Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Asal sesuai aturan, pasir besi tidak menimbulkan bencana

Asal sesuai aturan, pasir besi tidak menimbulkan bencana

Jogjakarta-KoPi| Penolakan penambangan pasir besi dan baja Kulonprogo masih berlanjut meski jajaran pemerintah sudah menyetujuinya. Alasan penolakan karena penambangan pasir besi ini beresiko menimbulkan bencana.

Hal tersebut disampaikan oleh aktivis HAM dan Lingkungan Hidup Aji Kusumo. Menurutnya posisi sungai dengan air laut lebih tinggi air laut. Penambangan yang dilakukan dalam jangka panjang beresiko masuknya air laut ke daratan.

“Dahulu Belanda mau menambang sekitar tahun 1926, tetapi hal itu dibatalkan karena sungai Kulonprogo dengan laut itu tinggian laut. Karena laut itu lebih tinggi daripada daratan. Sementara Wates itu daerahnya pada posisi -4 sampai -8 diatas permukaan laut. Ketika jadi pertambangan diambil besinya, pasirnya ditinggal, itu kan tergerus. Ketika itu bisa bertahan karena biji besi lebih tinggi  itu air tidak larut ke selatan. Ketika terjadi sesuatu air tidak sampai ke daratan”, paparnya.

Secara terpisah pakar geologi UGM Arifudin Idrus menyebutkan penambangan pasir besi secara umum perlu memperhatikan batas muka air tanah di lokasi penambangan. Menurut perturan selama ini telah mengatur jarak air tanah sekitar 200 M dari pantai.

“Hal ini (penambangan) yang bisa menyebabkan intruksi air laut, jika menyalahi jarak dari pantai. Menurut perundangan jaraknya 200 meter. Jadi tidak menambang di pinggir pantai. Arahannya 200 meter ke arah daratnya”, papar Arifudin.

Penambangan pasir besi Kulonprogo merupakan proyek MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) sejak tahun 2006 lalu. Lokasi penambangan memakan wilayah sekitar 6 desa dengan biaya sekitar 600 juta dollar. |Winda Efanur FS|

back to top