Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

AMBON – Wakil Ketua Majelis Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan mengatakan, hingga saat ini Muhammadiyah telah memiliki 22.562 Amal Usaha, yang sebagian besar berasal dari wakaf.

“Muhammadiyah hanya memiliki modal kepercayaan, sehingga banyak orang yang berkeinginan untuk mewakafkan, baik tanah maupun harta benda lainnya kepada Muhammadiyah,” terang Amirsyah, Rabu (22/2) dalam acara Rapat Konsolidasi Pra Tanwir Majelis Dikdasmen dan Wakaf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku yang bertempat di SMK Muhammadiyah Ambon.

Meskipun demikian, Amirsyah mengatakan masih cukup banyak kendala perwakafan di Indonesia. Pertama, masih lemahnya pemahaman umat Islam dalam pengelolaan wakaf, seperti adanya anggapan bahwa wakaf itu hanya milik Allah semata yang tidak boleh diubah atau diganggu gugat.

Kedua, masih belum adanya persamaan persepsi, peran dan sinergi para pejabat teknis wakaf di daerah dengan para pihak terkait terhadap upaya pemerintah pusat dalam upaya pengembangan wakaf.

Ketiga, nazhir masih kurang profesional, sehingga wakaf belum dikelola secara optimal. Posisi nazhir baik perorangan maupun lembaga menempati peran sentral dalam mewujudkan tujuan wakaf yang ingin melestarikan manfaat wakaf.

back to top