Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Awas "tikus politik" berjaya dalam pilkada

Pilkada, pemilihan kepala daerah, kabupaten/kotamadya bisa menjadi arena para 'tikus politik' berjaya. Mengapa? Ada kecenderungan rakyat masih saja melihat pemimpin politik melalui loyalisme sempit daripada rasionalisme kritis. 

Loyalisme sempit merupakan sikap yang berlandaskan pada ketidapedulian apa yang benar dan salah secara moral, etika dan rasionalitas. Satu individu akan memberikan loyalitas dalam bentuk dukungan apapun tanpa memperhatikan sisi-sisi kejahatan dari yang didukungnya. Kalimat sederhananya 'apapun wujudmu, pasti kubela'.

Mereka yang berada dalam perangkap loyalisme sempit cenderung tidak mempedulikan parameter rasional dan kritis dalam proses pemberian dukungan. Oleh karenanya, kandidat bupati atau walikota tidak mendapatkan evaluasi tentang praktik-praktik politik yang telah dilakukan. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai dosa politik bisa diabaikan begitu saja oleh loyalisme sempit.

Padahal pada pilkada serentak di 262 kabupaten/kota Indonesia ternyata masih ada mantan narapidana korupsi. Selain itu tidak sedikit para kandidat yang tidak berpretasi dengan pekerjaan-pekerjaan tidak menguntungkan kepentingan publik ikut bursa pencalonan bupati/walikota. Sayangnya, masih saja ada partai politik yang memberikan dukungan kepada para elite yang memiliki dosa politik, korupsi, dan tanpa prestasi menonjol dalam kepentingan publik. 

Loyalisme politik juga melandaskan pada ikatan-ikatan primordial termasuk di dalamnya kesukuan dan identitas tertentu. Proses manipulasi sentimen kesukuan dan identas direproduksi kalangan elite dalam bursa kandidat bupati/walikota dalam rangka menutupi kelemahan kualitas berpolitik.

Rasionalisme kritis secara ideal merupakan persyaratan agar demokrasi dan pemilihan kepala daerah mampu menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Kualitas komitmen, visi dan program-program pro rakyat. Rasionalisme kritis melandaskan dukungan pada evaluasi berjarak seperti evaluasi moralitas, kinerja, dan komitmen kerakyatan. 

Para tikus politik akan berjaya dalam pilkada serentak tahun ini apabila rakyat masih menggunakan loyalisme sempit dibandingkan rasionalisme kritis. Ketika para tikus politik berjaya, maka daerah-daerah tidak akan mampu mewujudkan cita-cita meraih kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. 

back to top