pembangunan demi keadilan dan kesejahteraan sebagaimana termaktub dalam konstitusi hanyalah utopia belaka (angan-angan).

 

back to top