Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

7 juta orang mati akibat polusi

7 juta orang mati akibat polusi

London-KoPi, Sekitar 7 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat polusi udara pada tahun 2012, menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, yang dirilis pada hari Selasa (25/3/2014).

Laporan itu mengatakan 7 juta orang meninggal, satu per delapan dari total kematian secara global menegaskan bahwa polusi udara sekarang merupakan risiko kesehatan lingkungan tunggal terbesar di dunia, dan mengurangi polusi udara bisa menyelamatkan jutaan nyawa.


Secara khusus, data baru menunjukkan hubungan yang kuat antara polusi in door (dalam ruangan) atau out door (di luar ruangan) dengan penyakit yang berhubungan dengan jantung, seperti stroke dan penyakit jantung iskemik. Selain itu juga ada hubungan yang kuat antara polusi udara dan kanker.


Laporan itu mengatakan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia Tenggara dan Pasifik Barat memiliki polusi udara yang berhubungan dengan kematian terbesar pada tahun 2012, dengan total 3,3 juta kematian terkait dengan polusi udara in door dan 2,6 juta kematian poluisi udara out door.


Menurut laporan itu, kematian karena polusi udara yang sifatnya out door, 40% penyakit jantung, dan 40 % stroke, 11 % penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), 6 % kanker paru-paru dan 3% adalah infeksi saluran pernafasan akut pada anak-anak.


Sementara proporsi penyakit yang sama yang disebabkan oleh polusi in door adalah 26 %, 34 %, 2 %, 6 % dan 12 %, masing-masing.


Setelah menganalisa faktor risiko dan mempertimbangkan revisi dalam metodologi, WHO memperkirakan polusi udara in door terkait dengan 4,3 juta kematian pada tahun 2012 terjadi di rumah tangga misalnya memasak dengan batubara, kayu dan biomassa kompor.


Dalam kasus polusi udara out door, WHO memperkirakan ada 3,7 juta kematian pada tahun 2012 baik dari perkotaan dan pedesaan di seluruh dunia.


Banyak orang yang terkena polusi udara baik in door dan outdoor. Karena tumpang tindih ini, maka total perkiraan sekitar 7 juta kematian terjadi pada tahun 2012.


"Membersihkan udara yang kita hirup bisa mencegah penyakit tidak menular serta mengurangi resiko penyakit di kalangan perempuan dan kelompok rentan, termasuk anak-anak dan orang tua," kata Flavia Bustreo, WHO Asisten Direktur Jenderal Keluarga, Perempuan dan Kesehatan Anak.


"Perempuan miskin dan anak-anak membayar harga yang berat dari polusi udara in door karena mereka menghabiskan lebih banyak waktu di rumah menghirup asap dari kompor yang bahannya batubara dan kayu masak," tambahnya.


"Resiko dari polusi udara sekarang jauh lebih besar dari pada yang diperkirakan sebelumnya, terutama untuk penyakit jantung dan stroke," kata Dr Maria Neira, Direktur Department WHO untuk Kesehatan Masyarakat, Lingkungan dan Sosial Penentu Kesehatan.


Akhir tahun ini, WHO akan merilis pedoman kualitas udara dalam ruangan pada penggunaanbahan bakar rumah tangga, serta data polusi in door atau pun out door di setiap Negara dan dampak kematiannya, ditambah data baru pengukuran kualitas udara di 1.600 kota dari seluruh wilayah di dunia.


(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhuanet

back to top