Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Banyak hotel di Jogja tak punya lahan parkir

nul.is nul.is

Yogyakarta-KoPi| Menurut data tahun 2013 (Tribunnews), jumlah hotel di Yogyakarta mencapai 1.160. Jumlah tersebut belum termasuk data hotel yang memiliki IMB. Sedangkan data dari Dinas Perijinan Kota Yogyakarta hingga tutup buku 2014 ini telah mengeluarkan 1.100 IMB.

Menjamurnya hotel di Yogyakarta merupakan angin positif untuk pertumbuhan investasi. Nah, dengan tumbuh suburnya hotel ini membawa banyak dampak. Bagi pengamat layanan publik UGM Prof. Agus Pramusinto kehadiran hotel membawa dilematis.

“Saya tidak menolak hotel tapi yang perlu dipertimbagkan, hotel yang dibangun tidak mengganggu lalu lintas, soalnya banyak hotel yang tidak memiliki lahan parkir. Selain itu hotel juga banyak menggusur lahan. Di sinilah peran instansi perijinan bermain. Pihak dinas memang harus mempermudah perijinan tapi di sisi lain, dinas juga sebagai kontrol”, jelasnya.

Tambahan juga disampaikan oleh pengamat kebijakan publik UGM, DR. Ely Santoso, “Semua pembangunan di Yogyakarta harus kembali lagi pada plan tata kota Yogyakarta yang telah dibuat. Jangan sampai pembangunan hotel atau bangunan lainnya keluar dari roh Jogja sendiri”, sarannya.

Mengenai hal ini posisi dinas tetap berada pada peraturan yang berlaku. Hotel memang banyak menadatangkan tamu. Pendiriannya melalui beberapa tahap. Pertama memiliki advis planning tentang informasi tentang tata ruang kota, misal ke birokrasi A menyetujui pembangunannya.

“Kalau tata ruangnya di daerah perdagangan dan jasa boleh. Tetapi kalau tata ruangnya di daerah perumahan didirikan hotel butuh pertimbangan lagi. Selain itu juga ada pertimbangan dampak lingkungan yang mendapatkan rekomendasi dari BLH (Badan Lingkungan Hidup), jelas kepala bidang pelayanan Dinas Perijinan Kota Yogyakarta, Setiono. |Winda Efanur FS|

 

back to top