Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal
KoPi | Gempa besar yang melanda Nepal ternyata sudah diprediksi sebelumnya. Para ahli geologi menyatakan gempa 7,8 skala Richter tersebut merupakan bagian dari pola gempa besar. Bahkan sudah ada yang telah memperingatkan pemerintah Nepal mengenai bahaya gempa tersebut beberapa minggu sebelumnya.
 

Negara Nepal terletak di lempeng Indo-Australia yang terbentuk akibat benturan di lempeng Eurasia. Benturan tersebut juga yang membentuk Pegunungan Himalaya. Ketika dua lempeng beradu dan saling mendorong, tekanan mulai terkumpul, dan akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Bahkan, menurut majalah Nature, lempeng gempa Indo-Australia masih terus mendesak ke bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan rata-rata 5 cm per tahun. “Secara geologis, itu sangat cepat. Gempa bumi melepaskan energi, seperti membuka tutup panci ketika air mendidih, tapi energi itu akan membentuk kembali ketika tutup dikembalikan,” jelas Lung S. Chan, ahi geofisika dari University of Hongkong.

Tekanan besar dan terus menerus akhirnya membuat pola tidak wajar pada berbagai gempa besar. US Geological Survey menyebut daerah Himalaya merupakan daerah seismis paling berbahaya di bumi.

Gempa besar di daerah tersebut sering muncul pada rentang waktu 75-80 tahun. Gempa besar terakhir yang menghantam Kathmandu pada tahun 1934 atau 81 tahun lalu membuat para ahli gempa yakin akan ada gempa berikutnya.

“Kami tahu gempa itu akan terjadi. Kita sudah melihatnya pada tahun 1934. Gempa bumi yang kami perkirakan terjadi memang terjadi,” ungkap ahli geologi USGS Susan hough.

Salah satu tim peneliti tidak hanya memprediksi gempa tersebut, melainkan menandai lokasi kemungkinan gempa. Laurent Bollinger dari lembaga riset CEA sudah meneliti kandungan karbon di lokasi gempa selama beberapa tahun dan menemukan ada pola gempa selama ratusan tahun. 

Ia memperingatkan Nepal Geological Society akan kemungkinan gempa tersebut pada April tahun lalu. Namun tampaknya peringatan itu tidak mampu meringankan guncangan. “Perhitungan awal kami menyebutkan gempa besar pada Sabtu tidak cukup kuat hingga menembus permukaan. Namun lain kenyataannya. Kami seharusnya menduga ada gempa besar lain di Barat dan Selatan dari area ini selama beberapa dekade mendatang,” ungkap Bollinger. | Huffington Post

 

back to top