Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Air itu 'ada' sebelum matahari 'ada', penemuan baru

Air itu 'ada' sebelum matahari 'ada', penemuan baru

KoPi, Lebih dari separuh air di Bumi kemungkinan umurnya lebih tua dari pada matahari, dengan menduga bahwa ada kehidupan di tempat lain di galaksi ini, menurut penelitian.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Science yang menemukan bahwa “pecahan penting” dari air di Bumi diwariskan dari angkasa antar-bintang, dan telah ada sebelum Matahari terbentuk 4,6 milyar tahun yang lalu.

Para peneliti bisa menjelaskan dari mana air itu datang dengan meneliti rasio hydrogen pada deuterium, sebuah isotop padat dari hydrogen, di molekul-molekul air.

Air atau es yang datang dari angkasa mempunyai rasio yang tinggi dari deuterium pada hydrogen, karena itu membentuk suhu yang rendah.

Tapi, para peneliti belum mengetahui bagaimana deuterium yang banyak bisa hilang saat proses lahirnya matahari, atau seberapa banyak deuterium, air, es dalam matahari akan memproduksi ketika matahari dilahirkan pertama kalinya.

Penemuan tersebut bisa menyimpulkan bahwa setidaknya air di matahari datang dari luar angkasa, dan air yang merupakan unsur paling penting bagi kehidupan di Bumi tidak lah khusus bagi matahari kita.

“Ini adalah langkah penting ke depan untuk penyedikan kita dalam mencari jawaban bahwa ada kehidupan di planet lain,” ketua tim peneliti, dari University of Exeter’s Physics and Astronomy Department.


(Fahrurrazi)
Sumber: News.com.au

back to top