Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Arsitek Jepang raih penghargaan Pritzker Architecture

Arsitek Jepang raih penghargaan Pritzker Architecture

KoPi, Seorang arsitek asal Jepang, Shigeru Ban meraih penghargaan Pritzker Architect 2014 atas kontribusinya kepada kemanusiaan dan kepiawaiannya dalam memanfaatkan bahan-bahan harian yang inovatif.

Ban, yang kini berusia 56 tahun, dipuji oleh juri atas pendekatannya yang unik dalam menggunakan bahan seperti pipa kertas, bambu dan wadah pengiriman.


Dalam dua dekade terakhir, sang arsitek ini telah berhasil membangun tempat tinggal sementara yang terbuat dari kardus dan kertas di beberapa tempat yang dilanda bencana mulai dari konflik Rwanda pada tahun 1994 hingga terjadinya tsunami Jepang pada tahun 2011.


Kemudian, ia bekerja di PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) sebagai konsultan setelah dirinya mengajukan rancangan tempat tinggal yang terbuat dari pipa kertas kepada badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi di dunia (United Nations High Commissioner for Refugees).


Ban lahir di Tokyo pada tahun 1957. Dirinya menempuh pendidikan di Institut Arsitektur California Selatan sebelum dirinya benar-benar terjun dalam dunia arsitek pada tahun 1985.


Berbicara mengenai kemenangannya meraih penghargaan Pritzker, yang sering dianggap sebagai Penghargaan Nobel dalam bidang arsitektur, Ban menyatakan bahwa dirinya merasa belum pantas mendapatkan penghargaan tersebut. Ia menjadikan penghargaan ini sebagai pemicu dalam menciptakan karya yang lebih baik lagi.


Ban juga menambahkan bahwa ia merasa beruntung karena dapat terjun dalam sebuah industri yang memungkinkan dirinya membuat orang lain senang melalui kerjanya menciptakan bangunan-bangunan baru.

 


(Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top