Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Agama dan hal remeh temeh

Agama dan hal remeh temeh

Melalui kolom berjudul Problem Anak dan Manusia tidak Beragama (Jawa Pos, 25 Mei 2015), Dahlan Iskan menggarisbawahi sejumlah masalah serius yang dihadapi umat manusia di masa datang. Secara umum, lelaki yang oleh orang-orang terdekatnya kerap dipanggil Abah itu menyarankan agar orang-orang beragama tidak lagi berpikir tentang hal remeh-temeh.

Misalnya, memperselisihkan soal kapan mulai puasa dan kapan mulai hari raya (yang kebetulan saja karena faktor alam, tahun ini tidak ada perdebatan ormas-ormas yang begitu sengit). Bahkan, tidak usah pula terjebak dalam saling hujat soal perbedaan agama. Yang ujung-ujungnya, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, memaksa atau merayu-dayu-syahdu orang lain untuk pindah agama tidak dengan keihlasan.

Masyarakat dunia, kata Dahlan, dalam beberapa puluh tahun lagi akan menghadapi problem yang jauh lebih ruwet. Yakni, persoalan kesejahteraan sebagai imbas pertambahan penduduk dan pengurangan sumber daya alam. Juga, soal ketidakpedulian terhadap agama. Sebab, agama dinilai bukan lagi solusi, melainkan dogma belaka.

Merujuk dari sejumlah literatur, para nabi diturunkan dengan mukjizat yang sesuai dengan zamannya. Nabi Musa memiliki tongkat sakti untuk melawan tongkat-tongkat tukang sihir picisan di era Firaun. Nabi Isa mempunyai kemampuan menyembuhkan orang sakit kusta karena pada masa itu penyakit tersebut memang lagi nge-hits. Nabi Muhammad membawa serta Al Quran yang disusun dengan kalimat-kalimat puitis super amazing di masa syair-syair lagi ngetrend dan dijadikan salah satu tolok ukur strata sosial.

Agama selalu datang untuk menjawab tantangan zaman dengan menyisipkan solusi berbau “lokalitas”. Memang, ada banyak hal lain yang diopeni agama. Bukan hanya soal sihir, sakit kusta, dan syair. Tapi paling tidak, sejumlah tanda-tanda atau catatan sejarah tadi dapat memberi inspirasi berpikir. Bahwa agama, tidak berkutat pada hal remeh-temeh. Sebaliknya, agama ingin membawa perubahan yang memperhatikan sisi-sisi detail serta kompatibilitas masyarakat. Perhatian pada yang detail itu menunjukkan bahwa agama serius “mendekatkan diri” pada manusia.

Jika agama demikian, maka pemeluknya pun, seharusnya, tergerak untuk tidak membuang banyak energi mengurus hal remeh-temeh. Biarkan hal remeh-temeh menjadi hal remeh-temeh saja. Jangan sampai hal remeh-temeh, menjadi pangkal dari hal yang besar. Menjadi muasal dari pertengkaran, perdebatan yang tak berujung, apalagi saling hujat.

Perbedaan kerap membuat manusia fokus pada perselisihan yang mengiringinya. Bukan pada solusi atau jembatan agar perbedaan itu tidak menjadi momok. Gampangnya, orang-orang sering lupa bahwa kala berbeda, yang harus dicari adalah jalan keluar agar ketidaksamaan itu tidak menciptakan gesekan. Sebaliknya, sebagian orang malah sibuk mengasah pola pikirnya lalu mengadu dengan pola pikir lain: gesekan seperti sengaja diciptakan sedini mungkin.

Fokus ekonomi

Pemeluk agama seharusnya lebih fokus untuk berpikir tentang kesejahteraan di masa depan. Kesejahteraan yang dimaksud sifatnya penting dan mendesak. Sehingga harus dipikirkan sejak sekarang. Oleh karena harus fokus dengan hal penting itu, persoalan remeh-temeh mesti ditinggalkan.

