Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ambigu Ideologi Negara Indonesia

Ambigu Ideologi Negara Indonesia

Sleman-KoPi| Indonesia saat ini didominasi pola primitif atas ideologi atau nilai dominan saat ini, yaitu Neo-Liberalisme. Hal ini sangat terpola oleh sistem negara Indonesia dalam mengemas ideologinya. Terjadi keambiguitasan dalam ideologi Negara Indonesia, Pancasila kini banyak didominasi ideologi liberal yang menyebabkan Indonesia kehilangan arah dan pegangan.

Adi Dedi Mulawarman, Founder Yayasan Rumah Peneleh dan Penulis dalam bedah buku 2024: Hijrah untuk Negri Kehancuran atau Kebangkitan (?) Indonesia dalam Ayunan Peradaban, Sabtu (18/2) bertempat di Aditorium Filsafat UGM Lt 3,  mengatakan bahwa pola keambiguitasan ideologi disebabkan karena sistem negara yang mengemas ideologi dalam Pancasila-formalis tapi Liberalis Praksis.
    
Ideologi Pancasila yang seharusnya dilaksanakan dengan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan kini digantikan dengan pendidikan sekuler, kebudayaan global, otonomi daerah-NPM, demokrasi-pemilu ultra liberal, serta ekonomi APBN & Koorporatokrasi. ideologi pancasila hanya berupa mitos. Pancasila dalam ungkapannya namun liberal dalam pelaksanaannya.
    
“Pancasila boongan, digantikan pendidikan sekuler, kebudayaan global, otonomi daerah daerah-NPM, demokrasi-pemilu ultra liberal, serta ekonomi apbn & Koorporatokrasi. Namun  Indonesia selalu bergerak diantara dua kubu, kubu Barat dan Timur, antara Islam dan ASEAN,” kata Adi Dedi Mulawarman.
    
Ini menyebabkan Indonesia yang memiliki SDM rendah, SDA tinggi, produksi rendah, konsumsi tinggi, islam sekuler tinggi, menjadi pasar bagi negara lain, tidak ada kejelasan dalam pergerakannya. Akhirnya masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang berideologi liberal, pragmatis, dan konsumtif atas pengaruh dari berbagai kubu yang ada.
“Tidak ada barang yang kita gunakan produksi Indonesia, semua produksi luar. Indonesia tingkat produksinya rendah tapi konsumsinya tinggi,” kata Adi Dedi Mulawarman
    
Negara Indonesia tidak akan produktif ketika semua produksi dikuasai luar. Masyarakat Indonesia hanya dijadikan karyawan di negara sendiri. “Kita akan terus menjadi jongos (pembantu) di dalam negeri. Semua sektor usaha telah dikuasi luar. Mau buat mobil nasional saja tidak boleh, banyak pencekalan untuk menggagalkannya,” jelas Adi Dedi Mulawarman.

“Ini malah sebaliknya, TKW dan TKI malah disebut pahlawan devisa negara. Kita malah bangga menjual pembantu. Tapi negara lain menjual barang yang kita gunakan sehari-hari,”tambahnya.
    
Untuk itu penguatan mental kebudayaan pancasila harus selalu dilakukan sehingga Indonesia bukan hanya sebagai konsumen dan dijadikan pasar bagi negara lain. Indonesia dapat menjadi tuan di negara sendiri. “Perlu adanya kesadaran bersama terhadap ideologi pancasila, sehingga arah tujuan kita jelas. Tidak abu-abu dan hanya menjadi tong sampah,” tutur Adi Dedi Mulawarman.

back to top