Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

ArtJog, booming pasar tersamar

ArtJog, booming pasar tersamar
Orang boleh menyebut pasca-booming 2008 sebagai nyanyi sunyi para seniman. Namun, faktanya, setiap ArtJog diselenggarakan, para kolektor datang dan membeli lukisan. Meskipun tidak selalu membeli di pameran ArtJog. Saat itu, sebenarnya ada booming pasar tersamar.

Jogja-KoPi| Heri Pemad, seniman dan pemilik HP Art  Management yang menyelenggarakan ArtJog di Jogja menceritakan saat ArtJog pertama terselenggara, booming tengah terjadi. Atmosfir pasar sangat terasa. Eforia dan histeria merasuki setiap jiwa seniman seni rupa.

Setelah tahun 2009, Pemad mengakui adanya penurunan pasar. Tetapi penurunan itu lebih karena dipengaruhi kualitas karya seniman yang kurang maksimal.

"Tidak ada karya-karya yang ngedan. Itu masalahnya."

ArtJog sendiri menurut Pemad adalah ruang yang sebenarnya bukan persoalan melulu jualan. Karya-karya yang ditampilkan di ArtJog bahkan lebih banyak karya-karya yang sulit dijual karena berupa instalasi, karya video dan lain-lain.

"Di ArtJog memang berkumpul para kolektor di Indonesia dan dunia, tetapi mereka tidak selalu membeli lukisan di ArtJog. Mereka datang di studio pelukisnya langsung. Bagi saya tidak mengapa. Ini pesta kebudayaan yang dipersembahkan. Di Jogja, saat itu pasti ramai dengan event lain sebagai peristiwa budaya. Dampak ArtJog tidak saja terbukanya pasar bagi seni rupa dari Jogja hingga Magelang, tetapi juga pariwisata dan lainnya."

Di Indonesia sebenarnya ada dua event yang bisa menjadi indikasi pasar seni rupa. Selain ArtJog, ada Bazar Art di Jakarta. Berbeda dengan ArtJog, Bazar Art ini event yang sesungguhnya murni jualan seperti halnya pasar secara harafiah. Maka ketika bicara soal  pasar sepi, sesungguhnya tidak terlalu relevan. Karena setiap tahun ada event yang baik untuk sebuah pasar.

Soal ramai atau sepinya pasar, Pemad malah cenderung melihat karena tidak ada karya yang bagus yang mampu menarik perhatian kolektor untuk membeli. Kalau karya-karya yang lahir bagus tentu akan menarik perhatian kolektor.

Keberanian seniman menjadi seniman yang benar-benar gila dan menghasilkan karya yang benar-benar gila adalah penting. Selain tentu kemampuan seniman dalam mengatur dan mengelola dirinya dalam kontestasi kebudayaan dan pasar. Menurut Pemad, saat ini semakin mudah dengan adanya internet untuk menjangkau jaringan di seluruh dunia.

"Yang dibutuhkan mereka adalah kegilaan. Karya yang benar-benar gila. Mereka memang harus dibangunkan dari tidur."

ArtJog 2015 direncanakan 6 -28 Juni mendatang dengan tema Infinity in Flux. Kali ini ArtJog akan menampilkan karya-karya yang benar-benar gila dan tak terbatas eksplorasi. Sebaiknya, masyarakat harus siap dengan ketegangan konsentrasi untuk apresiasi. Mungkin pasar bukan tujuan, tapi percaya saja, ArtJog tetap booming pasar yang tersamar. Jadi siapkan diri saja berkarya yang yang lebih gila.|Ranang Aji SP| Winda Efanur FS

back to top