Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Asal muasal banyak pemimpin beragama Islam korup

Asal muasal banyak pemimpin beragama Islam korup

Beberapa media menggiring opini publik bahwa para pemimpin beragama Islam itu korup. Benarkah? Tentu masyarakat beragama Islam terkoyak hati dan kehormatannya. Bagaimana tidak, Islam melalui Nabi Muhammad secara jelas tegas mengajarkan praktik anti korupsi dalam posisi kekuasaan politik.

Mahmud Yunus, seorang cendikiawan muslim Indonesia dalam buku ringkasnya tentang Tafsir Qur'an Karim menuliskan tafsir dari Surat Ali 'Imran ayat 161:

"Hal ini patut jadi petunjuk bagi orang yang memegang tanggung jawab harta benda Negara, supaya memeliharanya dan membaginya dengan jujur, lurus dan adil menurut mestinya dan sekali-kali jangan berlaku curang (korupsi), karena meskipun ia akan terlepas dari hukuman dunia, ia tiada akan terlepas dari hukuman di akhirat". 

Maka, tafsir itu juga menjelaskan mengapa Nabi Muhammad dengan sumber kekuasaannya yang sangat besar hidup sangat sederhana. Syahdan Sang Kekasih Allah tersebut pergi ke dapur dan tidak ada makanan karena kehabisan bahan. Andai Nabi Muhammad menggunakan kekuasaannya waktu itu, apa sulitnya menjadi kaya raya dan hidup mewah?

Kekayaan dan kemakmuran adalah absyah dalam Islam, dan ajaran-ajaran agama lainnya. Akan tetapi posisi kepemimpinan yang mendapatkan mandat kekuasaan untuk mengelola dan memelihara rakyatnya jelas memiliki etika dalam kehidupan duniawinya. Etika itu adalah keyakinan atas kebenaran konsep kepemimpinan politik Islam yang tidak memburu kekayaan. Maka para khalifah, khulafaur rasyidin, dari Abu Bakar ra. sampai Utsman ra. hidup dalam kesederhanaan.

Akan tetapi dalam konteks kekuasaan modern ini, mengapa survey yang dilakukan KPK pada tahun 2015, lembaga terkorup adalah kementerian agama yang notabene dipimpin oleh pemimpin beragama Islam? Departemen Agama pun masuk kategori lembaga paling korup bersama kepolisian dan pengadilan.

Diskursus mengarah pada inkonsistensi para pemimpin beragama Islam terhadap etika, nilai dan bahkan hukum dalam Islam itu sendiri. Inkonsistensi adalah asal muasal kepemimpinan para elite beragama Islam menjadi korup. Pertanyaan lebih jauh adalah bagaimana bisa tercipta inkonsistensi terhadap Islam oleh para pemimpin muslim?

Menjawab pertanyaan mendasar itu membutuhkan kelapangan dan keterbukaan dalam penyusunan faktor-faktor kompleks dari sisi antropologi budaya keindonesiaan, konteks sosiologis seperti jejaring predator korupsi yang memanipulasi identitas Islam, sampai sisi komitmen etika keislaman para pemimpin beragama Islam.

Maka, wacana kepemimpinan tidak diserahkan pada level formalitas semata yang menciptakan baik buruk berdasarkan identitas. Para pemimpin beragama Islam yang komit pada etika dan nilai keislaman juga tidak sedikit. Para koruptor beragama Kristian sampai Budha juga banyak. Akan tetapi wacana perlu dibawa pada substansi nilai keagamaan itu sendiri. Bukan formalitas identitas.

back to top