Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

6 Tokoh hebat Nasrani inspiratif di Indonesia

6 Tokoh hebat Nasrani inspiratif di Indonesia

KoPi| Indonesia memiliki tidak saja kekayaan alam, tetapi tokoh-tokoh yang memberikan sumbangan besar bagi bangsa dan negara. Mereka lahir dan ditakdirkan menjadi pemimpin yang mampu menginspirasi masyarakat luas dengan pemikiran dan tindakannya. Diantara tokoh-tokoh itu lahir dari latar belakang yang berbeda, baik suku dan agamanya. Kali ini KoPi menyajikan 6 tokoh Nasrani inspiratif dan memberikan banyak sumbangan bagi bangsa dan negaranya. Tentu saja masih banyak tokoh lain selain 6 tokoh ini di Indonesia. Tokoh-tokoh dibawah ini hanya sebuah contoh dan bukan sebagai perangkingan.

1.Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun)

Rohaniawan kelahiran Ambarawa, Semarang, 6 Mei 1929 kesehariannya akrab disapa Romo Mangun. Dia merupakan Anak sulung dari 12 bersaudara pasangan Yulius Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Semenjak kecil Romo atau Mas Ta (nama kecil untuk Romo) tumbuh dalam lingkungan reliji di asrama Bruderan. Saat usia kanak-kanak dia pernah bermain menjadi imam sementara adik-adiknya menjadi umatnya. Ketika itu zaman sedang susah, dia pernah berkeliling menjual sabun batangan demi membantu orang tua. Atmosfer itulah yang membentuk kedisiplin, prihatin dan tanggung jawab dalam dirinya.

Pada usia mudanya, dia banyak terlibat kehidupan yang keras. Dia pernah menjadi Prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon V pada tahun 1945-1946 dan Kompi Zeni 1947-1948 Komando Seksi TP Brigade XVII. Kompi Kedu.  Selepas itu mulai aktivitas relijinya menjadi seorang Pastor tahun 1959-1999.

Selain aktif menjadi rohaniawan, dia juga dikenal sebagai penulis, budayawan, arsitek, dan aktivis pembela kaum kecil.  Dalam bidang sastra, dia banyak menelurkan karya essai dan novel. Salah satu novelnya yang terkenal ‘Burung-Burung Manyar’. Berkat keseriusannya buku ‘Buku Sastra dan Religiositas’ yang ditulisnya mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.

Dalam bidang arsitektur, dia dinobatkan bapak arsitektur modern Indonesia. Penghargaan Aga Khan Award pernah diterimanya apresiasi tertinggi atas karya arsitektural rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta.

Sementara ’teriakannya’ untuk orang miskin, dia suarakan melalui pendidikan. Dia membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar dan membangun SD bagi anak-anak korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.

Untuk pandangan hidup baginya terletak pada mendayagunakan barang yang terbuang  menjadi lebih bermanfaat. Dia juga lebih mementingkan proses yang baik daripada hasil yang baik tapi prosesnya buruk.

Dasar dalam Injil Lukas 15:1-7 (kalau ada orang mementingkan keuntungan/ hasil ‘bisnis’, ada domba seratus, hilang satu akan berkata:”Daripada mencari yang satu belum tentu ketemu sedangkan yang 99 bisa terlantar, ya lebih baik yang lebih banyak diprioritaskan. Tetapi sikap pastoral sejati akan berkata:”Yang 99 memang membutuhkan perhatian namun yang satu jauh lebih membutuhkan perhatian.”


2. Franz Magnis Suseno (Romo Magnis)

Franz Magnis-Suseno seorang rohaniawan Katolik dari Ordo Serikat Yesus (SJ). Pria 75 tahun ini datang ke Indonesia pada tahun 1961, selepas menyelesaikan S2 filsafat di Hochschule fur Philosophie di Pullach, Jerman.

Saat ini dia menjabatan sebagai direktur program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Buah karya pemikirannya diabadikan dalam buku 'Etika Politik' referensi mahasiwa Bukunya ilmu politik dan filsafat di Indonesia.

Romo Magnis terlihat concern pada budaya Jawa. Banyak karya tulis yang telah dituliskannya seperti 'Etika Jawa' ditulisnya setelah ia selesai menjalankan tahun sabbat di Paroki Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dia menulis sekitar 25 buku di bidang filsafat, etika, dan pandangan Jawa. Pada 2002, dia menerima gelar Doctor Honoris Causae dalam teologi dari Universitas Luzern di Swiss.

