Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Berbondong dan berebut tanah Borobudur

Berbondong dan berebut tanah Borobudur
Bukan saja ada Mandala Borobudur yang terkenal di seantero jagad, tetapi aneka tambang terpendam di dalamnya. Mungkin ini yang membuat banyak pemodal besar mengincar Borobudur. Tetapi masyarakatnya tetap termiskin ke dua di Kab Magelang. Ironis lagi paradoks ya..

Borobudur-KoPi| Dalam cerita Materialisme Histori Marxisme, kita mengenal urutan fase zaman; komunisme primitif, zaman budak, zaman feodal hingga zaman kapitalisme. Pada masa kapitalisme kekuatan modal yang hanya dimiliki oleh segelintir orang menguasai hampir semua sektor ekonomi dan potensi alam di satu wilayah.

Fenomena kapitalisme ini juga tampak di wilayah Borobudur. Entah, sebuah kebetulan atau tidak, tetapi saat ini berbondong-bondong orang bermodal datang dan membeli tanah di Borobudur. Kebanyakan dari mereka adalah orang asing yang menginvestasikan modalnya untuk bisnis penginapan. Mereka, bahkan membangun bisnis mereka di atas tanah yang seharusnya haram didirikan bangunan, seperti sawah-sawah atau kawasan resapan yang sudah diatur dalam Kawasan Stratergis Nasional (KSN).

Sebagian lain datang melalui organisasi agama. Hartati Murdaya, mantan bendahara Partai Demokrat yang pernah ditahan KPK, adalah salah satu yang disebut-sebut membeli tanah-tanah yang luas di sekitar Borobudur.

"Jumlahnya hektaran, terutama di sekitar Candi Borobudur." Kata salah seorang ketua RT di kawasan dusun Jowahan. " Semua yang di belakang candi itu sudah punya dia semua, kecuali sedikit. Meskipun sudah dibeli, tanah masih boleh digarap oleh pemilik lama."

Selain itu disebut-sebut bernama Fery, salah seorang ponakan dari Liem Soe Liong, Konglomerat, pemilik Grup Indofood. Beberapa waktu berselang ia membeli tanah di sekitar kawasan Bejen, dekat pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo yang dikenal eksotis dan mistis.

Menurut penduduk Bejen, Fery ingin membangun Vihara dan Patung Buddha besar sebagai bentuk persembahan dan pertobatannya. Namun, masyarakat masih menolak pembangunan itu.

Borobudur secara geofrafis memiliki wilayah sebagian perbukitan yang melingkari dari Kulonprogo hingga Purworejo. Di kawasan ini terdapat banyak kekayaan alam yang terpendam seperti tambang marmer merah yang hanya ada dua tempat di dunia; Indonesia dan Italia.

Di Kawasan perbukitan ini hadir NGO asing yang berfokus pada isu konservarsi alam. NGO bernama Rainforest Alliance ini telah bertahun-tahun beraktifitas di kawasan perbukitan Borobudur. Tak banyak orang tahu apa yang sudah diperbuat NGO asing terhadap kawasan yang diduga memiliki kandungan kekayaan alam. Tetapi masyarakat lebih tahu bahwa ada orang asing membangun sebuah hotel di atas bukit yang termasuk kawasan haram dibangun.

Berbondongnya kepentingan asing dan pemodal besar di wilayah Borobudur, menurut Yoyo, seorang seniman lukis yang juga pecinta lingkungan dianggap sudah menguatirkan. Para pemodal besar ini bisa menjadi ancaman lingkungan. Sementara dari dulu masyarakat tetap dalam kemiskinan.

"Borobudur, kok jadi seperti ini, berubah jadi Bali. Ironis lagi paradoks," prihatinnya. |Reporter: E Hermawan| Winda Efanur FS

Baca: Di Borobudur, selain marmer merah, ada emas juga

back to top