Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Ada apa dengan Fatma Saifullah Yusuf di Pembukaan Pameran Tenun Nusantara ?

Ada apa dengan Fatma Saifullah Yusuf di Pembukaan Pameran Tenun Nusantara ?

Surabaya-KoPi | Fatma Saifullah Yusuf (FSY), Ibu Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur, berdiri di podium Pembukaan Pameran Tenun, Batik dan Kerajinan Nusantara 2016 (4/5/16). Hadirin tampak terkesima dan terlarut ketika perempuan berkacamata itu mulai berbicara tentang tenun, batik dan kerajinan di Jawa Timur.

Beberapa kali mereka yang hadir bertepuk tangan dalam aura semangat, wajah berbinar dan senyum optimis. Ada apa dengan FSY dalam pidato sambutannya? Fatma secara lugas dan mendalam menyampaikan capaian industri kreatif sebagai fondasi ekonomi riil yang tak terbantahkan.

"UMKM berkontribusi sangat besar dalam pembangunan ekonomi Jawa Timur. Kontribusi mereka mencapai 54.98 persen dari PDRB dan menyerap 11.12 juta pekerja."

Pembukaan yang juga dihadiri oleh beberapa pejabat provinsi, rektor Universitas Ciputra, dan para peserta UMKM menjadi terbalut optimisme melalui uraian FSY yang juga merupakan Ketua Umum BKOW Provinsi Jawa Timur.

"Persaingan dalam pasar bebas MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN, red.) merupakan tantangan besar. Kita telah menjawab tantangan tersebut dengan penguatan UMKM yang menjadi basis perekonomian rakyat. Oleh karenanya tantangan bisa kita ubah menjadi peluang untuk makin kuat."

FSY menyampaikan kendala-kendala dalam upaya memperkuat UMKM adalah masalah kualitas sumberdaya manusia, akses permodalan, kualitas produk dan pemasaran. Maka pemerintah Provinsi Jawa Timur menciptakan kebijakan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.

Kebijakan-kebijakan yang memecahkan masalah UMKM antara lain:

1. Bantuan permodalan dengan sistem kapitasi melalui JAMKRIDA, KOPWAN, DAGULIR 6%, Apex Bank Jatim - BPR, dan KURBE (program Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor).

Semua bantuan permodalan tersebut berada dalam Loan Agreement antara pemerintah provinsi dan PT. Bank Jatim dengan bunga 9% (per tahun) khusus untuk pembiayaan UMKM sektor industri primer. 

2. Pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia UMKM dan bantuan peningkatan kualitas produk melalui bantuan peralatan, fasilitasi HAKI dan standarisasi serta sertifikasi packaging design.

3. Fasilitasi pemasaran dengan pembangunan ruang pameran produk di 26 kantor perwakilan dagang provinsi serta pelaksanaan kegiatan pameran.

Selain itu FSY menekankan bahwa sumber kekayaan terbesar adalah seni dan kebudayaan Jawa Timur. Terkait dengan industri pakaian, termasuk tenun setiap daerah di Jawa Timur memiliki karakter unik.

"Keunikan inilah yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai ujung tombak branding produk-produk." Jelas FSY kepada KoPi usai melakukan sambutan. 

FSY kemudian melakukan dialog dengan para peserta UMKM yang tampaknya terlihat makin optimis. | A. Ginanjar |

back to top