Untuk pandangan hidupnya, dia teguh menjalankan radikalisme iman. Radikalisme yang dia anut tidak meminggirkan keyakinan lain. Poin pentingnya, bagaimana membuat radikalisme itu terbuka dan toleran. Hal itulah yang mendorongnya menerima perspektif baru tentang Islam dari interaksi positifnya dengan Gus Dur dan Cak Nur.

3. MGR Albertus Soegijapranata

Lahir dari keturunan andi dalem kraton Surakarta menjadikannya mewarisi budaya kejawen. Dia lah MGR Albertus Soegijapranata atau dikenal Soegija. Awal karirnya dimulai tahun 1909, Soegijadiminta oleh Pr. Frans van Lith bergabung dengan Kolese Xaverius, sekolah Yesuit di Muntilan.

Di sana Soegija menjadi tertarik dengan agama Katolik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910. Pada tahun 1919 dia terbang ke Belanda untuk menjalani pendidikan biarawan Serikat Yesus. Tahun 1923 dia kembali ke tanah air tapi kemudian berangkat lagi Belanda tahun 1928 untuk belajar teologi dan menjadi pastor disana.

Pada tahun 1940 Soegijapranata dikonsentrasikan sebagai vikaris apostolik dari Vikariat Apostolik Semarang, yang baru didirikan. Di sana mendapatkan tantangan dari pemerintahan Jepang. Masa itu banyak gereja diambil alih dan pastor ditangkap atau dibunuh. Untungnya dia mampu melolosakan diri.

Dia dikenal sebagai imam Katolik pertama yang mengembangkan ajaran Katolik adat ketimuran. Ia menentang gereja identik dengan kolonial Belanda.

Selain rohaniawan, darah pejuang juga mengalir padanya. Sikap nasionalisme yang tinggi membuatnya begitu keras melawan Jepang. Dia menggunakan gereja sebagai markas.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan berkumandang. Dia mempinpin seremoni pengibaran bendara Merah Putih depan Gereja Gedangan, Semarang. Peran besar lain juga ditunjukannya, dia melindungi para pejuang merah putih ketika berkobar perang sengit dengan pasukan sekutu dan Belanda. Saat pemerintahan pindah ke Yogyakarta, Soegija pun pindah ke Gereja Santo Yoseph di Bintaran, Yogya, agar lebih mudah berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

Di kala situasi genting itu, dia senantiasa menghidupakan iman umat Katholik agar terus berjaung mempertahankan kemrdekaan Indonesia.

4. Ignatius Joseph Kasimo

Pria  kelahiran pada tahun 1900 seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa dan perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011 tanggal 7 November 2011. Pasca Indonesia merdeka sempat menududki jabatan menteri.

Semasa muda dia aktif  mengikuti Jong Java, organisasi pemuda yang berhaluan kebangsaan. Pada tahun 1923 dia mendirikan Pakempalen Politik Katholik Djawa berganti menjadi Persatuan Politik Katholik Djawa (PPKD). Sebagai ketua PPKD dia menggariskan asas perjuangan organisasi, pada pencapaian kemuliaan dan kehormatan bangsa.

Perjuangannya total ditempuh melalui politik. Pada tahun 1931 Kasimo menjadi anggota Volskraad. Dia menyampaikan pidato bahwa bangsa Indonesia berhak untuk memerintah diri sendiri, lepas dari kekuasaan Belanda. Dia mendukung Petisi Sutarjo (tahun 1936) dan Aksi Indonesia Berparlemen yang dicetuskan GAPI (tahun 1939).

Desember 1945-tahun 1960 ia memimpin Partai Katholik Republik Indonesia (PKRI). Dalam bidang pemerintahan beberapa kali ia menjadi menteri, yakni Menteri Muda Kemakmuran, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dan terakhir Menteri Perekonomian. Selain itu ia juga duduk sebagai anggota KNIP, DPR-RIS, Konstituante dan DPA.

Ketika Agresi Militer Belenda meletus, dia turun berjuang turut bergerilya. Dia berperan menjadi media komunikasi dengan Pemerintah Darurat RI (PDRI) di Sumatera.

Dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, dia menjadi mediasi antara Indonesia dengan Belanda. Berungkali dia menyurati Parlemen Belanda untuk mengubah sikap mereka. Alhasil Belanda menyetujui usul Elsworth Bunker mengenai penyelesaian sengketa antara Indonesia dan Belanda tentang status Irian Barat.

Selain focus politik, masalh pertanian turut menjadi perhatiannya. Dia mengeluarkan ‘Kasimo Plan’ pada tahun 1948 yang bertujuan peningkatan produksi pangan dengan cara melakukan intensifikasi dan eksentifikasi pertanian. 

Ketika menjabat Kepala Jawatan Pertanian Pusat tahun 1951-1954. Dia mengeluarkan regulasi memotong kapitalisme tebu. Proses tenam hingga penjualan tebu ke pabrik gula berlandaskan pada kontrak. Sebelumnya, tanah rakyat disewa oleh pabrik gula dan rakyat disuruh menanaminya dengan menerima upah. Peraturan ini cukup menguntungkan rakyat dan karena itu Kasimo digelari Bapak Tebu Rakyat.

5. Romo Shindunata

Bernama lengkap Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J.  atau lebih dikenal dengan nama pena Sindhunata. Pria kelahiran Kota Batu, Jawa Timur 12 Mei 1952 adalah seorang imam Katolik yang memiliki dedikasi tinggi untuk umat. Termasuk anggota Yesuit, readkstur majalah kebudayaan "BASIS".

Perjalanan karirnya berawal wartawan Harian Kompas, cenderung menulis tentang sepak bola, dan masalah kebudayaan. Namun Sindhunata mungkin lebih dikenal sebagai penulis. Novelnya yang terkenal adalah "Anak Bajang Menggiring Angin" tahun 1983, yang diterbitkan oleh Gramedia.

Dirinya seorang pemerhati seni dan kebudayaan. Beberapa organisasi didirikan seperti komunitas "PANGOENTJI" (Pagoejoeban Ngoendjoek Tjioe, BI: Paguyuban Minum Ciu) dan Rumah Petroek.

Ada kumpulan puisinya"Air Kata-Kata" yang digubah oleh musisi Jawa, yang berjudul "Cintamu Sepahit Topi Miring" yang di buat oleh group rapper asal jogja, Jahanam. Lirik-liriknya yang menokohkan tokoh pewayangan ini penuh makna tentang kehidupan yang bagus untuk kita resapi. Kini pria 62 tahun ini menetap di Kolese Santo Ignatius, Kotabaru, Yogyakarta. Romo Sindunata juga menulis banyak karya sastra lain dan kebudayaan.

6. Richardus Kardis Sandjaja

Seorang Romo kelahiran di Desa Sedan, Muntilan, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh misionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik.

Saat masih kecil Romo dikenal anak yang cerdas di kalangan para bruder. Sikap hidupnya sangat sederhana rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Dia rajin menghadiri misa gereja. Hingga ketika duduk di sekolah dasar timbul keinginan menjadi seorang imam.

Tumbuh di masa paska kemerdekaan membuatnya terjun mempertahankan kemerdekaan. Hingga peristiwa naas menimpanya. Saat usia 34 tahun dirinya terbunuh akibat kesalahpahaman dari pihak pemuda yang menganggap dirinya mitra Belanda.

Gugurnya Romo Sandjaja menjadi simbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, dan kesetiaan bagi umat Katolik.

Semas menjadi imam kiprahya Sandjaja mendapat banyak kesulitan karena situasi perang. Namun dirinya berserah pada kekuasaan ilahi. Dia tetap tabah beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Dibalik kepahitan itu, dia tetap berlaku bijaksana. Dia justru aktif menjalin komunikasi dengan (penjajah) Belanda.

Tak sampai itu, kerikil tajam juga menghampiri semasa penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Terpaksa Romo Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi.

Usainya proklamasi kemrdekaan, tepatnya tahun 1948 Romo membangun kembali gerejanya. Dan dirinya terpilih menjadi dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan.
Namun tak lama berselang, 20 Desember 1948 nasib berkata lain. Situasi was-was revolusi kemerdekaan Indonesia menimbulkan kecurigaan di kalangan pemuda terhadap para Pastor. Delapan pemuda itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka diinterogasi, lalu dibunuh di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Baru pemakaman secara khidmat dilakukan oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926. |Winda Efanur FS|Dari berbagai sumber

back to top