Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

AMBON – Wakil Ketua Majelis Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan mengatakan, hingga saat ini Muhammadiyah telah memiliki 22.562 Amal Usaha, yang sebagian besar berasal dari wakaf.

“Muhammadiyah hanya memiliki modal kepercayaan, sehingga banyak orang yang berkeinginan untuk mewakafkan, baik tanah maupun harta benda lainnya kepada Muhammadiyah,” terang Amirsyah, Rabu (22/2) dalam acara Rapat Konsolidasi Pra Tanwir Majelis Dikdasmen dan Wakaf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku yang bertempat di SMK Muhammadiyah Ambon.

Meskipun demikian, Amirsyah mengatakan masih cukup banyak kendala perwakafan di Indonesia. Pertama, masih lemahnya pemahaman umat Islam dalam pengelolaan wakaf, seperti adanya anggapan bahwa wakaf itu hanya milik Allah semata yang tidak boleh diubah atau diganggu gugat.

Kedua, masih belum adanya persamaan persepsi, peran dan sinergi para pejabat teknis wakaf di daerah dengan para pihak terkait terhadap upaya pemerintah pusat dalam upaya pengembangan wakaf.

Ketiga, nazhir masih kurang profesional, sehingga wakaf belum dikelola secara optimal. Posisi nazhir baik perorangan maupun lembaga menempati peran sentral dalam mewujudkan tujuan wakaf yang ingin melestarikan manfaat wakaf.

back to top