Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Pilkada, pemilihan kepala daerah, kabupaten/kotamadya bisa menjadi arena para 'tikus politik' berjaya. Mengapa? Ada kecenderungan rakyat masih saja melihat pemimpin politik melalui loyalisme sempit daripada rasionalisme kritis. 

Loyalisme sempit merupakan sikap yang berlandaskan pada ketidapedulian apa yang benar dan salah secara moral, etika dan rasionalitas. Satu individu akan memberikan loyalitas dalam bentuk dukungan apapun tanpa memperhatikan sisi-sisi kejahatan dari yang didukungnya. Kalimat sederhananya 'apapun wujudmu, pasti kubela'.

Mereka yang berada dalam perangkap loyalisme sempit cenderung tidak mempedulikan parameter rasional dan kritis dalam proses pemberian dukungan. Oleh karenanya, kandidat bupati atau walikota tidak mendapatkan evaluasi tentang praktik-praktik politik yang telah dilakukan. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai dosa politik bisa diabaikan begitu saja oleh loyalisme sempit.

Padahal pada pilkada serentak di 262 kabupaten/kota Indonesia ternyata masih ada mantan narapidana korupsi. Selain itu tidak sedikit para kandidat yang tidak berpretasi dengan pekerjaan-pekerjaan tidak menguntungkan kepentingan publik ikut bursa pencalonan bupati/walikota. Sayangnya, masih saja ada partai politik yang memberikan dukungan kepada para elite yang memiliki dosa politik, korupsi, dan tanpa prestasi menonjol dalam kepentingan publik. 

Loyalisme politik juga melandaskan pada ikatan-ikatan primordial termasuk di dalamnya kesukuan dan identitas tertentu. Proses manipulasi sentimen kesukuan dan identas direproduksi kalangan elite dalam bursa kandidat bupati/walikota dalam rangka menutupi kelemahan kualitas berpolitik.

Rasionalisme kritis secara ideal merupakan persyaratan agar demokrasi dan pemilihan kepala daerah mampu menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Kualitas komitmen, visi dan program-program pro rakyat. Rasionalisme kritis melandaskan dukungan pada evaluasi berjarak seperti evaluasi moralitas, kinerja, dan komitmen kerakyatan. 

Para tikus politik akan berjaya dalam pilkada serentak tahun ini apabila rakyat masih menggunakan loyalisme sempit dibandingkan rasionalisme kritis. Ketika para tikus politik berjaya, maka daerah-daerah tidak akan mampu mewujudkan cita-cita meraih kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. 

back to top