Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Bikin komik itu soal perasaan

Bikin komik itu soal perasaan
Surabaya-KoPi| Simon Hureau, komikus asal Perancis berbagai pengalamannya mengenai menciptakan komik. Bertempat di perpustakaan Institute Fracais (IFI) Surabaya, Hureau menjabarkan hal penting yang harus dimiliki komikus.
 

"Yang paling utama soal imajinasi, karena komik adalah produk kreatif. Bagi saya menciptakan adalah soal feeling. Apa yang sedang saya rasakan, itulah yang saya tulis dan gambar dalam komik saya," ungkap Hureau.

Selama ini, Hureau merupakan salah satu dari sedikit komikus Perancis yang menciptakan karya tentang Indonesia. Beberapa graphic novel atau komik karyanya mengambil tema tentang Indonesia, seperti perjalanan atau pengalaman pribadinya selama mengelilingi Indonesia.

Tentu saja berbagai unsur khas Indonesia dimasukkan ke dalamnya. Misalnya rokok kretek, bajaj, kopi indonesia, suasana desa di Bali, pedagang kaki lima, angkringan, gerobak makanan, dan sebagainya.

Sambil bercengkerama dengan para peserta diskusi, Hureau menceritakan bagaimana pengalamannya berkeliling Indonesia dan memasukkan apa yang ia lihat ke dalam komik. Apa yang ia lihat di sekelilingnya difoto, lalu dibuat sketsa. Jika ia tak punya foto mengenai suasana Indonesia, ia mencarinya lewat kliping atau koran.

Karena itu, tak jarang Hureau menjadi tokoh utama di komik ciptaannya. Misalnya, di komik berjudul "Padang Galak", ia menceritakan pengalamannya berkeliling Bali. Hureau menggambarkan perasaannya selama petualangannya tersebut, mulai ketidaknyamanan, kecemasan, misteri dalam perjalanan, dan sebagainya.

Sebagai komikus, Hureau mengaku banyak tantangan yang harus dihadapinya. Sama seperti di Indonesia, di Perancis karir sebagai komikus masih dianggap tidak prospektif, meski industri komik di Perancis jauh lebih bagus dibandingkan Indonesia. Ia pun sering mengalami konflik pribadi, terutama soal finansial.

"Waktu kakek saya tahu saya jadi komikus, beliau betul-betul kaget dan khawatir. Sampai sekarang masih ada pikiran atau desakan dari orang terdekat saya untuk bekerja di tempat lain. Tapi setelah saya lihat kembali ke belakang, apa yg sudah saya capai sampai sekarang, it's worthed, jd saya tetap teruskan bekerja sebagai komikus," tukas Hureau.

back to top