Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Bambang Tridoyo melukis di jalanan hingga memiliki gallery

Bambang Tridoyo melukis di jalanan hingga memiliki gallery

Jakarta-KoPi| Bambang Tridoyo (60) pria dengan topi baret di kepala ini terus menggoreskan pastel di atas kanvas, menggambar lekuk demi lekuk wajah orang yang akan dilukisnya. Bagi pria kelahiran 1956 ini, melukis adalah bagian dari hidupnya yang tak akan pernah mati.

Pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini mulai tertarik dan mencintai dunia lukis sejak tahun 1975. Di tahun yang sama pula, ia mulai menggeluti dunia lukis. Melukis telah menjadi hobi dan profesinya saat ini.

Berbeda dengan pelukis jalanan pada umumnya yang menggunakan cat air sebagai media lukis. Bambang justru malah menggunakan kapur pastel sebagai media dalam lukisnya.

"Saya melukis pakai hati, kapur ini hanya medianya saja," tegasnya.

Selain menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelukis, ia juga sering memberikan pengetahuan mengenai dunia lukis yang dimilikinya kepada pelajar atau pun mahasiswa melalui sebuah workshop.

Sebelum menjadi seorang pelukis ia pernah menjalani profesi sebagai seorang salesman di perusahaan Unilever. Tidak hanya itu, ia pun pernah bekerja di Hotel Hiltong (sekarang Hotel Sultan), bagian dekorasi. Namun, karena memiliki darah seni yang begitu tinggi akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang seniman.

Darah seni yang selama ini melekat dalam dirinya menurun dari sang ayah. Meskipun begitu, keahlian dan kemampuannya dalam melukis ia dapatkan dengan cara belajar otodidak.

“Ayah saya dulunya seniman lukis juga seperti saya. Ketujuh saudara saya pun semuanya kini menggeluti dunia seni, cuma alirannya saja yang berbeda-beda,” ujar Bambang.

Ratusan karya dengan berbagai tema pun sudah laris manis terjual olehnya. Dari mulai kisaran harga Rp400.000 hingga mencapai jutaan rupiah. Penikmat lukisannya tidak hanya berasal dari kalangan dalam negeri saja, melainkan ada juga dari luar Indonesia, salah satunya Jepang.

Di tahun 2007, ia sudah memiliki sebuah galeri sendiri di kawasan Pondok Kopi, Keranji, Bekasi Barat, dan diberi nama Galeri Masken, yang berarti Dimas dan Niken. Kedua nama itu merupakan nama anaknya dari istri pertama. Bermodalkan hobi dan kemampuan yang dimiliki, di tahun 2010 ia kembali membuka tempat usaha melukis di trotoar kawasan wisata Kota Tua Jakarta bersama para pelukis lainnya.

Menjalani hidup sebagai seorang pelukis selama lebih dari 40 tahun dengan penghasilan yang tak menentu, membuatnya harus merasakan kegagalan dalam berumah tangga. Bukan hanya untuk sekali, melainkan sudah ketiga kali dalam hidupnya.

Penghasilan yang tidak menentu menjadi alasan utama ia ditinggal oleh istri-istrinya dahulu. Meskipun begitu hal ini tidak menjadikan ia patah semangat, dan berhenti berkarya dalam melukis.

"Saya menganggap semua kejadian yang telah menimpa saya selama ini merupakan ujian dari Allah SWT. Dan saya percaya Allah pasti lebih tau jalan yang terbaik untuk saya. Lagi pula, saya kini telah memiliki tanggung jawab baru kepada istri keempat saya beserta anak-anaknya. Melukis menjadi tempat saya menuangkan isi hati saya, jadi sampai kapanpun saya tidak akan pernah berhenti melukis, kecuali kalau saya sudah meninggal nantinya," jelasnya.

Himpitan hidup yang dialami, tidak menjadi alasan bagi Bambang untuk berhenti berkaya dalam dunia seni lukis. Hanya satu harapannya, ia ingin agar ilmu yang dimilikinya kelak dapat bermanfaat bagi orang banyak.| Risty Mirsawati

back to top