Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!
KoPi| Orang tua kita selalu menasehati agar mengambil makanan secukupnya dan jangan pernah menyia-nyiakan makanan. Namun, di jaman modern ini, saat manusia mencapai kemakmuran tertinggi, semakin berlebih bahan makanan yang tersedia. Sayangnya tak semuanya habis termakan. Pernahkah kita berpikir seberapa besar bahaya jika kita membuang makanan sisa?
 Badan pangan dunia, FAO, memperkirakan, manusia membuang sampah sisa makanan sebesar 1,4 miliar ton setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa. Jumlah itu disebut jauh lebih berat daripada Gunung Fuji yang ada di Jepang.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology, makanan sisa memberi beban yang luar biasa pada planet ini. Limbah makanan disebut sebagai penyebab pemanasan global. Negara-negara Barat dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada kondisi kritis ini.

"Salah satu penyebab perubahan iklim adalah gaya konsumsi makanan di negara-negara Barat," ungkap Jurgen Kropp, peneliti asal University of Postdam, Jerman.

Kropp mengungkapkan, meskipun jumlah konsumsi tidak banyak berubah selama 50 tahun terakhir, surplus makanan secara global mencapai meningkat 65 persen lebih banyak. Produksi makanan yang semakin banyak berakibat pada makin besarnya gas rumah kaca yang dikeluarkan sektor pertanian. Parahnya, meski produksi makanan dunia semakin banyak, hal itu tidak mengurangi jumlah korban kelaparan di negara-negara miskin.

Dalam penelitian tersebut, Kropp dan rekan-rekannya menyebutkan, dengan menghindari membuang makanan sisa, manusia dapat mencegah efek bencana iklim seperti cuaca ekstrem.

"Sektor pertanian merupakan pendorong terbesar perubahan iklim, bertanggungjawab pada 20 persen emisi gas rumah kaca secara global pada tahun 2010. Menghindari pembuangan makanan sisa dapat menghindari emisi gas rumah kaca yang tak perlu dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim," jelas Prajal Pradhan, rekan peneliti Kropp.

Menurut data FAO, setiap tahun sekitar sepertiga makanan di dunia dibuang sia-sia. Makanan sisa tersebut bernilai kurang lebih US$ 1 triliun (sekitar Rp 13 ribu triliun). Padahal, jumlah tersebut dapat memberi makan 2 triliun orang. Saat ini, diperkirakan ada 800 juta orang di dunia yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. |Huffington Post

back to top