Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Bedah plastik kosmetik, cantik tak lagi harus jadi tabu

Bedah plastik kosmetik, cantik tak lagi harus jadi tabu
Surabaya–KoPi| Perkembangan teknologi kedokteran estetik membawa perubahan gaya hidup pada masyarakat. Mereka yang ingin tampak lebih muda tak hanya melakukan perawatan wajah dan kulit saja, tetapi juga menjalani bedah plastik.
 

Namun, masyarakat Indonesia masih memandang bedah plastik sebagai suatu keanehan. Masyarakat selalu menilai bedah plastik justru membuat wajah seseorang menjadi mengerikan. Gambaran wajah Raja Pop Michael Jackson yang rusak karena bedah plastik menjadi image yang lekat dengan tindakan bedah plastik.

Aesthetic doctor dari dari Profira Clinic Surabaya dr. Fifin Marini, M.Biomed, mengakui bedah plastik di Indonesia masih belum populer. Ia menyebutkan bedah plastik kosmetik erat hubungannya dengan budaya masyarakat.

“Di Korea Selatan bedah plastik kosmetik sangat populer, karena budaya masyarakat Korea sangat mendukung bedah plastik kosmetik. Bahkan gadis yang berulang tahun ke-17 biasanya mendapat hadiah berupa bedah plastik kosmetik,” ungkapnya.

dr. Fifin menjelaskan, sebenarnya ada dua aliran dalam bedah plastik. Pertama adalah bedah plastik rekonstruksi, yang fungsinya untuk merekonstruksi bagian tubuh yang malformasi. Misalnya bibir sumbing atau luka karena kecelakaan. Aliran kedua adalah bedah plastik kosmetik, yang berfungsi untuk memperindah bagian tubuh.

Aliran kedua inilah yang kini sangat berkembang di Korea Selatan. Mereka sadar ada kebutuhan masyarakat pada bedah plastik kosmetik. dr. Fifin mengatakan, wajah alami orang Korea secara estetika memang kurang proporsional.

“Wajah mereka cenderung lebih kotak, mata yang sangat sipit, dan wajah yang datar, sehingga kurang indah. Jadi ada keinginan masyarakat Korea untuk memperbaiki bentuk wajah mereka sehingga lebih indah,” terang peraih gelar Magister of Biomedicine di bidang Anti-Aging Medicine ini.

dr. Fifin menceritakan, yang pertama kali menemukan metode suntik botoks untuk menghilangkan kerutan di sekitar mata dan mengecilkan rahang adalah dokter Korea. Dokter Korea paham kalau wajah alami orang Korea cenderung kotak dengan rahang besar, sehingga menggunakan suntik botoks untuk mengubah ciri tersebut. Penemuan yang berawal dari negeri ginseng tersebut kini digunakan di seluruh dunia.

Jika dibandingkan dengan Indonesia hal itu sangat berbeda, karena masyarakat Indonesia masih sangat terikat budaya. Budaya orang Jawa yang cenderung menerima apa adanya mempengaruhi anggapan masyarakat terhadap bedah kosmetik. “Kalau di Indonesia kan ada anggapan, wajah sebagai pemberian Tuhan sebaiknya tidak diotak-atik dan diterima apa adanya.,” ujar dr. Fifin.

Selain itu, hubungan orangtua dan anak juga berpengaruh. DI Indonesia orangtua mengajarkan anak mereka untuk menerima apa pun yang sudah diberikan Tuhan. Sementara, di Korea justru orangtua yang mendorong anak-anak mereka untuk melakukan bedah kosmetik.

Namun, dr. Fifin mengakui saat ini pandangan masyarakat Indonesia terhadap bedah plastik kosmetik sudah lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Dokter-dokter Indonesia juga lebih terbuka dan sering mengikuti studi banding untuk mengikuti perkembangan teknologi kedokteran.

 

back to top