Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Pilkada, pemilihan kepala daerah, kabupaten/kotamadya bisa menjadi arena para 'tikus politik' berjaya. Mengapa? Ada kecenderungan rakyat masih saja melihat pemimpin politik melalui loyalisme sempit daripada rasionalisme kritis. 

Loyalisme sempit merupakan sikap yang berlandaskan pada ketidapedulian apa yang benar dan salah secara moral, etika dan rasionalitas. Satu individu akan memberikan loyalitas dalam bentuk dukungan apapun tanpa memperhatikan sisi-sisi kejahatan dari yang didukungnya. Kalimat sederhananya 'apapun wujudmu, pasti kubela'.

Mereka yang berada dalam perangkap loyalisme sempit cenderung tidak mempedulikan parameter rasional dan kritis dalam proses pemberian dukungan. Oleh karenanya, kandidat bupati atau walikota tidak mendapatkan evaluasi tentang praktik-praktik politik yang telah dilakukan. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai dosa politik bisa diabaikan begitu saja oleh loyalisme sempit.

Padahal pada pilkada serentak di 262 kabupaten/kota Indonesia ternyata masih ada mantan narapidana korupsi. Selain itu tidak sedikit para kandidat yang tidak berpretasi dengan pekerjaan-pekerjaan tidak menguntungkan kepentingan publik ikut bursa pencalonan bupati/walikota. Sayangnya, masih saja ada partai politik yang memberikan dukungan kepada para elite yang memiliki dosa politik, korupsi, dan tanpa prestasi menonjol dalam kepentingan publik. 

Loyalisme politik juga melandaskan pada ikatan-ikatan primordial termasuk di dalamnya kesukuan dan identitas tertentu. Proses manipulasi sentimen kesukuan dan identas direproduksi kalangan elite dalam bursa kandidat bupati/walikota dalam rangka menutupi kelemahan kualitas berpolitik.

Rasionalisme kritis secara ideal merupakan persyaratan agar demokrasi dan pemilihan kepala daerah mampu menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Kualitas komitmen, visi dan program-program pro rakyat. Rasionalisme kritis melandaskan dukungan pada evaluasi berjarak seperti evaluasi moralitas, kinerja, dan komitmen kerakyatan. 

Para tikus politik akan berjaya dalam pilkada serentak tahun ini apabila rakyat masih menggunakan loyalisme sempit dibandingkan rasionalisme kritis. Ketika para tikus politik berjaya, maka daerah-daerah tidak akan mampu mewujudkan cita-cita meraih kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. 

back to top