Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Transformasi Tubuh di Asia

Drawing by Nurul Hayat (Acil) Drawing by Nurul Hayat (Acil)

Pengantar: Pasar Tubuh

Sebagaimana yang seringkali terbayang dalam imajinasi kolektif, pasar merupakan tempat terjadinya transaksi ekonomi antara produsen dan konsumen. Berbagai produk untuk pemenuhan kebutuhan hidup tersedia di pasar. Tetapi, konsep pasar tradisional ini mengalami perkembangannya dalam masyarakat modern.

Pasar bukan lagi terkait dengan proses transaksi produk, melainkan juga jasa atau pelayanan (service) yang sifatnya inmaterial dan biasanya sering diikuti ataupun dilengkapi dengan syarat administrasi tertentu. Titik tolaknya kesuksesan pasar yang demikian ini diukur atas seberapa besar kualitas tingkat kepuasan para konsumen dan pelanggannya. Salah satu pasar yang mulai marak belakangan ini dan terkadang luput dari pandangan banyak orang adalah tubuh.

Tubuh dalam masyarakat kontemporer sekarang ini menjelma menjadi komoditas yang potensial. Tubuh dengan mudahnya ditransaksikan antara mereka yang memiliki tubuh (pemilik tubuh) dan para agen modifikasi tubuh. Ketika tubuh manusia menjadi bagian dari mekanisme pasar, maka tubuh sebagai modal utama dari esensi keberadaan seseorang telah kehilangan otentisitasnya.

Manusia tampaknya benar-benar “mati”, baik secara simbolik dan eksistensial. Di buku Madam Sarup (Postrukturalisme dan Posmodernisme, 2008), diungkap bahwa menurut kalangan posmodernis manusia telah “mati” karena  efek kuasa wacana. Jika ini benar adanya, maka dengan maraknya pasar berbasis tubuh tentunya manusia mengalami kondisi “kematiannya untuk kesekian kalinya”. Tubuh mengalami praktik “pembunuhan massal” meskipun pemiliknya menikmatinya.

Menurut buku Ardhie Raditya (Sosiologi Tubuh, 2014), setidaknya ada tiga dimensi yang menyebabkan tubuh manusia itu terlepas dari kepemilikan subjeknya, sehingga mudah dijadikan alat perdagangan. Pertama, ideologi kapitalisme. Salah satu semangat kapitalisme adalah bagaimana usaha para pemodal selalu mencari celah menciptakan kebutuhan palsu  bagi masyarakat agar mekanisme pasar terus bekerja dan menghasilkan profit bagi dirinya.

Kedua, perubahan peranan teknologi.Teknologi yang mulanya berfungsi sebagai alat bantu aktivitas kehidupan manusia, dalam perkembangannya kini menjelma sebagai alat pengontrol kehidupan manusia. Manusia menjadi tergantung pada peran-peran teknologi.

Ketiga, media massa. Media bukan lagi sebagai alat informasi, tetapi telah berubah menjadi agen ideologis para pemilik modal yang berkepentingan menghegemoni kesadaran para penontonnya untuk mengkomsunsi nilai simbolik dan kebutuhan palsu dari produk yang sedang disebarkan.

Tulisan bung Rokib (begitu kami akrab menyapanya) kali ini sangat perlu mendapat perhatian yang serius dari para penikmat Antitesis KoPi. Bukan karena tulisannya disarikan dari kunjungan akademiknya dan materi presentasinya di panggung akademik berkaliber  internasional, melainkan lebih sebagai peringatan keras kepada masyarakat Indonesia pada khususnya agar mereka tetap menjaga sikap kritisnya dengan berbagai praktik budaya memodifikasi tubuh yang bernilai prestisius bagi harga diri konsumennya.

Kita patut curiga: jangan-jangan apa yang dianggap bernilai bagi tubuh hanyalah bahasa lain dari kesuksesan para agen-agen kapitalisme merampas hak milik manusia akan tubuhnya. Selamat membaca sobat antitesis!   

