Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Ambigu Ideologi Negara Indonesia

Ambigu Ideologi Negara Indonesia

Sleman-KoPi| Indonesia saat ini didominasi pola primitif atas ideologi atau nilai dominan saat ini, yaitu Neo-Liberalisme. Hal ini sangat terpola oleh sistem negara Indonesia dalam mengemas ideologinya. Terjadi keambiguitasan dalam ideologi Negara Indonesia, Pancasila kini banyak didominasi ideologi liberal yang menyebabkan Indonesia kehilangan arah dan pegangan.

Adi Dedi Mulawarman, Founder Yayasan Rumah Peneleh dan Penulis dalam bedah buku 2024: Hijrah untuk Negri Kehancuran atau Kebangkitan (?) Indonesia dalam Ayunan Peradaban, Sabtu (18/2) bertempat di Aditorium Filsafat UGM Lt 3,  mengatakan bahwa pola keambiguitasan ideologi disebabkan karena sistem negara yang mengemas ideologi dalam Pancasila-formalis tapi Liberalis Praksis.
    
Ideologi Pancasila yang seharusnya dilaksanakan dengan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan kini digantikan dengan pendidikan sekuler, kebudayaan global, otonomi daerah-NPM, demokrasi-pemilu ultra liberal, serta ekonomi APBN & Koorporatokrasi. ideologi pancasila hanya berupa mitos. Pancasila dalam ungkapannya namun liberal dalam pelaksanaannya.
    
“Pancasila boongan, digantikan pendidikan sekuler, kebudayaan global, otonomi daerah daerah-NPM, demokrasi-pemilu ultra liberal, serta ekonomi apbn & Koorporatokrasi. Namun  Indonesia selalu bergerak diantara dua kubu, kubu Barat dan Timur, antara Islam dan ASEAN,” kata Adi Dedi Mulawarman.
    
Ini menyebabkan Indonesia yang memiliki SDM rendah, SDA tinggi, produksi rendah, konsumsi tinggi, islam sekuler tinggi, menjadi pasar bagi negara lain, tidak ada kejelasan dalam pergerakannya. Akhirnya masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang berideologi liberal, pragmatis, dan konsumtif atas pengaruh dari berbagai kubu yang ada.
“Tidak ada barang yang kita gunakan produksi Indonesia, semua produksi luar. Indonesia tingkat produksinya rendah tapi konsumsinya tinggi,” kata Adi Dedi Mulawarman
    
Negara Indonesia tidak akan produktif ketika semua produksi dikuasai luar. Masyarakat Indonesia hanya dijadikan karyawan di negara sendiri. “Kita akan terus menjadi jongos (pembantu) di dalam negeri. Semua sektor usaha telah dikuasi luar. Mau buat mobil nasional saja tidak boleh, banyak pencekalan untuk menggagalkannya,” jelas Adi Dedi Mulawarman.

“Ini malah sebaliknya, TKW dan TKI malah disebut pahlawan devisa negara. Kita malah bangga menjual pembantu. Tapi negara lain menjual barang yang kita gunakan sehari-hari,”tambahnya.
    
Untuk itu penguatan mental kebudayaan pancasila harus selalu dilakukan sehingga Indonesia bukan hanya sebagai konsumen dan dijadikan pasar bagi negara lain. Indonesia dapat menjadi tuan di negara sendiri. “Perlu adanya kesadaran bersama terhadap ideologi pancasila, sehingga arah tujuan kita jelas. Tidak abu-abu dan hanya menjadi tong sampah,” tutur Adi Dedi Mulawarman.

back to top