Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Bikin komik itu soal perasaan

Bikin komik itu soal perasaan
Surabaya-KoPi| Simon Hureau, komikus asal Perancis berbagai pengalamannya mengenai menciptakan komik. Bertempat di perpustakaan Institute Fracais (IFI) Surabaya, Hureau menjabarkan hal penting yang harus dimiliki komikus.
 

"Yang paling utama soal imajinasi, karena komik adalah produk kreatif. Bagi saya menciptakan adalah soal feeling. Apa yang sedang saya rasakan, itulah yang saya tulis dan gambar dalam komik saya," ungkap Hureau.

Selama ini, Hureau merupakan salah satu dari sedikit komikus Perancis yang menciptakan karya tentang Indonesia. Beberapa graphic novel atau komik karyanya mengambil tema tentang Indonesia, seperti perjalanan atau pengalaman pribadinya selama mengelilingi Indonesia.

Tentu saja berbagai unsur khas Indonesia dimasukkan ke dalamnya. Misalnya rokok kretek, bajaj, kopi indonesia, suasana desa di Bali, pedagang kaki lima, angkringan, gerobak makanan, dan sebagainya.

Sambil bercengkerama dengan para peserta diskusi, Hureau menceritakan bagaimana pengalamannya berkeliling Indonesia dan memasukkan apa yang ia lihat ke dalam komik. Apa yang ia lihat di sekelilingnya difoto, lalu dibuat sketsa. Jika ia tak punya foto mengenai suasana Indonesia, ia mencarinya lewat kliping atau koran.

Karena itu, tak jarang Hureau menjadi tokoh utama di komik ciptaannya. Misalnya, di komik berjudul "Padang Galak", ia menceritakan pengalamannya berkeliling Bali. Hureau menggambarkan perasaannya selama petualangannya tersebut, mulai ketidaknyamanan, kecemasan, misteri dalam perjalanan, dan sebagainya.

Sebagai komikus, Hureau mengaku banyak tantangan yang harus dihadapinya. Sama seperti di Indonesia, di Perancis karir sebagai komikus masih dianggap tidak prospektif, meski industri komik di Perancis jauh lebih bagus dibandingkan Indonesia. Ia pun sering mengalami konflik pribadi, terutama soal finansial.

"Waktu kakek saya tahu saya jadi komikus, beliau betul-betul kaget dan khawatir. Sampai sekarang masih ada pikiran atau desakan dari orang terdekat saya untuk bekerja di tempat lain. Tapi setelah saya lihat kembali ke belakang, apa yg sudah saya capai sampai sekarang, it's worthed, jd saya tetap teruskan bekerja sebagai komikus," tukas Hureau.

back to top