Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal
KoPi | Gempa besar yang melanda Nepal ternyata sudah diprediksi sebelumnya. Para ahli geologi menyatakan gempa 7,8 skala Richter tersebut merupakan bagian dari pola gempa besar. Bahkan sudah ada yang telah memperingatkan pemerintah Nepal mengenai bahaya gempa tersebut beberapa minggu sebelumnya.
 

Negara Nepal terletak di lempeng Indo-Australia yang terbentuk akibat benturan di lempeng Eurasia. Benturan tersebut juga yang membentuk Pegunungan Himalaya. Ketika dua lempeng beradu dan saling mendorong, tekanan mulai terkumpul, dan akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Bahkan, menurut majalah Nature, lempeng gempa Indo-Australia masih terus mendesak ke bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan rata-rata 5 cm per tahun. “Secara geologis, itu sangat cepat. Gempa bumi melepaskan energi, seperti membuka tutup panci ketika air mendidih, tapi energi itu akan membentuk kembali ketika tutup dikembalikan,” jelas Lung S. Chan, ahi geofisika dari University of Hongkong.

Tekanan besar dan terus menerus akhirnya membuat pola tidak wajar pada berbagai gempa besar. US Geological Survey menyebut daerah Himalaya merupakan daerah seismis paling berbahaya di bumi.

Gempa besar di daerah tersebut sering muncul pada rentang waktu 75-80 tahun. Gempa besar terakhir yang menghantam Kathmandu pada tahun 1934 atau 81 tahun lalu membuat para ahli gempa yakin akan ada gempa berikutnya.

“Kami tahu gempa itu akan terjadi. Kita sudah melihatnya pada tahun 1934. Gempa bumi yang kami perkirakan terjadi memang terjadi,” ungkap ahli geologi USGS Susan hough.

Salah satu tim peneliti tidak hanya memprediksi gempa tersebut, melainkan menandai lokasi kemungkinan gempa. Laurent Bollinger dari lembaga riset CEA sudah meneliti kandungan karbon di lokasi gempa selama beberapa tahun dan menemukan ada pola gempa selama ratusan tahun. 

Ia memperingatkan Nepal Geological Society akan kemungkinan gempa tersebut pada April tahun lalu. Namun tampaknya peringatan itu tidak mampu meringankan guncangan. “Perhitungan awal kami menyebutkan gempa besar pada Sabtu tidak cukup kuat hingga menembus permukaan. Namun lain kenyataannya. Kami seharusnya menduga ada gempa besar lain di Barat dan Selatan dari area ini selama beberapa dekade mendatang,” ungkap Bollinger. | Huffington Post

 

back to top