   
Tubuh manusia selalu menjadi obyek penjelmaan. Nyaris setiap manusia selalu ingin memodifikasi tubuh mereka untuk menjelma sesuai keinginannya. Penjelmaan itu dapat kita saksikan, misalnya, dari yang biasa menjadi cantik, yang sawo matang menjadi bening, yang normal menjadi sangar (bertato), dan yang lemah menjadi kuat.

Hampir bisa dipastikan bahwa keinginan memodifikasi tubuh menjadi sedemikian rupa tidak melulu datang dari diri sendiri, tetapi seringkali didorong oleh trend, gaya hidup, dan profesi. Di Asia, tren untuk mengubah warna kulit asli agar menjelma menjadi bening dan mulus telah menggejala. Kemunculan penerimaan budaya populer Korea (K-Pop) di berbagai pelosok Asia juga menandai bagaimana ideal tubuh ala para bintang Korea menjadi pilihan. Ini tentunya di samping alasan tuntutan profesi yang harus selalu tampil cantik atau kuat, juga adanya tuntutan identitas dan alasan kesehatan yang perlu memasang alat tertentu di dalam tubuh.

Urgensi Kajian Akademik Tentang Tubuh

Sebagai upaya membingkai secara akademis tentang persoalan tubuh itu, Universitas Leiden (Belanda) bekerjasama dengan Universitas Walailak (Thailand), International Institute for Asian Studies (IIAS), dan sejumlah lembaga lain mengadakan konferensi international tentang penjelmaan tubuh di Asia.

Terdapat sekitar dua puluh peneliti yang berasal dari berbagai kampus di Asia, Australia, Eropa dan Amerika telah mendiskusikan hasil riset di beberapa Negara di Asia. Konferensi yang mengusung tema “Transformed Bodies: Cosmetic Surgery, Tattooing, and Body Modification in Asia” ini berlangsung selama empat hari di akhir bulan Januari 2015. Dokumentasinya dapat dilihat dalam sebuah blog beralamat di https://bodiestransform2015.files.wordpress.com.

Terdapat empat sesi yang menampilkan sekitar lima presenter di masing-masing sesi. Pada sesi pertama, pembahasan difokuskan untuk melihat penjelmaan tubuh yang ada dalam masyarakat Muslim Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Thailand. Forum ini mendiskusikan bagaimana respons dan praktik masyarakat Muslim terhadap modifikasi tubuh seperti tato dan sunat.

Dari hasil pemaparan hasil pemikiran dan penelitian yang disajikan, dapat dikatakan bahwa masyarakat Muslim masih menunjukkan perdebatan tentang hukum mengubah tubuh ciptaan Tuhan. Namun, dalam praktik keseharian, mayoritas masyarakat Muslim Asia Tenggara cenderung menerima kelompok tertentu seperti komunitas punk yang bertato.

Dalam praktik berbeda, modifikasi tubuh dalam wujud pemotongan bagian tertentu dari kelamin menjadi keharusan dalam masyarakat Muslim yang kerap dirayakan dengan ritual kolektif.Terkait dengan munculnya gejala operasi plastik dan pemutih kulit, beberapa peneliti mengungkap bagaimana tren masa kini telah mendorong sebagian besar pekerja professional di kota-kota metropolis untuk menjelmakan tubuhnya menjadi menarik. Masyarakat Korea, China, Jepang, dan Thailand cenderung menjadikan modifikasi tubuh sebagai kebutuhan harian untuk kepentingan profesi.

Riset Dredge Kang, misalnya, mengulas begitu pentingnya memiliki kulit putih dan tubuh ideal bagi komunitas tertentu untuk menunjang profesi mereka. Wen Hua menelisik bagimana popularitas operasi plastik dan pertumbuhan produk kosmetik untuk para pria di China. Rupanya, produk kosmetik yang dijajakan di pasaran dan iklan televisi menampilkan para pria sebagai ikon kecantikan.Yang sangat menarik adalah temuan Joanna tentang budaya cantik dan operasi plastik masyarakat Korea yang ingin merubah bentuk maupun warna kulit menjadi mulus dan bersih, baik bagi perempuan maupun lelaki.

