Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

gmbr/abcnews.go.com gmbr/abcnews.go.com

Jogja-KoPi| Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) selama bulan September, telah menerima 15 pengaduan terkait program kredit daring.

Seperti dipaparkan Koordinator Layanan dan Pengaduan LKY, Intan Nur Rahmawanti,  kredit online yang menyasar masyarakat kelas menengah ke bawah, harus disikapi dengan bijaksana. Program yang terpublis dan diunduh gratis lewat playstore, menjanjikan pinjaman keuangan secara mudah, dengan jumlah nominal Rp 500 ribu hingga Rp 5 Juta.

“Nasabah yang tertarik, memberikan data pribadi dan persetujuan secara elektronik untuk memenuhi segala syarakat dan kententuan. Meski mudah, rupanya tidak semua aplikasi aman,” ujarnya.

Dikatakan, terdata sekitar 300 perusahaan yang beroperasi, namun hanya sekitar 60 saja yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bahkan di antaranya, meminta data pribadi calon nasabah. “Data pribadi itu terancam disalahgunakan. Bahkan laporan yang masuk kepada kami, ketika nasabah telat membayar, debitor akan menagih dengan ancaman, juga melakukan teror. Jumlah penagihan pun bisa naik 100 persen dari nilai hutang," jelasnya.

Berdasar perhitungan, kredit online mematok bunganya yang sangat tinggi, bahkan mencapai 273,75 persen per Tahun. Karena itu, Intan menghimbau, agar masyarakat tidak tergoda melakukan peminjaman secara online (daring). Meski relatif mudah dan menggoda karena rata-rata tidak menerapkan agunan, masyarakat tidak konsumtif dalam memanfaatkan teknologi.

"Motif tawaran kredit kurang-lebih sama dengan bank plecit, namun karena dikemas dengan teknologi, maka menjadi lebih menarik. Namun konsepnya sama, bunya tinggi dan tidak memiliki perlindungan data,” ujarnya. [152]

back to top