Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Asal muasal banyak pemimpin beragama Islam korup

Asal muasal banyak pemimpin beragama Islam korup

Beberapa media menggiring opini publik bahwa para pemimpin beragama Islam itu korup. Benarkah? Tentu masyarakat beragama Islam terkoyak hati dan kehormatannya. Bagaimana tidak, Islam melalui Nabi Muhammad secara jelas tegas mengajarkan praktik anti korupsi dalam posisi kekuasaan politik.

Mahmud Yunus, seorang cendikiawan muslim Indonesia dalam buku ringkasnya tentang Tafsir Qur'an Karim menuliskan tafsir dari Surat Ali 'Imran ayat 161:

"Hal ini patut jadi petunjuk bagi orang yang memegang tanggung jawab harta benda Negara, supaya memeliharanya dan membaginya dengan jujur, lurus dan adil menurut mestinya dan sekali-kali jangan berlaku curang (korupsi), karena meskipun ia akan terlepas dari hukuman dunia, ia tiada akan terlepas dari hukuman di akhirat". 

Maka, tafsir itu juga menjelaskan mengapa Nabi Muhammad dengan sumber kekuasaannya yang sangat besar hidup sangat sederhana. Syahdan Sang Kekasih Allah tersebut pergi ke dapur dan tidak ada makanan karena kehabisan bahan. Andai Nabi Muhammad menggunakan kekuasaannya waktu itu, apa sulitnya menjadi kaya raya dan hidup mewah?

Kekayaan dan kemakmuran adalah absyah dalam Islam, dan ajaran-ajaran agama lainnya. Akan tetapi posisi kepemimpinan yang mendapatkan mandat kekuasaan untuk mengelola dan memelihara rakyatnya jelas memiliki etika dalam kehidupan duniawinya. Etika itu adalah keyakinan atas kebenaran konsep kepemimpinan politik Islam yang tidak memburu kekayaan. Maka para khalifah, khulafaur rasyidin, dari Abu Bakar ra. sampai Utsman ra. hidup dalam kesederhanaan.

Akan tetapi dalam konteks kekuasaan modern ini, mengapa survey yang dilakukan KPK pada tahun 2015, lembaga terkorup adalah kementerian agama yang notabene dipimpin oleh pemimpin beragama Islam? Departemen Agama pun masuk kategori lembaga paling korup bersama kepolisian dan pengadilan.

Diskursus mengarah pada inkonsistensi para pemimpin beragama Islam terhadap etika, nilai dan bahkan hukum dalam Islam itu sendiri. Inkonsistensi adalah asal muasal kepemimpinan para elite beragama Islam menjadi korup. Pertanyaan lebih jauh adalah bagaimana bisa tercipta inkonsistensi terhadap Islam oleh para pemimpin muslim?

Menjawab pertanyaan mendasar itu membutuhkan kelapangan dan keterbukaan dalam penyusunan faktor-faktor kompleks dari sisi antropologi budaya keindonesiaan, konteks sosiologis seperti jejaring predator korupsi yang memanipulasi identitas Islam, sampai sisi komitmen etika keislaman para pemimpin beragama Islam.

Maka, wacana kepemimpinan tidak diserahkan pada level formalitas semata yang menciptakan baik buruk berdasarkan identitas. Para pemimpin beragama Islam yang komit pada etika dan nilai keislaman juga tidak sedikit. Para koruptor beragama Kristian sampai Budha juga banyak. Akan tetapi wacana perlu dibawa pada substansi nilai keagamaan itu sendiri. Bukan formalitas identitas.

back to top