Parameter kesejahteraan mau tidak mau dikaitkan dengan kekuatan ekonomi. Kesejahteraan bangsa memerlukan pondasi ekonomi yang kokoh. Jangan dilihat dengan sinis bahwa ini terhubung dengan citra materialistik saja. Isu ini adalah keniscayaan dan tidak bisa secara munafik diabaikan.

Bagaimana bisa mencapai kesejahteraan yang dimotori sisi-sisi ekonomis? Jawabnya, dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Iptek adalah isu yang memiliki “lokalitas” dalam peradaban masa kini.

Jika di masa lalu agama membawa keajaiban tongkat sakti, ilmu pengobatan kusta bahkan sampai penghidupan orang mati, dan kitab yang terlampau puitis bernilai tinggi sehingga terkesan tidak masuk akal jika dibawa oleh agama yang bengkok, di masa sekarang agama harus menawarkan keserasiannya dengan Iptek.

Tak hanya agama, pemeluknya pun kudu melek Iptek. Yang dimaksud pemeluk agama di sini tidak hanya orang per orang. Namun juga eksponen keagamaan, pemuka agama, dan siapapun juga yang mengklaim diri beragama.

Pemeluk agama, seharusnya dapat memperkuat Iptek untuk kesejahteraan dan kedigdayaan ekonomi. Di sisi lain, pemeluk agama mesti dapat turut “mempromosikan”, bahwa agama yang dipeluknya itulah yang sudah mengantarkannya pada pemahaman yang sedemikian tinggi.

Kitab-kitab suci akan dianggap usang jika tak sanggup menjelaskan persoalan yang ada di era modern. Maka tidak heran, kalau kemudian manusia malas membaca apalagi mengkajinya. Muaranya, agama dinilai ajaran zaman baheula dan sekadar sejarah formal yang boleh diketahui tapi sudah mati: tak berkembang.

Nah, jika memang pemeluk agama peduli pada kelestarian paham yang diyakininya, jawaban yang paling shahih atas tudingan itu adalah menjadi bukti yang berbanding terbalik: menjadi “duta” agama yang superior dan layak diteladani.

Dengan demikian, problem banyak anak yang lantas menjurus pada permasalahan kesejahteraan, dapat dipecahkan. Sedangkan problem manusia tidak beragama dapat dikikis. Karena, manusia-manusia akhirnya percaya, sang pembawa kesejahteraan adalah dia yang menjadikan agama sebagai pondasi hidup.

Problem di masa depan terkait krisis kesejahteraan sebagai imbas pertambahan penduduk dan pengurangan potensi alam mengintai dengan pasti. Siap menerkam. Tinggal tunggu waktu, momentum itu datang. Sebelum dia benar-benar tiba, umat manusia harus sigap terlebih dahulu.

Bertolak dari sana pula, sudah semestinya umat beragama selalu malas mengurusi hal remeh-temeh. Apa itu hal remeh temeh? Dia adalah hal yang didiskusikan sampai kiamat pun bentuknya hanya debat kusir. Bentuknya hanya comment monoton di facebook, website internet, atau obrolan dangkal di program televisi. Waktu yang tinggal sedikit ini, sewajibnya tidak digunakan untuk memikirkan dan membahas masalah sepele.

Apalagi, jika hal remeh temeh itu dibahas dengan logika berpikir yang lebay. Semacam menghujat seluruh umat kristiani padahal yang bermasalah hanya sekelompok kecil dari sebuah perkumpulan gereja. Atau, seperti “menyerang” pandangan syiah yang minoritas di dunia itu dari segala penjuru mata angin.

Ironisnya, persoalan remeh temeh kerap membuat kelompok mayoritas terbelah: yang “menyerang” dan yang membela minoritas. Sementara kelompok minoritas lebih santai dan merasa kalau selama ini tidak ada masalah serius. Laksana dua bersaudara yang saling mengasah parang karena berbeda sudut pandang tentang tetangga yang menyalakan radio keras-keras. Sementara mereka berselisih, tetangga itu asyik-asyik saja mendengarkan radionya.

back to top