Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Bikin komik itu soal perasaan

Bikin komik itu soal perasaan
Surabaya-KoPi| Simon Hureau, komikus asal Perancis berbagai pengalamannya mengenai menciptakan komik. Bertempat di perpustakaan Institute Fracais (IFI) Surabaya, Hureau menjabarkan hal penting yang harus dimiliki komikus.
 

"Yang paling utama soal imajinasi, karena komik adalah produk kreatif. Bagi saya menciptakan adalah soal feeling. Apa yang sedang saya rasakan, itulah yang saya tulis dan gambar dalam komik saya," ungkap Hureau.

Selama ini, Hureau merupakan salah satu dari sedikit komikus Perancis yang menciptakan karya tentang Indonesia. Beberapa graphic novel atau komik karyanya mengambil tema tentang Indonesia, seperti perjalanan atau pengalaman pribadinya selama mengelilingi Indonesia.

Tentu saja berbagai unsur khas Indonesia dimasukkan ke dalamnya. Misalnya rokok kretek, bajaj, kopi indonesia, suasana desa di Bali, pedagang kaki lima, angkringan, gerobak makanan, dan sebagainya.

Sambil bercengkerama dengan para peserta diskusi, Hureau menceritakan bagaimana pengalamannya berkeliling Indonesia dan memasukkan apa yang ia lihat ke dalam komik. Apa yang ia lihat di sekelilingnya difoto, lalu dibuat sketsa. Jika ia tak punya foto mengenai suasana Indonesia, ia mencarinya lewat kliping atau koran.

Karena itu, tak jarang Hureau menjadi tokoh utama di komik ciptaannya. Misalnya, di komik berjudul "Padang Galak", ia menceritakan pengalamannya berkeliling Bali. Hureau menggambarkan perasaannya selama petualangannya tersebut, mulai ketidaknyamanan, kecemasan, misteri dalam perjalanan, dan sebagainya.

Sebagai komikus, Hureau mengaku banyak tantangan yang harus dihadapinya. Sama seperti di Indonesia, di Perancis karir sebagai komikus masih dianggap tidak prospektif, meski industri komik di Perancis jauh lebih bagus dibandingkan Indonesia. Ia pun sering mengalami konflik pribadi, terutama soal finansial.

"Waktu kakek saya tahu saya jadi komikus, beliau betul-betul kaget dan khawatir. Sampai sekarang masih ada pikiran atau desakan dari orang terdekat saya untuk bekerja di tempat lain. Tapi setelah saya lihat kembali ke belakang, apa yg sudah saya capai sampai sekarang, it's worthed, jd saya tetap teruskan bekerja sebagai komikus," tukas Hureau.

back to top