Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

7 kebohongan Israel yang harus diketahui

7 kebohongan Israel yang harus diketahui

Sub Judul


Sebelum terbunuh pada usia 67, pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin rahimahu Allah berkata, "Kami hanya meminta hak kami, tidak lebih. Kami tidak membenci orang-orang Yahudi atau melawan orang-orang Yahudi karena mereka Yahudi. Yahudi adalah agama dan kami adalah orang-orang dari agama, dan kita mengasihi semua orang dari agama ... Kami mencintai semua orang bahkan orang-orang Yahudi, dan kami berharap orang-orang Yahudi dalam keadaan yang baik. Orang-orang Yahudi tinggal bersama kami selama bertahun-tahun dan kami tidak pernah melanggar terhadap hak-hak mereka. "

KoPi-Sekali lagi, kita menyaksikkan sebuah pembantaian manusia di Jalur Gaza oleh Israel. Bom Israel yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat tempur mereka telah membunuh hampir 2000 jiwa warga sipil ( data 7 Agusutus 2014) [1]. Membunuh anak-anak yang tidak berdosa dan membiarkan mereka hidup dalam kecemasan dan tanpa masa depan. Kejahatan Israel yang tidak tahu malu perlu diuraikan agar semua manusia paham bagimana kejahatan mereka.

Selama lebih dari delapan tahun, penduduk Gaza dari 1,8 juta telah mengalami pengepungan kejam. Pada saat 'damai' kebutuhan dasar seperti gandum, biji-bijian dan susu bubuk untuk anak-anak harus diselundupkan melalui terowongan. Dan ketika perang dikumandangkan, anak-anak, perempuan, orang tua dan masyarakat sipil yang lain menjadi sasaran target oleh pesawat tempur Israel. Rumah-rumah bahkan rumah sakit Al-Wafa dihancurkan dengan biadab hingga stafnya harus pontang-panting menyelamatkan para pasien dan diri mereka [2]
Sementara, ketika dunia dicekam kengerian atas kebrutalan Israel yang tak bertepi, media Barat justru membenarkan dan menganggap rasional aksi barbarisme Israel. Zionis yang didukung oleh konglomerat media melukiskan dirinya adalah orang-orang yang tidak bersalah, cinta damai yang dikelilingi oleh orang-orang Arab yang barbar dan haus darah. “Israel punya hak mempertahankan diri” demikian yang selalu disuarakan pelbagai media dan politisi dari waktu ke waktu.

Bahkan, seringkali perlawanan bangsa Palestina dicap sebagai aksi terorisme. Pada titik yang obyektif, konflik Gaza dan Israel bisa jadi keduanya bersalah. Berikut adaah tujuh kebohongan yang akut tentang konflik Gaza yang beredar di media dan boneka politik Israel. Sebuah kebenaran yang sering dibaikan.

1. Israel adalah korban

Pembaca yang cerdas akan melihat bahwa kebohongan beredar di sekitar konflik Palestina-Israel cenderung mengikuti t narasi yang dikembangkan Israel. Narasi ini mencerminkan bagaimana negara Israel ingin dilihat, dan opini mereka dibentuk oleh kampanye yang emosional ketimbang data yang faktual. Salah satu tema utama dari opini yang ingin diamini oleh mereka, bahwa“Israel adalah korban. "

Israel secara konsisten digambarkan sebagai daerah kantong tunggal demokrasi di Timur Tengah; bangsa beradab yang dikelilingi segala arah oleh musuh tanpa ampun yang membenci kebebasan dan rasionalitas. Dan oleh karena itu Israel mendapat dukungan. Isarel menerima ‘bantuan’ miliaran dolar dari seluruh dunia, amunisi tak berujung dan senjata dari Amerika Serikat dan lain-lain, belum lagi dukungan moral bagi kejahatan mereka terhadap kemanusiaan dari media global dan politisi.


Sementara Palestina dan Gaza pada umumnya menikmati dukungan politik yang kecil. Bahkan Gaza diisolasi oleh Isarel dan Mesir yang tidak membiarkan mereka mendapakan akses kebutuhan makanan dan lain sebaginya.

Israel dilengkapi dengan pelbagai senjata canggih, tank, artileri, pesawat pembom, pesawat tempur, pesawat tanpa awak, rudal, roket, kapal perang dan persenjataan nuklir. Mayoritas Palestina tidak bersenjata, kecuali pejuang di Gaza yang hanya dilengkapi dengan AK47s era perang dingin dan senjata apa pun yang dapat mereka kembangkan di rumah mereka yang mereka selundupkan melalui terowongan atau mendapatkan dari pampasan perang.

