Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

3 Kendala Pemberantasan Narkoba

3 Kendala Pemberantasan Narkoba

Winda Efanur FS


Yogyakarta-KoPi, Sebanyak 3,2 juta penduduk Indonesia menjadi korban narkoba. Mayoritas diantaranya generasi muda. Sebanyak 15.000 orang meninggal akibat miras dan narkoba rata-rata 35-40 orang setiap harinya.(16/8).

Data BNNP DIY menunjukan jumlah pengguna narkoba DIY mencapai 69.000 orang atau sekitar 2,8 %. Tingginya jumlah itu baru tertampung oleh 15 IPWL yang ada. Bahkan akumulasi IPWL hanya mampu menampung 300 orang. Sangat jauh dari jumlah pengguna.

Menurut ketua Komite II Keperawatan RSJ Grhasia, Arwanto, S.ST mengatakan tiga persoalan mendasar mengenai pemberantasan narkoba. Pertama, minimnya kesadaran melapor para pengguna narkoba. Padahal dengan melapor dapat mempermudah dan mempercepat penyembuhan. Selain itu mempermudah bila berhubungan dengan hukukm. Kedua, kebanyakan pasien terlambat berobat. Pasien telah mengalami dual diagnosis yang berindikasi sakit jiwa. Ketiga, kendala dana.

“Pasien yang datang, sudah habis duit banyak. Karena efek narkoba kena sakit komplikasi gagal ginjal,jantung itu membutuhkan biaya banyak dan seharusnya pemerintah menggratiskan,anggarannya”, kata Arwanto.

Bantuan kesehatan yang dicanangkan pemerintah seperti jamkesmas pada tahun 2012 mengakomodir biaya perawatan pasien NAPZA. Namun dengan program baru BPJS tidak ada anggran untuk pasien NAPZA.

 

 

 

back to top