Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Artis Talk: Obsesi Koniherawati dalam Be (coming) Home

Artis Talk: Obsesi Koniherawati dalam Be (coming) Home

Bantul-KoPi|Senin sore 19 Desember 2016, Koniherawati, dalam sebuah ruangan di Sangkring Art Space bicara soal karya-karyanya yang tengah dipamerkan dalam acara Artis Talk.

Menurutnya semua ini tak lepas dari tantangan Kris Budiman sekaligus kuratornya dalam pameran tunggalnya ini.

“Saya ditantang oleh Pak Kris buat satu pameran tunggal dan saya minta diberi waktu satu tahun,” Ujar Koniherawati.

Menurut Koni, seniman dan sekaligus dosen arsitektur di UKDW, Kris Budimanlah yang memilihkan judul Be (coming) Home. Kris Budiman adalah kurator dan Pengajar di Prodi Kajian Budaya dan Media Pasca-Sarjana UGM. Judul itu yang bermakna Membuat Rumah dan Pulang ke Rumah adalah merujuk dari obsesinya yang merindukan sebuah rumah tertentu.

“Saya ingat ditanya 'obsesinya apa'? saya sudah lama menginginkan sebuah rumah yang belum pernah kesampaian-kesampaian dan itu obsesi saya untuk menjadi pameran tunggal ini, "jelasnya mengenai proses kreatif dari karya-karya dalam Be (Coming) Home.

 

“Saya belum punya rumah, saya masih ngekost dan saya salah satu dosen tertua di UKDW," lanjutnya di akhir acara.

 

Sementara itu menurut moderator Artis Talk Be (Coming) Home, Husni, ada tiga metode yang digunakan oleh sang pelukis. Ada metode Lukisan, Kolase, dan Stoneware. Metode kolase ini merupakan pencampuran lukisan di atas kanvas. Sehingga lukisan beliau terkesan aneh namun unik.

“Ada cerita menarik saat membuat framenya. Kata pembuat frame, ‘saya belum pernah lihat lukisan seperti ini, lukisan Ibu aneh tapi menarik’,” ujar Husni sembari tertawa.

Husni juga menuturkan metode stoneware merupakan metode untuk karya seni keramik yang dipelajari Koniherawati di Jakarta dan di Bandung. Proses membuat karya seni Koni dibantu oleh pengrajin Kasongan.
Moderator ini juga menjelaskan hasil karya Koni merupakan kombinasi dari pengrajin kasongan yang membentuk karya Koni seperti pada karya Terakota.

"Ada fakta menarik yang diungkapkan beliau mengenai pembuatan karya keramik, dimana suhunya bervarian, tergantung dengan jenis seninya seperti stoneware atau earthenware," jelas Husni.

Dalam bahasan tematik pameran tunggalnya, Koni menjelaskan dalam pameran grup, tema dibatasi oleh kuratorial atau panitia. Tapi dalam pameran tunggal, tema ditentukan oleh artis lalu kurator yang menerjemahkan karya itu.

"Di sini yang menerjemahkan karya itu mas Lono Lastoro Simatupang,” Jelas Koniherawati.

Sementara Kris Budiman menjelaskan ada konsep Etnoscape yang berarti kerinduan untuk pulang. Dan itu merupakan bagian dari tema utama yang diusung. Kris Budiman sendiri menggunakan konsep pulang yang dimana berkaitan dengan Koni Herawati yang sering “OTW”.

Kris juga mengaku sudah dari dulu tertarik dengan konsep-konsep Koniherawati yang sering menghadirkan benturan-benturan yang frontal seperti oposisi-oposisi seperti pada pameran “Hirarki” dan “Urbanisasi Tikus”.
Namun, dengan berjalannya waktu ada perubahan ketertarikan dari oposisi ke metafora. Seperti pemahaman tentang maskulinitas dan feminim dalam karya Koniherawati.

"Seolah Koni Herawati mengembalikan domain rumah ke arah feminim," ujar Kris Budiman yang mengambil fokus ke seni sastra.

Menurutnya ada hubungan dengan karya Koniherawati yang berupa karya rajut atau batik yang merupakan kerja wanita. |S Ardi|Shaleesa|Wahyu|

Koniherawati3

Koniherawati1

Koniherawati4

Koniherawati2

back to top