Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Ayo cat kukumu untuk Hari Badak Internasional!

Ayo cat kukumu untuk Hari Badak Internasional!
KoPi| Nasib badak kian hari makin memprihatinkan. Populasi satwa bercula tersebut kian lama kian menyusut. Bertepatan dengan Hari Badak Internasional (World Rhino Day) yang jatuh pada hari ini (22/9), World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia merilis populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.
 

Menurut WWF Indonesia, saat ini populasi badak Jawa hanya tinggal 60 ekor. Integritas habitatnya bersaing dengan pertumbuhan masif langkap (Arenga obtusifolia), sejenis tanaman palem yang menghalangi sinar matahari menembus bagian bawah hutan. Tanaman langkap menyebabkan pakan alami badak tak dapat tumbuh.

“Ini merupakan salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan populasi badak Jawa, selain bencana alam,” kata Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia, dalam press rilis WWF, Senin (21/9).

Menurut Arnold, badak Jawa harus segera dicarikan “rumah baru” selain di Ujung Kulon, sebagai habitat kedua. Ini adalah langkah mitigasi yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan populasi Badak Jawa di dunia. Kondisi habitat badak Jawa di TNUK sangat rentan oleh bencana alam, karena lokasinya yang dekat Gunung Krakatau. Jika suatu saat gunung tersebut meletus dan menghancurkan habitat badak Jawa, maka umat manusia akan kehilangan salah satu aset keanekaragaman hayati.

Di luar Indonesia, ancaman utama bagi populasi badak adalah perburuan liar. Setiap tahun, ratusan badak putih dan badak hitam Afrika dibantai demi culanya. Cula tersebut dianggap sebagai obat mujarab dalam pengobatan tradisional, terutama bagi penduduk Vietnam. Jika perburuan liar terus berlangsung, diperkirakan badak akan punah pada tahun 2026 mendatang.

Salah satu upaya kampanye penghentian perburuan badak dilakukan oleh Save the Rhino International. Organisasi yang bermarkas di Inggris tersebut mengajak para netizen melakukan kampanye penghentian perburuan badak lewat nail arts. Mereka mengajak netizen mengecat kuku mereka dengan cat atau gambar bertema badak, lalu mengunggahnya di media sosial dengan hashtag #nailit4rhinos. Mengapa kuku? 

Hal itu tak lain karena kuku manusia terbuat dari bahan yang sama dengan cula badak, yaitu keratin. Artinya, mengkonsumsi cula badak sebagai obat sama saja memakan kuku kita sendiri. Keratin sendiri sama sekali tidak memiliki nutrisi jika dikonsumsi. Segala macam klaim mengenai efektivitas cula badak dalam pengobatan tradisional hanyalah imajinasi manusia belaka.

back to top