Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Ada apa dengan Fatma Saifullah Yusuf di Pembukaan Pameran Tenun Nusantara ?

Ada apa dengan Fatma Saifullah Yusuf di Pembukaan Pameran Tenun Nusantara ?

Surabaya-KoPi | Fatma Saifullah Yusuf (FSY), Ibu Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur, berdiri di podium Pembukaan Pameran Tenun, Batik dan Kerajinan Nusantara 2016 (4/5/16). Hadirin tampak terkesima dan terlarut ketika perempuan berkacamata itu mulai berbicara tentang tenun, batik dan kerajinan di Jawa Timur.

Beberapa kali mereka yang hadir bertepuk tangan dalam aura semangat, wajah berbinar dan senyum optimis. Ada apa dengan FSY dalam pidato sambutannya? Fatma secara lugas dan mendalam menyampaikan capaian industri kreatif sebagai fondasi ekonomi riil yang tak terbantahkan.

"UMKM berkontribusi sangat besar dalam pembangunan ekonomi Jawa Timur. Kontribusi mereka mencapai 54.98 persen dari PDRB dan menyerap 11.12 juta pekerja."

Pembukaan yang juga dihadiri oleh beberapa pejabat provinsi, rektor Universitas Ciputra, dan para peserta UMKM menjadi terbalut optimisme melalui uraian FSY yang juga merupakan Ketua Umum BKOW Provinsi Jawa Timur.

"Persaingan dalam pasar bebas MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN, red.) merupakan tantangan besar. Kita telah menjawab tantangan tersebut dengan penguatan UMKM yang menjadi basis perekonomian rakyat. Oleh karenanya tantangan bisa kita ubah menjadi peluang untuk makin kuat."

FSY menyampaikan kendala-kendala dalam upaya memperkuat UMKM adalah masalah kualitas sumberdaya manusia, akses permodalan, kualitas produk dan pemasaran. Maka pemerintah Provinsi Jawa Timur menciptakan kebijakan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.

Kebijakan-kebijakan yang memecahkan masalah UMKM antara lain:

1. Bantuan permodalan dengan sistem kapitasi melalui JAMKRIDA, KOPWAN, DAGULIR 6%, Apex Bank Jatim - BPR, dan KURBE (program Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor).

Semua bantuan permodalan tersebut berada dalam Loan Agreement antara pemerintah provinsi dan PT. Bank Jatim dengan bunga 9% (per tahun) khusus untuk pembiayaan UMKM sektor industri primer. 

2. Pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia UMKM dan bantuan peningkatan kualitas produk melalui bantuan peralatan, fasilitasi HAKI dan standarisasi serta sertifikasi packaging design.

3. Fasilitasi pemasaran dengan pembangunan ruang pameran produk di 26 kantor perwakilan dagang provinsi serta pelaksanaan kegiatan pameran.

Selain itu FSY menekankan bahwa sumber kekayaan terbesar adalah seni dan kebudayaan Jawa Timur. Terkait dengan industri pakaian, termasuk tenun setiap daerah di Jawa Timur memiliki karakter unik.

"Keunikan inilah yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai ujung tombak branding produk-produk." Jelas FSY kepada KoPi usai melakukan sambutan. 

FSY kemudian melakukan dialog dengan para peserta UMKM yang tampaknya terlihat makin optimis. | A. Ginanjar |

back to top