Dua sesi berikutnya meneroka fenomena injeksi vitamin C untuk kulit bening, suplemen penguat keperkasaan, evolusi praktik tato, dan negosiasi desain tato. Mencipta kulit agar menjelma sesuai keinginan nyatanya tidak hanya dilakukan oleh para perkerja muda profesional, melainkan juga para lanjut usia yang ingin menarik perhatian anak cucu mereka. Selain itu, keinginan performa yang prima antar pasangan dalam menjalin cinta pun menarik berbagai produk vitalitas pria dan wanita. Konsumsi produk vitalitas menandai bagaimana masyarakat berupaya menjelmakan realitas tubuh mereka menjadi ideal.

Hasrat Modifikasi Tubuh  

Dari sekitan kertas kerja hasil penelitian yang ditemukan oleh para peneliti, tersirat bagaimana masyarakat Asia memiliki hasrat untuk tampil di luar keadaan yang sebenarnya. Imajinasi untuk mengubah diri menjelma menjadi menarik tanpa sadar telah dikendalikan oleh citra kecantikan yang digulirkan oleh tren melalui promosi produk tertentu di berbagai media, seperti Koran, majalah, dan layar kaca.

Apa sebenarnya makna dari kuatnya hasrat masyarakat Asia untuk menjelmakan diri dengan memodifikasi tubuh sedemikian rupa?

Kecenderungan gejala tersebut ternyata cenderung didasari oleh citra cantik dan menarik yang dialamatkan oleh media yang dominan sejak sekian lama. Sadar atau tidak, perjumpaan masyarakat Asia dengan Eropa (lewat kolonialisasi) yang diasumsikan bening dan bersih telah membentuk persepsi dan imajinasi bahwa putih itu cantik dalam konstruksi orang Asia. Ini tentu tidak bisa dikatakan alami karena peran-peran media yang sejak lama didominasi oleh performa orang Eropa membentuk citra cantik dan menarik. Pada gilirannya, berbondong-bondong orang yang ingin memodifikasi kulit dan tubuhnya menjadi ideal cantik ala eropa.

Apa yang menggejala pada masyarakat Asia hari ini tidak ubahnya turunan dari gaya hidup dan tren yang berkembang dari budaya luar yang terus mengalami pengembangan. Tidak bisa dinafikan bahwa peran kepentingan ekonomi yang tercermin dalam iklan produk tertentu menjadikan tubuh sebagai ikon utama. Ardhie Raditya dalam Sosiologi Tubuh (2014) telah berusaha membentang berbagai praktik eksploitasi tubuh manusia yang menghadirkan berbagai kasus manipulasi para pemilik tubuh atas godaan produk kapitalisme dan teknologi global yang telah merambah ke dalam aras lokal.

Praktik-praktik masyarakat atas tubuh yang merasa dimiliknya tersebut menunjukkan betapa tubuh telah menjadi barang dagangan atau komoditas yang laku di pasaran. Banyak orang mungkin belum memahami bagaimana tubuh dijadikan sebagai komoditi demi meraih keuntungan sebesar-besarnya kelompok dominan tertentu. Bila diperhatikan secara seksama, praktik modifikasi tubuh seperti operasi plastik, pemutih kulit, sedot lemak, hingga salon kecantikan tidak akan berjalan jika tidak melibatkan tubuh.

Pemilik tubuh sejatinya tidak benar-benar memilikinya karena sudah dikuasai dan dipermainkan oleh para pemilik modal. Dengan kemasan dan cara-cara yang menggiurkan, pemilik tubuh terlibat dalam konsumsi produk tertentu yang sebetulnya menukar tubuhnya dengan produk tersebut. Yang sebenarnya bahan utamanya bukanlah produk, tetapi tubuh itu sendiri, karena tanpa tubuh sebuah produk tidak berarti apapun.

back to top
BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Remaja dalam pusaran pelecehan seksual

Merebaknya kejahatan seksual, ternyata belum sepenuhnya bisa...