Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

22 tahun pria ini membelah gunung sendirian hanya dengan palu dan pasak

22 tahun pria ini membelah gunung sendirian hanya dengan palu dan pasak
KoPi | Kesabaran seseorang mampu menggerakkan gunung. Namun untuk Dashrath Manjhi, ia tidak hanya menggerakkan gunung, ia justru membelah gunung itu sendiri.
 

Manjhi merupakan seorang petani miskin di salah satu desa di distrik Bihar, India. Desanya yang dikelilingi gunung batu terisolasi dari desa-desa lain. Akibatnya, banyak warga desa yang tidak mendapat akses untuk pendidikan dan kesehatan. Untuk menuju desa lain, warga harus berjalan memutari gunung, yang perjalanannya membutuhkan waktu lama dan penuh bahaya.

Prihatin karena masalah itu, Manjhi akhirnya memutuskan untuk memotong gunung dan membuat jalan untuk menuju desa lain. Dan ia melakukannya seorang diri, hanya dengan sebuah palu besar dan tiga pasak. Selama 22 tahun, Manjhi sedikit demi sedikit memahat batu-batu gunung dan akhirnya membuka jalan menembus gunung.

Ia nekad melakukan pekerjaan berat tersebut seorang diri setelah sebuah kejadian menimpa istrinya. Suatu hari istrinya hendak mengantarkan makanan untuk Manjhi yang sedang menebang pohon di sisi lain gunung. Namun di tengah jalan istri Manjhi terperosok dan terluka, serta gentong tempatnya membawa makanan pecah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Manjhi merasa marah pada gunung yang menghalangi menutup desanya.

“Jadi ayah saya menjual tiga ekor kambing miliknya dan menukarnya dengan sebuah palu besar dan tiga buah pasak. Ia memutuskan untuk memotong gunung tersebut,” ungkap putra Manjhi.

Orang-orang desa menganggap Manjhi sudah gila dan mencemoohnya. Namun Manjhi tidak ambil pusing dan terus memahat gunung tersebut. Untuk menghidupi keluarganya, Manjhi membajak sawah orang lain mulai pukul 8 pagi hingga 1 siang. Ia memahat gunung tersebut di waktu lainnya, yaitu mulai pukul 4 pagi hingga 8 pagi, dan pukul 1 siang hingga malam hari.

Para tetangganya mengatakan Manjhi akan mati sebelum ia mampu menembus gunung tersebut. namun Manjhi menegaskan pada mereka ia tak akan mati dan ia akan mengangkat nasib banyak orang. “Pertama ia akan mengangkat nasib orangtuanya, lalu desanya, lalu seluruh daerah ini,” ungkap Dahu Manjhi, keponakan Dashrath Manjhi.

Manjhi meninggal tahun 2007 lalu. Namun ia berhasil mewujudkan impiannya, membuat jalan tembus ke gunung. Ia membelah gunung setinggi 75 meter, dan membuka jalan sepanjang 1 km lebih. Orang-orang yang dulu mencemoohnya, kini memuja dan meneruskan pekerjaan Manjhi. Kini, penduduk desa mampu mengakses pendidikan dan kesehatan, serta memperoleh peluang hidup baru.

Sahabat Manjhi, R.C. Prasad, mendirikan yayasan sosial atas namanya untuk memberikan pendidikan dan keterampilan bagi anak-anak, terutama perempuan. | Upworthy.com, Youtube

Media

back to top