Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!
KoPi| Orang tua kita selalu menasehati agar mengambil makanan secukupnya dan jangan pernah menyia-nyiakan makanan. Namun, di jaman modern ini, saat manusia mencapai kemakmuran tertinggi, semakin berlebih bahan makanan yang tersedia. Sayangnya tak semuanya habis termakan. Pernahkah kita berpikir seberapa besar bahaya jika kita membuang makanan sisa?
 Badan pangan dunia, FAO, memperkirakan, manusia membuang sampah sisa makanan sebesar 1,4 miliar ton setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa. Jumlah itu disebut jauh lebih berat daripada Gunung Fuji yang ada di Jepang.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology, makanan sisa memberi beban yang luar biasa pada planet ini. Limbah makanan disebut sebagai penyebab pemanasan global. Negara-negara Barat dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada kondisi kritis ini.

"Salah satu penyebab perubahan iklim adalah gaya konsumsi makanan di negara-negara Barat," ungkap Jurgen Kropp, peneliti asal University of Postdam, Jerman.

Kropp mengungkapkan, meskipun jumlah konsumsi tidak banyak berubah selama 50 tahun terakhir, surplus makanan secara global mencapai meningkat 65 persen lebih banyak. Produksi makanan yang semakin banyak berakibat pada makin besarnya gas rumah kaca yang dikeluarkan sektor pertanian. Parahnya, meski produksi makanan dunia semakin banyak, hal itu tidak mengurangi jumlah korban kelaparan di negara-negara miskin.

Dalam penelitian tersebut, Kropp dan rekan-rekannya menyebutkan, dengan menghindari membuang makanan sisa, manusia dapat mencegah efek bencana iklim seperti cuaca ekstrem.

"Sektor pertanian merupakan pendorong terbesar perubahan iklim, bertanggungjawab pada 20 persen emisi gas rumah kaca secara global pada tahun 2010. Menghindari pembuangan makanan sisa dapat menghindari emisi gas rumah kaca yang tak perlu dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim," jelas Prajal Pradhan, rekan peneliti Kropp.

Menurut data FAO, setiap tahun sekitar sepertiga makanan di dunia dibuang sia-sia. Makanan sisa tersebut bernilai kurang lebih US$ 1 triliun (sekitar Rp 13 ribu triliun). Padahal, jumlah tersebut dapat memberi makan 2 triliun orang. Saat ini, diperkirakan ada 800 juta orang di dunia yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. |Huffington Post

back to top