Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Angka pengidap HIV/AIDA di Papua masih tinggi

Angka pengidap HIV/AIDA di Papua masih tinggi

Jogja-KoPi| Meylani Yo S.sos., M. Comms, Ph. D. peneliti etmografi mengatakan tingkat keterjangkitan HIV/AIDS di Papua masih tinggi, terutama di Kecamatan Nabire Suku Mee dan Jayapura.

Dalam risetnya selama enam bulan (2012-2013) di tanah Papua, Meylani menemukan mereka yang terjangkit adalah pria dan wanita dan sebagain besar usia produktif.

“Masyarakat Mee masih salah dalam pemahaman HIV/AIDS”, ujar Meylani dosen UAJY peraih gelar Doktor Baru saat ditemui di acara Media Gathering (04/12) kemari.

Menurut Meylani, satu sisi ada informasi dari Biomedis bahwa penyakit HIV/AIDS itu mematikan, beresiko besar, dan tidak dapat dicegah. Informasi ini malah menimbulkan stigma baru di masyarakat Mee dan akhirnya men-cap orang yang terinfeksi HIV/AIDS itu buruk dan berperilaku menyimpang suka berganti-ganti pasangan.

Papua terbagi lebih dari 250 etnik, rata-rata yang terinfeksi HIV/AIDS berusia 18-40 tahun. Hal ini berbeda dengan di Jakarta, DIY, dan Surabaya, kebanyakan masyarakat yang terinfeksi HIV/AIDS umumnya pada kelompok yang berisiko seperti para pecandu, baik dari narkoba lewat jarum suntik maupun hubungan sesama jenis.

Tanpa disadari prevalensi HIV/AIDS di Papua semakin meningkat mencapai 2,4% dari hasil studi STPB tahun 2014, di mana kenaikan ini 6 kali lipat dari rata-rata prevalensi HIV/AIDS di Indonesia.

"Papua, khususnya Suku Mee yang terinfeksi kini mulai terjadi pergeseran dari kelompok berisiko ke populasi umum, artinya lebih banyak ke masyarakat biasa," kata Meylani.

Sementara itu, sikap dan kebijakan pemerintah, menurut Meylani tetap belum berubah dan masih terpaku pada pendekatan Biomedis, menakut-nakuti, bersikap moralistis dan hanya bertumpu pada pendekatan perubahan perilaku. Padahal pendekatan demikian ini gagal mengikuti keberadaan budaya orang Papua, baik adat-istiadat, kepercayaan, kerapuhan sosial serta konflik politik yang berkepanjangan sampai membentuk tata hidup orang Mee hingga sekarang.

Kehidupan Suku Mee punya filosofi sendiri dengan melihat ke arah harmonisasi, yaitu antara budaya, manusia dan alam, ada juga filosofi tentang hidup sebagai manusia sejati yang melihat hidup itu terdapat beberapa ancaman dan larangan yang diadopsi oleh orang Mee sendiri, karena orang Mee mempunyai tata nilai-nilai budaya tertentu tentang larangan perzinaan dan keharusan kerja keras.

Untuk melakukan intervensi dalam pencegahan maupun penanggulangan HIV/AIDS di Papua khususnya kecamatan Nabire Suku Mee, pemerintah harus menggunakan pendekatan baru agar dapat mengintegrasikan tujuannya kepada pihak yang bersangkutan baik melalui keluarga, komunitas, ketua suku dan tidak terpusat secara individual, jelas Meylani.

Harapannya ke depan hasil ini dapat menjadi advokasi kepada pemerintah, dan apa yang telah ditemukan semoga kedepan dapat menjadi bahan rekomendasi Pagar Adat Papua yang dapat di adopsi ke arah pendekatan medis, karena dari dulu hingga sekarang pemerintah lebih condong ke pendekatan medis saja, jadi masyarakat hingga sekarang  hanya tahu apa itu penyakit HIV/AIDS saja. |Cucu Armanto

 

back to top