Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Bayi yang tertukar, Bukan sinetron!

Bayi yang tertukar, Bukan sinetron!

Afrika-KoPi, Sebuah pengadilan di negara Afrika kini tengah dipusingkan dengan kasus bayi yang tertukar. Menurut kabar, kedua bayi tersebut tertukar di sebuah rumah sakit bersalin pada tanggal 2 Agustus tahun 2010 lalu.

The Centre for Child Law, sebuah kelompok di Afrika Selatan yang memperjuangkan hak-hak anak, menyatakan bahwa pihak pengadilan Afrika Selatan telah ditunjuk untuk menangani kasus tertukarnya bayi di rumah sakit Boksburg, dekat dengan Johannesburg, dan untuk menentukan yang terbaik demi kepentingan si anak.


Ms du Toit, salah satu ibu dari bayi yang tertukar 4 tahun lalu tersebut, yang kini tak memiliki suami dan tak bekerja, mengetahui bahwa bayinya tertukar saat dirinya mencoba untuk mendapatkan tunjangan anak.


Ms du Toit tak bisa mendapatkan tunjangan untuk anaknya karena setelah dilakukan tes, ternyata anak yang selama ini ia asuh bukanlah anak kandung dirinya dan suaminya. Setelah itu, Ms du Toit mendatangi rumah sakit untuk melacak kasus tersebut dan meminta anaknya kembali serta mengembalikan anak yang ia asuh kepada orangtua kandungnya. Sayangnya, ibu dari anak tersebut menolak untuk menukar kembali anaknya.


Tak senang dengan hal tersebut, akhirnya Ms du Toit menyerahkan kasus ini ke pengadilan. “Proses pengadilan ini perlu dan harus dijalankan agar anak-anak ini dapat bertemu dengan ibu kandung masing-masing,” ujar Ms du Toit.


(Ana Puspita)
Sumber: News.com.au


back to top