Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal

Ahli geologi sudah prediksi akan ada gempa di Nepal
KoPi | Gempa besar yang melanda Nepal ternyata sudah diprediksi sebelumnya. Para ahli geologi menyatakan gempa 7,8 skala Richter tersebut merupakan bagian dari pola gempa besar. Bahkan sudah ada yang telah memperingatkan pemerintah Nepal mengenai bahaya gempa tersebut beberapa minggu sebelumnya.
 

Negara Nepal terletak di lempeng Indo-Australia yang terbentuk akibat benturan di lempeng Eurasia. Benturan tersebut juga yang membentuk Pegunungan Himalaya. Ketika dua lempeng beradu dan saling mendorong, tekanan mulai terkumpul, dan akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Bahkan, menurut majalah Nature, lempeng gempa Indo-Australia masih terus mendesak ke bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan rata-rata 5 cm per tahun. “Secara geologis, itu sangat cepat. Gempa bumi melepaskan energi, seperti membuka tutup panci ketika air mendidih, tapi energi itu akan membentuk kembali ketika tutup dikembalikan,” jelas Lung S. Chan, ahi geofisika dari University of Hongkong.

Tekanan besar dan terus menerus akhirnya membuat pola tidak wajar pada berbagai gempa besar. US Geological Survey menyebut daerah Himalaya merupakan daerah seismis paling berbahaya di bumi.

Gempa besar di daerah tersebut sering muncul pada rentang waktu 75-80 tahun. Gempa besar terakhir yang menghantam Kathmandu pada tahun 1934 atau 81 tahun lalu membuat para ahli gempa yakin akan ada gempa berikutnya.

“Kami tahu gempa itu akan terjadi. Kita sudah melihatnya pada tahun 1934. Gempa bumi yang kami perkirakan terjadi memang terjadi,” ungkap ahli geologi USGS Susan hough.

Salah satu tim peneliti tidak hanya memprediksi gempa tersebut, melainkan menandai lokasi kemungkinan gempa. Laurent Bollinger dari lembaga riset CEA sudah meneliti kandungan karbon di lokasi gempa selama beberapa tahun dan menemukan ada pola gempa selama ratusan tahun. 

Ia memperingatkan Nepal Geological Society akan kemungkinan gempa tersebut pada April tahun lalu. Namun tampaknya peringatan itu tidak mampu meringankan guncangan. “Perhitungan awal kami menyebutkan gempa besar pada Sabtu tidak cukup kuat hingga menembus permukaan. Namun lain kenyataannya. Kami seharusnya menduga ada gempa besar lain di Barat dan Selatan dari area ini selama beberapa dekade mendatang,” ungkap Bollinger. | Huffington Post

 

back to top