Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

67% calon kepala daerah incumbent, indikasi pengekalan kekuasaan

67% calon kepala daerah incumbent, indikasi pengekalan kekuasaan

Jogjakarta-KoPi| Mantan Komisioner KPK, Bambang Widjojanto menegaskan perlunya membangun kompetisi yang sehat terhadap pertarungan pilkada serentak Desember mendatang. Pasalnya dari 269 calon kepala daerah, sebanyak 170 orang merupakan calon incumbent.

"Yang mesti dibangun rakyat harus cerdas, sekarang 170 incumbent, sekitar 67% incumbent," kata Bambang Widjojanto seusai stadium general di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya tanggal 16 November 2015.

Prosentase calon incumbent 67% yang tinggi mengindikasikan peluang adanya pengekalan kekuasaan untuk menguasai daerah. Rakyat sebagai pemilih harus cermat memilih calon kepada daerah yang memiliki kejujuran dan komitmen mensejahterakan masyarakat.

Bambang menjabarkan tiga klasfikasi memilih kepada daerah, "Track recordnya jelas, jangan tidak dikenal tapi tiba-tiba maju (pilkada), lakukan check in punya afiliasi dengan masyarakat, mengetahui dasar kebutuhan mereka (masyarakat), mereka (calon kepala daerah) tidak bisa menjawab kebutuhan mereka ya tidak bisa dipilih," tambah Bambang.

Terlebih lagi massa pilkada merupakan massa rawan, Bambang menyarankan masyarakat secara aktif melakukan mekanisme kontrol. Melihat praktek manipulatif kerap dilakukan semasa pilkada.

"Ini harus ada mekanisme kontrol masyarakat, sehingga muncul activism voters, aktif cek mandat yang diberikannya," kata Bambang. |Winda Efanur FS|

back to top