Selain itu, Israel juga menggunakan bom yang dipandu laser dan artileri canggih untuk sengaja menysasarkan dan menghancurkan instalasi sipil yang tak terhitung jumlahnya dan meninggalkan anak-anak, perempuan, rumah sakit dan sekolah sebagai puing-puing yang membara.  Namun, Mujahidin, di sisi lain, hanya menyerang pos-pos militer dan personilnya. Mereka meluncurkan roket buatan sendiri yang tidak pernah sampai sasaran karena rudak penangkal Isarel.

Israel bukan korban. Konflik antara Gaza dan Israel adalah cerita David vs Goliath. dalam metafora ini, Israel adalah Goliath. Israel adalah 'kekuatan militer terkuat di Timur Tengah, itu faktanya,"[3] kekuatan yang melakukan teror, intimidasi dan menindas.

2. Palestina ingin membunuh semua Yahudi


Dengan mereduksi  keluhan warga Palestina untuk kebencian rasial yang irasional, media pro-Israel dan politisi mengabaikan hak-hak Palestina, klaim legitimasi mereka atas tanah mereka dan bahkan hak mereka untuk membela diri.

Sebelum keberadaan Israel, Yahudi di Eropa telah mengalami penganiayaan. Namun di bawah pemerintahan Ottoman, Islam, Kristen dan Yahudi hidup bersama dengan damai selama beberapa abad. [4] Berbeda dengan komunitas Yahudi di Bizantium atau Spanyol, orang-orang Yahudi yang tinggal di antara umat Islam mampu mengatur diri mereka sendiri dengan hukum mereka sendiri. [5] Selama penaklukan Sapnyol,  Andalusia, Kekaisaran Ottoman menjadi tempat yang aman bagi orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari penganiayaan. [6]

Di Eropa anti-Semitisme sempat marak dan Yahudi sering dianiaya seperti halnya Palestina dan Muslim hari ini. Pada akhir abad ke-19 Theodor Herzl memunculkan 'Negara Yahudi' dan mengusulkan pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina sehingga Yahudi bisa menemukan tempat berlindung di bawah Kekaisaran Ottoman "jauh dari anti-Semitisme di Eropa." [7] Kebencian Eropa memuncak dengan peristiwa Holocaust dan pembunuhan jutaan orang Yahudi, sementara Eropa menutup mata. Hari ini kesalahan itu tersimpan sebagai kejahatan masa lalu.

Bahkan sekarang, setelah pembentukan yang disebut 'negara Yahudi', yang kemudian merebut tanah Palestina, dan melakukan penindasan dan pembersihan etnis rakyatnya, Palestina bertahan bahwa perlawanan militer mereka kepada Israel adalah untuk kebebasan dan keamanan rakyat mereka, bukan isu kebencian rasial.

Sebelum terbunuh pada usia 67, pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin rahimahu Allah berkata, "Kami hanya meminta hak kami, tidak lebih. Kami tidak membenci orang-orang Yahudi atau melawan orang-orang Yahudi karena mereka Yahudi. Yahudi adalah agama dan kami adalah orang-orang dari agama, dan kita mengasihi semua orang dari agama ... Kami mencintai semua orang bahkan orang-orang Yahudi, dan kami berharap orang-orang Yahudi dalam keadaan yang baik. Orang-orang Yahudi tinggal bersama kami selama bertahun-tahun dan kami tidak pernah melanggar terhadap hak-hak mereka. "[8]

Setelah pemboman Israel di Gaza pada tahun 2012, 'kepala biro politik Hamas Khaled Meshaal menegaskan kembali Hamas ' siap untuk ‘gencatan senjata jangka panjang’, meskipun telah hancur, asalkan Israel mengakhiri pendudukan di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza, dengan kata lain, bahwa Hamas mematuhi hukum internasional. [9] Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa Hamas"siap untuk menggunakan cara damai, murni cara damai tanpa darah dan senjata." Bahkan sekarang pun Meshaal siap untuk gencatan senjata segera dengan Israel jika pengepungan di Gaza dibebaskan. [10]

Sementara itu, Israel melancarkan tuduhan palsu bahwa rakyat Palestina mneyebarkan kebencian rasial kepada Israel dan pendukungnya dan mengelak dari tuduhan melakukan kejahatan perang, pembersihan etnis dan apartheid, sambil merendahkan integritas Palestina.

back to top