Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

3 Kendala Pemberantasan Narkoba

3 Kendala Pemberantasan Narkoba

Winda Efanur FS


Yogyakarta-KoPi, Sebanyak 3,2 juta penduduk Indonesia menjadi korban narkoba. Mayoritas diantaranya generasi muda. Sebanyak 15.000 orang meninggal akibat miras dan narkoba rata-rata 35-40 orang setiap harinya.(16/8).

Data BNNP DIY menunjukan jumlah pengguna narkoba DIY mencapai 69.000 orang atau sekitar 2,8 %. Tingginya jumlah itu baru tertampung oleh 15 IPWL yang ada. Bahkan akumulasi IPWL hanya mampu menampung 300 orang. Sangat jauh dari jumlah pengguna.

Menurut ketua Komite II Keperawatan RSJ Grhasia, Arwanto, S.ST mengatakan tiga persoalan mendasar mengenai pemberantasan narkoba. Pertama, minimnya kesadaran melapor para pengguna narkoba. Padahal dengan melapor dapat mempermudah dan mempercepat penyembuhan. Selain itu mempermudah bila berhubungan dengan hukukm. Kedua, kebanyakan pasien terlambat berobat. Pasien telah mengalami dual diagnosis yang berindikasi sakit jiwa. Ketiga, kendala dana.

“Pasien yang datang, sudah habis duit banyak. Karena efek narkoba kena sakit komplikasi gagal ginjal,jantung itu membutuhkan biaya banyak dan seharusnya pemerintah menggratiskan,anggarannya”, kata Arwanto.

Bantuan kesehatan yang dicanangkan pemerintah seperti jamkesmas pada tahun 2012 mengakomodir biaya perawatan pasien NAPZA. Namun dengan program baru BPJS tidak ada anggran untuk pasien NAPZA.

 

 

 

back to top