Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Balada Pilkada Surabaya, penuh konspirasi dan drama

Balada Pilkada Surabaya, penuh konspirasi dan drama
Surabaya - KoPi | Tak ada lelahnya drama yang melingkupi Pilkada Surabaya. Setelah sebelumnya masyarakat Surabaya lega karena Pilkada Surabaya tak jadi ditunda, kini mereka kembali cemas lantaran pasangan Rasiyo-Dhimam Abror Djuraid dicoret oleh KPU. Pasangan penantang calon petahana Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana ini dicoret lantaran berkas-berkas mereka dianggap tidak memenuhi syarat.
 

Dicoretnya pasangan Rasiyo-Dhimam ini kembali memunculkan anggapan bahwa memang ada upaya menjegal Pilkada Surabaya. Indikasi itu muncul sejak masa pendaftaran bakal calon walikota gelombang pertama. Partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Majapahit berupaya menyeleksi kandidat yang dianggap mampu menantang Risma-Whisnu. Namun hingga menjelang masa pendaftaran, tak ada calon yang cocok. Bahkan, Koalisi Majapahit justru pecah karena beberapa partai anggotanya berbeda pendapat soal pengajuan calon.

Saat pendaftaran bakal calon walikota, drama berikutnya kembali terjadi. PAN dan Demokrat akhirnya mengusung Dhimam Abror-Haries Purwoko sebagai bakal calon walikota-wakil walikota Surabaya. Namun, saat proses pendaftaran, mendadak Haries ijin ke toilet dan kabur dari kantor KPU Surabaya.

KPU Surabaya akhirnya memperpanjang masa pendaftaran bakal calon walikota-wakil walikota Surabaya, namun tetap tak ada yang mendaftar. KPU kembali melakukan perpanjangan pendaftaran. Kali ini Partai Demokrat dan PAN kembali mengusung calon, yaitu Rasiyo-Dhimam Abror. Namun dalam proses pendaftaran ada sedikit ketegangan. Surat rekomendasi untuk Dhimam hanya berupa fotokopi hasil scan. Saat itu, KPU Surabaya memutuskan menerima berkas-berkas Rasiyo-Dhimam. Namun KPU Surabaya tetap meminta keduanya melengkapi berkas yang masih kurang, terutama surat rekomendasi asli dengan tanda tangan basah.

Belakangan, surat rekomendasi asli untuk Dhimam malah hilang dibawa kabur orang dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Sejak saat itu, aroma penjegalan Pilkada Surabaya semakin kentara. 

KPU Surabaya tiba-tiba membuat peraturan bahwa dokumen hasil scan yang dikirim sebelumnya harus identik dalam segala hal yang dikirim belakangan. Padahal DPP PAN sudah menyatakan menerbitkan rekomendasi baru karena rekomendasi awal telah hilang, sehingga tak mungkin identik. Akibatnya, KPU mencoret nama Rasiyo-Dhimam, dan keduanya tak mungkin lagi mengajukan diri sebagai calon walikota atau wakil walikota.

Hilangnya surat rekomendasi pertama tersebut memantik berbagai kecurigaan. Ada yang beranggapan bahwa surat tersebut sengaja disembunyikan dan jadi barang dagangan di pasar gelap. Surat sangat penting tersebut dilelang dengan harga sangat mahal.

Ada pula anggapan dijegalnya Rasiyo-Dhimam ini juga merupakan upaya menjegal Risma-Whisnu. Tujuannya, Pilkada Surabaya ditunda hingga 2017 dan pasangan Risma-Whisnu kehilangan momentum.

back to top