Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

AL-Baghdadi merupakan asset intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel

AL-Baghdadi merupakan asset intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel

Menurut sebuah dokumen yang dirilis oleh Edward Snowden dari NSA, menyebutkan bahwa Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, sekarang Negara Islam (Islamic State), merupakan sebuah aset intelijen.

KoPi-Dokumen NSA mengungkapkan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan Inggris bertanggung jawab atas penciptaan ISIS. 

Awal bulan Juli 2014 Nabil Na'eem, pendiri Partai Jihad Demokrat Islam dan mantan komandan tinggi al-Qaeda mengatakan kepada Beirut mengenai semua cabang al-Qaeda saat ini, termasuk ISIS, bekerja untuk CIA.

ISIS memiliki persenjataan yang canggih dan dilatih oleh kelompok teroris yang sekarang mengendalikan sebagian besar wilayah Irak dan Suriah. 

Dokumen NSA menyatakan bahwa kelompok yang didirikan oleh AS, intelijen Inggris dan Israel sebagai bagian dari strategi yang dijuluki "sarang lebah". Tujuannya untuk menarik militan Islam dari seluruh dunia untuk Suriah.

Al-Baghdadi seorang intelijen militer

Gulf Daily News mengatakan,”selain belajar teologi dan seni pidato, al-Baghdadi mengambil pelatihan militer intensif selama satu tahun di tangan Mossad”.

Pada bulan Juni seorang pejabat Yordania mengatakan kepada Aaron Klein anggota WorldNetDaily  bahwa ISIS dilatih pada tahun 2012 oleh instruktur AS yang bekerja di sebuah pangkalan rahasia di Yordania. Pada 2012, AS, Turki, dan Yordania dilaporkan telah menjalankan pelatihan dasar bagi para pemberontak Suriah di kota Safawi, Yordania.

Al-Baghdadi dilaporkan berada di Camp Bucca, tempat penahanan militer AS di dekat Umm Qasr, Irak. James Skylar Gerrond, mantan pasukan keamanan perwira Angkatan Udara AS dan seorang komandan gabungan di Camp Bucca pada tahun 2006 dan 2007 mengatakan bahwa pada awal bulan ini kamp akan menciptakan sebuah tekanan sebagai bentuk ekstremisme.

"Bukti menunjukkan bahwa al-Baghdadi mungkin sebuah pikiran yang dikendalikan oleh militer USA ketika menjadi tahanan di Irak," tulis Dr Kevin Barrett.

Membuat teror dengan ancaman palsu

Strategi sarang lebah dirancang untuk menciptakan persepsi bahwa Israel diancam oleh musuh dekat perbatasannya.
Menurut buku harian pribadi mantan perdana menteri Israel, Moshe Sharett mengatakan “Bagaimanapun, Israel tidak pernah mengambil serius ancaman dari Arab atau Muslim agar keamanan nasionalnya terjaga”.

"Harian Sharett mengungkapkan dalam bahasa eksplisit bahwa kepemimpinan politik dan militer Israel tidak pernah percaya Arab bisa membahayakan Israel," tulis Ralph Schoenman. "Mereka berusaha untuk melakukan manuver dan memaksa negara-negara Arab masuk ke dalam konfrontasi militer dimana kepemimpinan Zionis menang dan Israel bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada rezim Arab dan merencanakan pendudukan wilayah tambahan”.

Pada tahun 1982 Oded Yinon, seorang wartawan Israel, berkaitan dengan Kementerian Luar Negeri Israel menulis Rencana Zionis untuk Timur Tengah.
Pemecahan negara-negara Arab menjadi unit-unit kecil dan pembubaran Suriah dan Irak kemudian menjadi etnis atau agama seperti di Lebanon merupakan target utama Israel di Timur.

Yinon menyarankan, kehancuran negara-negara Arab dan Muslim akan dicapai dari dalam dengan memanfaatkan ketegangan agama dan etnis internal mereka.

Irfan Ridlowi

Sumber: Infowars.com

back to top