Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Asal sesuai aturan, pasir besi tidak menimbulkan bencana

Asal sesuai aturan, pasir besi tidak menimbulkan bencana

Jogjakarta-KoPi| Penolakan penambangan pasir besi dan baja Kulonprogo masih berlanjut meski jajaran pemerintah sudah menyetujuinya. Alasan penolakan karena penambangan pasir besi ini beresiko menimbulkan bencana.

Hal tersebut disampaikan oleh aktivis HAM dan Lingkungan Hidup Aji Kusumo. Menurutnya posisi sungai dengan air laut lebih tinggi air laut. Penambangan yang dilakukan dalam jangka panjang beresiko masuknya air laut ke daratan.

“Dahulu Belanda mau menambang sekitar tahun 1926, tetapi hal itu dibatalkan karena sungai Kulonprogo dengan laut itu tinggian laut. Karena laut itu lebih tinggi daripada daratan. Sementara Wates itu daerahnya pada posisi -4 sampai -8 diatas permukaan laut. Ketika jadi pertambangan diambil besinya, pasirnya ditinggal, itu kan tergerus. Ketika itu bisa bertahan karena biji besi lebih tinggi  itu air tidak larut ke selatan. Ketika terjadi sesuatu air tidak sampai ke daratan”, paparnya.

Secara terpisah pakar geologi UGM Arifudin Idrus menyebutkan penambangan pasir besi secara umum perlu memperhatikan batas muka air tanah di lokasi penambangan. Menurut perturan selama ini telah mengatur jarak air tanah sekitar 200 M dari pantai.

“Hal ini (penambangan) yang bisa menyebabkan intruksi air laut, jika menyalahi jarak dari pantai. Menurut perundangan jaraknya 200 meter. Jadi tidak menambang di pinggir pantai. Arahannya 200 meter ke arah daratnya”, papar Arifudin.

Penambangan pasir besi Kulonprogo merupakan proyek MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) sejak tahun 2006 lalu. Lokasi penambangan memakan wilayah sekitar 6 desa dengan biaya sekitar 600 juta dollar. |Winda Efanur FS|

back to top